x

3 Alasan Jika Juventus Tidak Dalam Keadaan Krisis

Sabtu, 3 Oktober 2015 16:12 WIB
Editor: Randy Prasatya

Juventus mengalami jalan terjal di Serie A musim 2015/2016. Kendala ini didapat lantara pihak klub mencoba untuk melakukan perombakan besar di dalam skuat Bianconeri musim ini dengan setidaknya melego tiga pemain bintang mereka dalam beberapa musim lalu, yaitu Carlos Tevez, Andrea Pirlo, dan Arturo Vidal.

Dampak dari perubahan skuat pun berimbas pada merosotnya penampilan tim di Liga. Bahkan hingga pekan keenam Serie A, Juventus harus puas bertengger di posisi 15 dengan perolehan lima poin dan tertinggal 10 poin dari Fiorentina selaku pemuncak klasemen.

Akan tetapi penampilan Si Nyonya Tua di liga domestic justru berbanding terbalik dengan penampilan mereka di Liga Champions. Tim besutan Massimiliano Allegri ini justru bercokol sebagai pemimpin grup D setelah menyapu bersih dua pertandingan awal dengan mengalahkan Manchester City dan Sevilla.

Dengan kondisi Juventus yang berbeda saat di Serie A dan Liga Champions, tentu menjadi keraguan jika menganggap klub asal kota Turin sedang dalam keadaan krisis.

Berikut ini INDOSPORT akan menganalisi alasan mengapa Juventus tidak dalam keadaan krisis.


1. Kontribusi Pemain Baru

Sulit mengatakan jika Juventus telah menerima kegagalan dari pemain baru yang hadiri pada awal musim ini. Pasalnya, dalam enam pertandinga Serie A yang telah dilakoni Juventus, Allegri masih banyak mencoba-coba komposisi pemain dan adaptasi pemain baru.

Hal itu justru harus dilakukan mantan pelatih AC Milan tersebut setelah mereka lebih banyak mendatangkan pemain menjelang liga dimulai dan akhir bursa transfer. Keputusan membongkar pasang komposisi pemain dan formasi pun semakin panjang setelah rentetan pemain cedera.

Namun, jika berkaca ke hasil Liga Champions, alasan itu tentu tidak berlaku. Sebaba Juventus berhasil meraih seluruh kemenangan di dua pertandingan awal. Lawan yang mereka hadapi pun bukanlah tim kecil.

Akan tetapi, di sinilah kecerdikan Allegri. Saat bertandang ke markas Manchester City, dia justru menempatkan pemain baru yang memilik jam di kompetisi Eropa pada susunan starting line-up. Sebagai contoh, pelatih 48 tahun itu lebih memilih mencadangkan Paulo Dybala ketimbang Mario Mandzukic meski mantan pemain Palermo menjadi satu-satunya penyerang yang impresif. Begitu pun dengan pemilihan Marco Lemina ketimbang Henanes.

Dan di pertandingan kedua Allegri mendapat keuntungan besar dengan hadirnya Sami Khedira. Dia pun tanpa ragu langsung memainkan mantan pemain Real Madrid tersebut meski baru sembuh dari cedera.


2. Masalah Penyelesaian Akhir

Kehilangan Tevez, Vidal dan Pirlo telah menjadi alasan yang mudah dihadirkan oleh pengamat dan media dalam memvonis keterpurukan Juventus.

Namun, kita harus melihat kenyataan bahwa Juventus merupakan tim kedua yang paling banyak melakukan percobaan mencetak gol setelah AS Roma. Bianconeri sukses mengemas 19,7 shots per game.

Dan itu pun menjadi sinyal jika Juventus justru memilik kendala yang mencolok di penyelesaian akhir. Sebab, hingga pekan keenam Serie A, mereka hanya mampu mengemas 6 gol. Selain itu menurut data Who Scored, Juventus merupakan klub terbaik dalam upaya melewati lawan.


3. Bermodalkan Hasil Cemerlang di Liga Champions

keberhasilan Juventus menyapu bersih dua pertandingan awal Liga Champions musim ini membuktikan jika mereka masih memilik hasrat yang kuat dalam menjaga ritme permainan tim. Kemenangan melawan Sevilla tentu akan menjadi modal bagus untuk mengobati hasil pahit di liga.

Keperkasaan mereka dengan mendulang enam poin tentu saja akan menjadi tekanan bagi lawan mereka di liga. Bahkan dari pemberitaan mengenai komentar para pelatih yang hendak menghadapi Juventus, mereka selalu berujar dengan tidak mau terjebak dengan hasil buruk yang diraih Bianconeri di liga.

Kondisi keterpurukan seperti yang dialami Juventus saat ini pun sejatinya pernah lalu Allegri dengan baik saat menukangi AC Milan di musim kedua. Pelatih 48 tahun tersebut mampu bangkit di bulan November dengan bercokol di posisi runner-up setelah berkutat di luar sepuluh besar klasemen.

Yang mengejutkan lagi, Milan saat itu menjadi lawan berat Juventus dalam merebut gelar Scudetto hingga akhir kompetisi.

Liga ChampionsJuventusMassimiliano Allegri

Berita Terkini