5 Pesepakbola Indonesia yang Banting Setir Akibat Sanksi FIFA
Penghentian sementara Liga QNB sampai waktu yang tidak ditentukan berdampak besar pada klub dan para pemain.
Tak hanya itu, dihentikannya kompetisi sepakbola di tanah air, secara otomatis memutus mata pencaharian para pesepakbola Indonesia.
Tak adanya penghasilan yang masuk sementara dapur harus selalu ngebul, membuat sejumlah pesepakbola memutuskan untuk banting setir merambah dunia bisnis.
Tuntutan hidup membuat para pesepakbola ini harus siap turun kasta. Mulai dari bermain di laga antar kampung hingga berjualan makanan atau pakaian.
Kisruh sepakbola yang berakibat panjang ini terpaksa harus menyeret para bintang lapangan hijau untuk mencari pertunungan di lahan lain. Ingin tahu siapa saja mereka? Berikut INDOSPORT merangkumnya.
1. Muhammad Fachrudin
Muhammad Fachrudin adalah mantan pemain Persik Kediri yang harus banting stir. Kompetisi yang belum bergulir lagi membuat pria asal Desa Ngabang Tanggulangin Sidoarjo itu berusaha untuk tetap menghidupi anak dan istrinya dengan berjualan kepiting cepat saji.
Sekitar pertengahan Januari lalu Persik yang merupakan klub tempatnya bermain sudah dibubarkan menyusul kegagalan mengikuti kompetisi ISL 2015. Seluruh pemain dipulangkan. Setelah itu, pria kelahiran tahun 1982 juga belum bisa merumput di klub lain karena adanya pembekuan PSSI oleh Kemenpora, disusul dengan sanksi FIFA kepada PSSI.
Pesepakbola ini sempat main sepakbola antar kampung (tarkam) di sejumlah daerah demi membuat dapur tetap ngebul. Setelah agenda tarkam habis karena datangnya bulan Ramadhan, ia pun beralih berjualan kepiting cepat saji dengan mengandalkan sepeda motor atau mobil.
2. Hendro Siswanto
Hendro Siswanto, pemain belakang Arema Cronus saat ini sedang menggeluti dunia bisnis baru ditengah sepinya pemasukan. Keadaaan membuatnya harus membantu istrinya berjualan hijab ditengah vakumnya kompetisi karena dapur harus selalu ngebul.
Hendro sendiri berjualan bersama istrinya Adirsti Dyah sejak kompetisi dihentikan. Mereka menjual barang dagangan melaui situs online atau pembeli bisa langsung datang ke rumahnya.
Brand yang digunakan untuk barang dagangannya yaitu HS12 yang diambil dari namanya Hendro Siswanto atau juga bisa berarti Hijab Store 12. Penghasilan dari berjualan hijab ini cukup membantunya untuk memenuhi kebutuhan dapur hingga ia bisa kembali merumput atau menemui bisnis yang lain yang lebih baik.
3. Anwarudin
Pemain Persik Kediri, Anwar Udin saat ini sempat mengalami trauma. Pasalnya, kebanggan yang seharusnya di dapat kala ia bisa bermain di klub Liga Indonesia harus hilang karena hak yang seharusnya diberikan justru tidak di dapat.
Anwar sempat tak mau main bola, bahkan ia menolak tawaran ikut tarkam (turnamen antar kampung) dari rekan satu timnya, Edi Kurnia karena sudah tidak percaya lagi dengan sepakbola Indonesia.
Akibat kondisi yang serba tidak menentu, membuat mantan pemain Persik Kediri ini memilih untuk menjalani aktivitas memancing.
4. Ramadhan Saputra
Ramadhan Saputra adalah rekan satu tim Anwar Udin yang memiliki nasib yang sama, yakni mengalami penunggakan gaji dari Persik Kediri hingga klub itu dibubarkan.
Berbeda dengan Anwar, ia memilih untuk mengikuti turnamen antar kampung untuk bisa menyambung hidupnya. Dengan bayaran berkisar antara Rp300 hingga Rp500 ribu sekali main, Ramadhan memanfaatkannya untuk menyambung hidup.
Ramadhan masih mengharapkan dirinya bisa bermain di Liga Indonesia dengan catatan kondisi dan kompetisinya harus jelas dan lebih baik.
5. Oktovianus Maniani
Pesepakbola yang bermain untuk Perseru Serui saat ini harus beralih profesi sebagai artis. Okto terpaksa harus menganggur menyusul pembekuan PSSI oleh Kemenpora sehingga tak ada kompetisi.
Demi memenuhi kebutuhan hidupnya, ia bermain sinetron di sebuah stasiun televisi swasta. Okto yang bersahabat dengan Titus Bonai (Tibo) saat ini sedang memperkuat Persip Pekalongan untuk mengikuti Piala Polda Jateng.
Mereka bersedia tampil di event tersebut karena bujukan Elie Aiboy.