7 Negara yang Menjadi Kiblat Sepakbola
Inggris dengan bangga diperbolehkan mengklaim sebagai negara penemu sepakbola modern. Sedangkan Argentina juga boleh mengakui jika sepakbola telah menjadi agama baru yang hadir di negaranya dan Italia juga boleh menganggap jika filosofi-filosofi sepakbola lahir di tanah mereka.
Akan tetapi, Brasil juga tidak boleh dilupakan sebagai negara tersukses di kancah tertinggi pagelaran Piala Dunia dengan 5 kali juara dunia. kegemilangan Tim Samba dalam bermain sepakbola tak lepas dari kultur Amerika Latin yang sangat gemar bermain sepakbola, seperti di Argentina, Uruguay, Chile dan sebagainya.
Bahkan dengan mendunianya permainan sepakbola, olahraga ini telah berhasil menjadi kiblat bagi negara yang tengah mengembangkan persepakbolaannya.
Kali ini INDOSPORT akan mencoa memuat tujuh negara yang menjadi kiblat sepakbola.
1. Brasil
Mungkin revolusi terbesar dalam sepakbola terjadi di Brasil pada 1894 yang kala itu dibawa masuk oleh dua bangsawan asal Inggris, Oscar Coy dan Charles Miller. Kedatangan kedua orang tersebut telah mengubah sepakbola menjadi permainan rakyat, yang di mana sebelumnya hanya menjadi permainan kalangan elit colonial.
Sepakbola telah menjadi jalan pintas yang baik bagi warga Brasil yang menghendaki kemapanan hidup. Bahkan sedari kecil anak-anak di sana telah tumbuh dengan lingkungan yang kerab bermain sepakbola di lorong-lorong jalan dan pinggir-pinggir pantai.
Kehidupan yang terus bermain bola untuk anak-anak pun telah membuat negara tersebut tumbuh sebagai kawasan yang sangat berjaya di dunia sepakbola. Dalam permainannya pun mereka dikenal dengan kombinasi menggiring bola yang sangat indah.
2. Inggris
Tanah Ratu Elizabeth ini mungkin menjadi negara terpayah dalam karier sepakbola timnas mereka. Meski dikenal sebagai negara pencipta sepakbola modern, Inggris tidak dapat berbicara banyak di kancah dunia.
Bahkan gelar juara dunia satu-satunya yang mereka raih, baru terwujud ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 1966. Selain itu, Inggris bahkan belum pernah menjadi juara Eropa. Hal itu tentu semakin menyedihkan jika mengingat mereka sebagai penemu sepakbola modern.
Namun, dalam segi mengemas sepakbola secara industry, Inggris bisa dikatakan sebagai negara terbaik. Para investor asing tak segan-segan menanamkan modal besar di berbagai klub Inggris.
3. Belanda
Negara ini juga tidak memilik prestasi terlalu membanggakan setiap pagelar internasional. Prestasi tertinggi Belanda dalam sejarah sepakbola hanyalah sebagai jawara Eropa pada 1988.
Namun, meski tidak memilik prestasi yang membanggakan, Belanda selalu menyuguhkan permainan yang menarik setiap pagelaran sepakbola internasional. Filosofi Total Football yang mereka perkenalkan berhasil menyedot ribuan pasang mata di era Johan Cruyff.
Selain itu, Belanda menjadi negara penghasil bibit-bibit muda berbakat yang kemudian menjadi buruan klub-klub asing untuk merekrutnya dengan harga murah.
4. Jerman
Jerman merupakan negara sepakbola yang memilik simbol elang di dadanya. Simbol itu pun menjadi cerminan sebagai tim yang tajam, cepat, dan bengis. Bahkan hal itu pun terbukti dengan prestasi yang diraih Jerman dalam pentas internasional. Mereka berhasil keluar empat kali sebagai jawara dunia dan tiga kali sebagai jawara Eropa.
Selain itu, semangat komunal yang ada di diri warga Jerman, membuat mereka dengan mudah mengembangkan sepakbola hingga dikenal sebagai negara yang rajin menghasilkan pemian muda berbakat dan klub-klub mereka juga sangat gemar menomor satukan pemain local.
5. Spanyol
Negeri Matador ini mungkin baru di akhir 90-an akhir muncul sebagai kiblat baru bagi negara yang baru mengembangkan sepakbolanya. Hal itu dipengaruhi atas dasar keberhasilan Spanyol meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya pada 2010 dan dua kali juara Eropa pada 2008 dan 2012. Sebelum itu prestasi tertinggi spanyol hanyalah sebagai jawara Eropa pada 1964.
Kemajuan sepakbola Spanyol sendiri tak lepas dari kemahirannya dalam menerapkan filosofi Tiki-taka. Permain dengan bola-bola pendek dan rapat ini merupakan proses pengembangan dari filosofi Total Football yang dikembangkan sendiri dari empunya Total Football, yaitu Johan Cruyff.
6. Italia
kemajuan sepakbola di tanah Italia mungkin tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran Benedito Mussolini. Kala itu, pemimpin Italia yang berfaham fasis tersebut menuntut punggawa timnas untuk memenangi Piala Dunia 1934 atau mereka mati.
Ancaman itu pu terbilang tak sia-sia. Bahakan mereka tak segan untuk menerapkan permainan bertahan dengan menunggu lawan lengah agar dapat mencuri gol atau kemenangan.
Selain berjawa di pentas internasional, Italia juga memilik liga yang terbilang baik, meski sempat diterpa keterpurukan akibat skandal Calciopoli pada 2006.
7. Argentina
Negara ini merupakan tanah yang diberikan limpahan pemain sepakbola berbakat. Namun, setelah era Mario Kempes dan Diego Maradona selesai, Tim Tanggo acapkali gagal meraih kejayaan di kompetisi internasional.