Laporta-Benedito Khawatirkan Masa Depan Barcelona
Laporta dan Benedito harus memngakui keunggulan Bartomeu yang memperoleh 54,63 persen suara dari 109.367 anggota klub. Laporta menempati posisi kedua dengan 33,03 persen suara, sementara Benedito meraih 7,16 suara, dan Toni Frexia hanya meraih 3,7 persen suara.
Meski menerima hasil voting, Laporta dan Benedito memgungkapkan kekecewaan mereka karena gagal terpilih. Keduanya sama-sama menyuarakan hal-hal negatif yang mengancam Blaugrana di masa depan.
“Kami mencoba untuk menjaga klub dikendalikan oleh presiden yang tidak terjerat masalah hukum, dikendalikan di tangan Qatar, dan menghancurkan La Masia, tapi kami tidak bisa melakukannya,” kata Laporta.
Laporta mengkritik langkah-langkah Bartomeu yang menduduki kursi presiden menysul mundurnya Sandro Rosell pada 2014 karena kasus transfer Neymar Junior. Di bawah Rosell, Barcelona juga menjalin kerja sama dengan Qatar Foundation.
Sementara itu, Benedito mengkhawatirkan Barcelona terbelah menjadi dua kubu. Ia khawatir terjadi 'perang' antara 'Rosellismo' (pendukung Rosell) dan 'Laportismo' (pendukung Laporta) terus berlanjut. “Barcelona akan menghadapi lebih banyak divisi dan akan terbelah dua. Kami khawatir tidak akan ada perdamaian kelembagaan di tubuh klub,” ujar Benedito.
"Kami harus menghormati keputusan pemilu. Namun, kami tidak akan mengubah pandangan kita tentang Barcelona. Mayoritas anggota klub telah memilih rival untuk melanjutkan tugasnya," tambah Benedito.