x

Mimpi-Mimpi Tevez Bersama Argentina di Copa America 2015

Minggu, 14 Juni 2015 00:55 WIB
Editor: Ramadhan

Tahun ini, Carlos Tevez kembali dipanggil negaranya, Argentina untuk berlaga di pentas Copa America 2015 di Chile. Setelah lebih dari 3 tahun tak berlaga di pentas internasional bersama La Albiceleste, kali ini Tevez bertekad memberikan yang terbaik.

Copa America tak pernah berakhir indah bagi Carlos Tevez, namun kembalinya Tevez ke skuad Argentina, bisa memulai lagi semangatnya untuk menghadirkan prestasi. Tevez mengakui bahwa ia akan menikmati setiap menit bermain bersama Argentina.

Tevez mengakui bahwa ia kini sudah jauh lebih matang dari sebelumnya. Ia pun akan berjuang habis-habisan demi membawa kejayaan bagi Argentina.

Menarik menanti aksi Tevez lagi bersama Argentina saat melawan Paraguay di laga pertama grup B. Jelang menjalani laga emosionalnya, INDOSPORT coba mengulas cerita berliku Carlos Tevez bersama Argentina.


1. Kegagalan Copa America 2011

Tevez adalah satu-satunya pemain dari kedua tim yang gagal mengeksekusi tendangan penalti saat Argentina kalah dari Uruguay di perempat final Copa America 2011. Hasil itu adalah kekecewaan besar.

Malam itu, di Santa Fe adalah situasi yang lebih buruk lagi bagi Tevez sendiri karena itu adalah awal dari masa istirahatnya di pentas internasional.

Tevez tidak pernah dipilih oleh pelatih Alejandro Sabella untuk memperkuat Argentina dan Tevez pun tak pernah dipanggil timnas Argentina hingga akhir tahun lalu di bawah pelatih Gerardo Martino yang melatih Lionel Messi dan kawan-kawan saat ini.

Dikalahkan, dibuang dan merasa kecewa, Tevez tentu sangat merindukan laga bersama Argentina. Tevez bahkan disebut sebagai pemain rakyat.

“Sepakbola membosankan saya lebih dari julukan itu. Pada suatu waktu, saya lebih bosan dengan itu dari pada apa panggilan orang tentang saya. Bermain sepakbola terlalu banyak tentu akan membosankan anda. Ada saatnya ketika tanpa istirahat, anda merasa bosan,” ungkap Tevez seperti dilansir situs resmi Copa America.


2. Kebangkitan Tevez

Meski sudah bertahun-tahun tak pernah memperkuat Argentina, lantas tak membuat penampilan Tevez menurun. Bersama Juventus, Tevez tampil luar biasa dan berhasil menyumbangkan sederet gelar baik di pentas Serie A dan Coppa Italia.

Terakhir, Tevez sukses mengantarkan Juventus ke laga final Liga Champions musim 2014/15 di Berlin. Tevez benar-benar pemain yang berbeda dan terus termotivasi untuk membuktikan kepada banyak orang bahwa ia pantas masuk skuad utama Argentina.

“Saya sekarang berusia 31 tahun dan tidak lagi 20 tahun seperti waktu dulu. Sebelum saya berbicara, saya berpikir tentang banyak hal. Sebelumnya, saya berbicara tanpa mengetahui. Itu yang membuat saya lebih dewasa.”

“Ketika anda berada di tim nasional selama bertahun-tahun dan anda melihat begitu banyak hal, kadang-kadang anda justru tidak selalu menikmatinya. Tapi, yang telah pergi selama 4 tahun seperti saya, saya menyadari bahwa timnas adalah segalanya bagi pemain.”

“Ini hadiah untuk semua yang anda lakukan di klub di mana anda bermain. Merasa sangat nyaman sekarang. Hari ini adalah sesuatu, seperti yang saya katakan, bahwa anda akan sangat menikmati. Saya rindu ruang ganti. Saya merindukan teman-teman. Saya merindukan suasana ini.”

Meskipun Tevez sudah mengemas lebih dari 60 caps bersama Argentina antara tahun 2004 dan 2011, Tevez yakin bahwa ia akan memberikan lebih banyak hal untuk Argentina ketimbang kontribusinya di masa lalu.

“Sekarang, badan saya 8 kilo lebih ringan. Saya pikir saya lebih baik secara fisik, baik secara emosional dan lebih baik dalam hal sepakbola.”

“Saya lebih baik dari sebelumnya. Ketika anda merasa penting di klub anda, yang membuat anda merasa baik di dalam dan luar lapangan, saya percaya bahwa penampilan akan dibuktikan di atas lapangan.”


3. Mimpi Tevez untuk Argentina

Sebuah musim yang luar biasa dijalani Tevez bersama Juventus musim ini. Striker bertubuh gempal ini sukses mengantarkan Juventus meraih gelar Serie A dan Coppa Italia, sebelum akhirnya kalah dari Barcelona di laga final Liga Champions akhir pekan lalu di Berlin.

“Sebagai seorang anak, saya bermimpi menjadi Tevez. Saya berjuang untuk menjadi Tevez. Itu sangat sulit bagi saya untuk menjadi seperti saya yang ada hari ini.”

“Saya tidak akan menolak diri saya yang sekarang. Saya pikir, dengan menolak siapa saya, tentu hal itu akan tidak menghargai diri sendiri dan tidak berpikir tentang segala sesuatu yang saya lakukan untuk menjadi Tevez.”

“Saya suka semangat, para fans, segala sesuatu yang mengelilinginya. Saya menolak hal itu sebelumnya, tapi sekarang saya justru menikmatinya. Semuanya. Hari ke hari. Semuanya adalah mimpi.”

“Anda selalu harus bangun setiap pagi dengan mimpi dan mencoba untuk mencapainya. Jadi saya pikir bahwa segala sesuatu dalam sepakbola adalah mimpi. "

Mimpi buruk di Copa America 2011 dan kegagalannya masuk skuad utama Argentina setelah itu dalam bertahun-tahun lamanya, tak membuat Tevez jemawa dan merasa ada misi balas dendam.

“Saya tidak suka menyebutnya balas dendam. Tapi ya, itu adalah Copa America di mana anda memiliki kewajiban menjadi pesaing. Generasi pemain Argentina saat ini telah bersama-sama untuk waktu yang lama dan layak untuk memenangkan sesuatu.”

“Saya mewakili kelas bawah di Argentina. Orang-orang miskin. Anda harus memberikan segalanya yang terbaik di atas lapangan untuk mereka.”

“Mereka adalah orang-orang yang tidak boleh kita lupakan, karena mereka adalah orang-orang yang menerima sedikit bantuan. Tujuannya adalah untuk memberikan beberapa rasa suka cita kepada orang-orang itu.”

Tevez kini berubah menjadi pemain rakyat dan ia akan memulai babak baru bersama Argentina di Copa America 2015. Tevez bertekad untuk membuatnya bernilai.

ArgentinaCarlos TevezAlejandro SabellaGerardo MartinoCopa America 2015

Berita Terkini