x

6 Pesepakbola yang Aktif di Politik (Jilid II)

Selasa, 23 Juni 2015 23:40 WIB
Editor:

Bersumber pada buku berjudul, Guerra Futbolistica 'Political Footballers A First XI' kembali INDOSPORT ungkap beberapa pesepkbola yang aktif di dunia politik. 

Wajib Baca
4 Bek Incaran Manchester United Musim Panas Ini
6 Faktor Ramos dan De Gea Kian Dekat Bertukar Klub
5 Kegelisahan Ronaldo di Real Madrid Saat Ini
6 Pemain Terbaik yang Pernah Dihadapi Lionel Messi
4 Kasus Pengaturan Skor di Indonesia

Jika di  5 Pesepakbola Yang Aktif di Dunia Politik (Jilid I), mereka yang aktif di politik ini terdari dari kiper dan bek, kali ini edisi gelandang dan penyerang yang aktif dalam dunia politik. 

Berikut enam pesepakbola yang aktif di dunia politik: 

Baca Informasi Terkini Copa America 2015 di sini.

Baca Juga
Liga Indonesia | Liga Primer | Liga Champions | Bundesliga
La Liga | Serie A | Selebrita | Komunitas | Transfer Pemain


1. Paolo Sollier

Paolo Sollier ialah pesepakbola yang sempat bermain untuk Perugia di Serie A Italia era 60an. Sollier selain dikenal sebagai pesepakbola di Italia Selatan juga ialah seorang politikus. Ia lebih cenderung condong ke mazhab politik kiri. Ia juga disebut-sebut sebagai ikon kontra budaya dari sayap kiri kelompok komunis di Italia. 

Ia sempat mengatakan bahwa dirinya ialah pesepakbola dan kaum pekerja yang memperjuangkan hak-hak kaum pekerja. Di era perang Dunia II, Sollier menjadi pesepakbola yang menantang kaum fasis Italia pimpinan Benito Mussolini. 

Sepanjang karirnya sebagai pesepakbola, ia memang hanya membela klub-klub kecil di Italia Selatan seperti Pro Vercelli, Rimini dan Biellese. Di lapangan hijau, ia berposisi sebagai gelandang bertahan. Mazhab politiknya yang membuat ia tak pernah dipanggil timnas Italia, meski permainanya saat itu disebut-sebut terbaik di eranya. 


2. Zvonomir Boban

Bagi pecinta Serie A Italia era 90an dan fans AC Milan pasti tidak asing dengan nama Boban. Gelandang asal Kroasia ini ialah salah satu ikon Serie A era 90an. Permainan menawannya bersama AC Milan membuat klub tersebut menjadi salah satu klub terkuat di Italia dan Eropa. Lapangan tengah AC Milan kala itu menjadi hidup jika Boban bermain. Ia adalah pengatur ritme AC Milan. 

Salah satu pakar politik, Thomas Hobes pernah menulis bahwa kesadaran alami manusia akan terbentuk lewat suatu konflik, mungkin ini yang mengilhami Boban untuk menjadi salah satu pesepakbola yang aktif di dunia politik. 

Sebelum membela AC Milan, Boban ialah ikon bagi klub Dinamo Belgarde. Saat itu sepakbola Yugoslavia penuh dengan kebencian rasis. Klub terkuat disana saat itu, Red Star menjadi klub dan fans yang sering menebar kebencian tersebut. Boban menjadi salah satu penentangnya. Boban tertarik pada politik karena sering membaca buku, salah satu buku favoritnya berjudul ' The Little Prince' karangan Antione de Saint-Exupery. Usai pensiun dari sepakbola, ia melanjutkan kuliahnya di jurusan sejarah dan menulis tesis tentang Agama Kristen di Kekaisaran Romawi. 


3. Socrates

Seperti nama filsuf asal Yunani, Socrates asal Brasil ini juga memiliki kecenderungan sebagai tokoh pemikir selain sebagai pesepakbola. Socrates ialah gelandang tersukses untuk Corinthias, Fiorentina dan Brasil. Permainannya di lapangan tengah membuat klub dan negara yang ia bela menjadi lebih agresif. Se-agresif pemikirannya mengenai politik. 

Socrates ialah pesepakboal di eranya yang sangat menentang sistem otokratis yang ada di Brasil. Menurutnya sistem tersebut merusak segala sendi kehidupan termasuk sepakbola didalamnya. Gagasan politik Socrates tidak hanya ia tuangkan dalam bentuk tulisan namun dalam tindakan nyata.

Bersama dengan pesepakbola lain, Wladimir dan Walter Casagrande sukses mengubah sistem otokrasi di klub yang ia bela saat itu, Corinthias. Mereka sukses menjalankan peraturan seperti tiap keputusan klub diambil secara konsesus semua elemen klub. 


4. Matthias Sindelar

Ia adalah salah satu legenda sepakbola untuk timnas Austria. Tumbuh dan besar di kota Wina, Austria, Sindelar terkena budaya sepakbola dari lingkungan tempat tinggalnyab yang banyak ditinggali kaum imigran. Ia kemudian menjadi salah satu gelandang sayap hebat di kawasan Eropa Timur. 

Kala ia bermain sepakbola, sentimen anti Yahudi yang dipelopori kaum Nazi sedang mewabah di Eropa Timur. Namun ia justru membela klub yang didirikan kaum borjuis Yahudi yakni Austria Wina FC. Saat pasukan Hitler mulai melakukan ekspansi ke negaranya, Sindelar menjadi salah satu orang yang turut aktif menentang Nazi dan pemikiran fasisnya. 

Namun tindakannya justru mendapat hal negatif. Klub yang ia bela justru menjauhinya. Salah satu rekannya bahkan mengatakan bahwa seluruh manajemen klub sudah tidak ingin lagi berbicara dengan dirinya. Meski begitu karirnya tidak berhenti. Ia bahkan dipanggil ke timnas Austria dan bermain dengan Jerman. Hebatnya, Sindelar sukses membobol gawang Jerman dengan gol indah dan merayakannya di depan pejabat Nazi yang menghadiri laga tersebut. 


5. Didier Drogba

Prestasinya bersama Chelsea di musim ini ialah mengantarkan Chelsea menjadi yang terkuat di liga Primer Inggris. Prestasi sebelumnya? sudah sangat banyak. Nama Drogba di Chelsea ialah legenda hidup. Meski sempat bermain di klub Turki, Galatasaray, Drogba justru kembali ke London untuk membela The Blues. 

Untuk urusan prestasi, Drogba memang cukup dikenal. Namun tahukah jika penyerang asal Pantai Gading tersebut juga aktif dalam bidang politik. Di negaranya, Drogba berperan penting ketika menjadi penengah konflik yang terjadi di Pantai Gading. 

Drogba pernah berbicara di televisi nasional untuk para pemberontak dan perusuh di Pantai Gading untuk mengesampingkan ego karena Pantai Gading saat itu akan mengikuti Piala Dunia 2006 di Jerman. Selanjutnya Drogba memang dikenal sebagai pesepakbola yang aktif untuk meredakan konflik yang terjadi di Pantai Gading dan negara-negara Afrika lainnya. 


6. Cristiano Lucarelli

Untuk fans Livorno dan Torino, Lucarelli ialah penyerang kebanggaan mereka. Kemampuan Lucarelli di kotak penalti begitu menawan. Sebelum menjadi penyerang hebat, Lucarelli ternyata seorang buruh kereta api dengan hidup yang memperihatinkan. 

Saat klubnya, Livorno terdegradasi ke Serie B dan saat itu bermain di Torino, Lucarelli lakukan perbuatan yang tidak akan dilupakan fans Livorno, ia membantu keuangan klub. Ia mengatakan daripada membeli barang-barang mewah, lebih baik uangnya ia belikan untuk membeli jersey Livorno. 

Pada 2007, Lucarelli sempat diundang ke konfrensi yang bertajuk 'Uang, politik dan kekerasan'. Selama konfrensi tersebut, Lucarelli mangatakan bahwa sepakbola Italia saat ini lebih banyak dikuasai oleh para mafia yang merusak banyak hal. 

ChelseaDidier DrogbaFiorentinaSocrates

Berita Terkini