x

(VIDEO) Kisah Samurai Jepang di Italia, Hidetoshi Nakata

Selasa, 27 Oktober 2015 19:26 WIB
Editor: Joko Sedayu

Pada akhir 1998, klub Serie A Italia, Perugia ambil keputusan yang cukup kontroversial di bursa transfer musim dingin. Mereka menyepakati kontrak dengan salah seorang gelandang asal klub liga Jepang, Bellmare Hiratsuka.

Pemain ini kemudian jadi pemain kedua asal Jepang yang sukses merumput di Serie A Italia, sebelumnya pemain Jepang bernama Kazu Miura pernah merumput bersama Genoa.

Hidetoshi Nakata nama pemain itu. Setelah dari Perugia, ia merajut sukses di AS Roma. Namanya pun semakin dikenal. Ia sandingkan dengan David Beckham kala itu. Beckham dari Jepang.

Banyak kisah-kisah menarik terkait Nakata, INDOSPORT ajak pembaca setia untuk kembali mengenang masa-masa kala Nakata masih bermain di Italia. Berikut 5 kisah seorang Hidetoshi Nakata di Italia:


1. Tanah Italia

Perugia mendapat sorotan dari banyak pihak usai rekrut Nakata, pasalnya pemain anyar mereka tersebut tidak terlalu istimewa kala itu. Di Jepang, ia hanya membela klub menengah bukan klub besar. Namun pelatih Perugia kala itu, Serse Cosmi tak bergeming. Ia tetap merekrut dan mempercayai skill dan kemampuan Hidetoshi Nakata.

Pilihan Cosmi tak keliru, Nakata muda mulai menyita perhatian publik Italia. Berposisi sebagai gelandang, Nakata sukses membaur dengan gaya permainan Italia dan skema yang diinginkan Cosmi. Nakata pun jadi salah satu pemain Perugia di era tersebut yang sukes secara pribadi. Ia pun mulai dilirik klub besar, AS Roma.


2. Berjaya di Ibu Kota

Di awal musim 2000, Nakata pun sepakat untuk hijrah ke klub ibu kota Italia, AS Roma. Kala itu AS Roma harus membayar 21 juta Euro untuk bisa dapatkan jasa Nakata. Kala itu AS Roma dilatih oleh pelatih kawakan, Fabio Capello. Capello miliki misi untuk antarkan AS Roma raih gelar juara di akhir musim dan Nakata jadi pemain yang harus siap untuk sukseskan target tersebut.

Meski kala itu AS Roma diisi sejumlah gelandang papan atas seperti sang pangeran Roma, Totti, gelandang pekerja keras asal Brasil, Emerson, Nakata tak merasa kecil hati. Meski ia beberapa kali tidak turun sebagai starter, peran Nakata sebagai seorang supersub sangat hebat.

Salah satunya ialah kala AS Roma bertemu Juventus, Nakata yang masuk pada babak kedua dan AS Roma sedang dalam kondisi tertinggal, sukses cetak gol indah dari luar kotak penalti. Tidak hanya satu gol indah, di laga itu gol penyama kedudukan AS Roma yang dicetak Montella juga tercipta berkat sepakan Nakata dari luar kotak penalti.

Di akhir musim, Nakata sukses antarkan AS Roma jadi peraih gelar scudetto kedua mereka. Nakata pun jadi pemain Asia dan Jepang pertama yang bisa raih gelar scudetto.


3. Berakhir di Firenze

Nama Nakata jadi gelandang yang kala itu diperhitungkan akan jadi gelandang hebat. Lepas dari AS Roma, Nakata sempat bergabung selama tiga musim bersama Parma.

Akibat kriris finansial, Parma pun mau tak mau harus rela melepas pemain yang catatkan diri 67 kali membela Parma dan cetak 5 gol. Bologna jadi klub yang menampung Nakata dengan status pinjaman. Di Bologna, Nakata hanya bermain sebanyak 17 kali dan cetak 2 gol.

Usianya yang semakin bertambah membuat karir Nakata seperti berada di penghujung. Namun ia masih diminati klub papan tengah Serie A Italia. Nakata pun berlabuh ke klub terakhirnya di Italia yakni Fiorentina pada 2004. Di kota Firenze, Nakata bermain hingga akhir 2006.

Nakata pun beranjak mulai tunjukan permainan terbaiknya seperti saat ia masih membela AS Roma. Namun usia tak bisa ditutupi, Nakata pun hanya bermain di Fiorentina sebanyak 20 laga. Sebelum kontrak berakhir direksi Fiorentina, meminjamkannya ke klub liga Inggris, Bolton Wanderers.

JepangSerie A ItaliaAS RomaFiorentinaParmaBolognaPerugiaHidetoshi Nakata

Berita Terkini