(ANALISIS) Akar Permusuhan Antar Fans Sepakbola
Laga final yang mempertemukan Persib Bandung kontra Sriwijaya FC rencananya akan berlangsung di stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Potensi kerusuhan diprediksi akan tercipta di laga yang akan terselenggara pada Minggu, 19 Oktober 2015 nanti.
Rivalitas antara Persija dan Persib Bandung jadi penyebabnya. Bagi masyarakat awam mengapa sepakbola yang menjunjung nilai fair play hingga harus membuat aparat terkait keluar barak untuk menjaga keamanan.
Menurut penulis terkenal, Franklin Poer, sepakbola utamanya sepakbola di dunia ketiga bukan semata sebuah pertandingan. Banyak kajian yang memaparkan bagaimana akar permusuhan itu tercipta. Berikut analisisnya versi INDOSPORT:
1. Masalah Kecil
Jika menengok konflik antar Persija kontra Persib Bandung, akar permusuhan antar dua tim besar tersebut disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya dendam lama yang tak jua tertuntaskan dan secara sadar terus diwarisi ke generasi berikutnya. Dilansir dari banyak sumber,
Perseteruan antar suporter Persija dan Persib sudah berlangsung lama, tepatnya sejak tahun 2000 yaitu bertepatan dengan Liga Indonesia 6 berlangsung. Di putaran 1 sekitar 6 buah bis suporter Persib datang ke Lebak Bulus dan masuk ke Tribun Timur.
Selesai pertandingan suporter Persib juga didampingi the Jakmania menuju bus. Dan The Jakmania mengikuti dengan menyanyikan lagu Halo Halo Bandung. Penerimaan the Jakmania membuat Viking berniat tuk mengundang datang ke Bandung saat putaran 2. Malapetaka muncul, The Jakmania diserang lagi oleh bobotoh yang berada di luar stadion. Kondisi ini jelas tidak bisa diterima oleh The Jakmania. Sejak saat itulah api dendam dan permusuhan terus berkobar di kedua belah pihak. Puncaknya saat kuis yang mempertemukan antar fans di salah satu televisi swasta nasional. Dendam pun bertahan hingga saat ini.
2. Faktor Agama
Jika di Indonesia, faktor dendam lama hanya karena permasalahan 'sepele' bisa mengakibatkan Presiden keluarkan instruksi maka di Skotlandia, faktor utama yang mendasari perseteruan fans sepakbola diakibatkan oleh faktor agama. Fans Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic berseteru didasari perbedaan agama antar dua fans ini. Celtic dibasis Katolik sementara Rangers di basis Protestan.
Menariknya faktor agama juga ditarik oleh kedua fans ini ke ranah politik. "Tak perlu dijelaskan lagi, orang-orang ini percaya bahwa Inggris harus berkuasa atas orang-orang Katolik Irlandia pendukung Celtic," tulis Franklin. Hari pertandingan antara Celtic dengan Rangers selalu menjadi hari yang paling rawan gesekan. Franklin memaparkan, pertikaian antara kedua seteru yang menghuni satu kota ini telah menghasilkan kisah horor persepakbolaan.
3. Ekonomi Jurang Pemisah
Ekonomi yang timpang juga jadi salah satu akar bagaiamana militansi pada klub jadi 'tameng' untuk mereka menyuarakan kegelisahannya. Hal ini terpampang jelas di sepakbola kawasan Amerika Selatan, tepatnya di Brasil. Brasil sebagai negara sepakbola terbilang negara yang miskin. Penjahat berkerah putih pun memanfaatkan sepakbola sebagai alat untuk mereka berbuat praktek korupsi. Tidak mengherankan jika kemudian sejumlah fans lakukan tindakan vandalisme.
Franklin Poer menuliskan dalam bukunya yang berjudul 'Memahami Dunia Lewat Sepakbola' mengatakan, "garong-garong ini begitu berakar dalam persepakbolaan Brasil sampai semua orang menyebutnya Cartolas (kaum topi tinggi)". Akibatnya ketika ada tokoh atau direksi klub Brasil yang berpihak apda Cartolas, maka gesekan antar fans pun dengan mudah tercipta di dalam stadion-stadion Brasil.