7 Pelajaran Penting Usai Muenchen Bantai Arsenal
Arsenal baru saja melewati malam yang pahit di Allianz Arena. Tim besutan Arsene Wenger kalah secara menyakitkan atas Bayern Muenchen dengan skor telak 5-1. Ini menjadi kekalahan ke-3 The Gunners dalam 4 laga fase grup Liga Champions musim ini.
Kekalahan ini di luar dugaan meski Muenchen tetap diunggulkan. Pasalnya, pada laga sebelumnya di Emirates Stadium, Mesut Ozil dan kawan-kawan sukses menjinakkan Die Roten dengan skor 2-0.
Kekalahan ini membuat Arsenal terpuruk di dasar klasemen dengan catatan 3 poin, sementara Muenchen mengoleksi 9 poin dan dipastikan lolos ke babak 16 besar. Langkah Arsenal menuju babak 16 besar pun menjadi berat.
INDOSPORT merangkum sejumlah pelajaran penting usai kekalahan telak Arsenal atas Muenchen.
1. Arsenal Kembali ke Kebiasaan Lama
Sejak peluit pertama dibunyikan, penampilan Arsenal tampak berbeda dengan laga melawan Muenchen sebelumnya di Emirates Stadium. The Gunners jauh lebih enggan untuk memberikan tekanan pada bola.
Meskipun Gabriel bisa disalahkan atas gol pertama, namun rasanya Arsene Wenger akan marah karena anak asuhnya membiarkan Thiago Alcantara melepaskan umpan silang sempurna kepada Robert Lewandowski yang berbuah gol.
Para pemain Arsenal pun membiarkan Thiago dan Xabi Alonso menguasai lapangan tengah dengan nyaman. Pada saat pertandingan memasuki menit ke-30, Muenchen mulai sering menggiring bola ke dalam kotak penalti Arsenal.
Arsenal baru merespon dan terlihat agresif menyerang pada 25 menit terakhir ketika tim besutan Guardiola melambat.
2. Skuad Arsenal Tak Bisa Atasi Cedera
Seperti yang kita ketahui, Arsenal memang tengah memiliki masalah cedera. Namun, Wenger tak bisa mengatasi cederanya sejumlah pilar tersebut.
Tak adanya Laurent Koscielny di jantung pertahanan tentu menjadi kerugian besar bagi Arsenal. Koscielny adalah salah satu pemain vital di posisi bek tengah dan selalu memberikan rasa aman.
Tapi, Wenger memiliki track record yang selalumengandalkan pemain dengan sejarah masalah. Skuad yang dimiliki tidak cukup kuat untuk bersaing dengan yang terbaik di Eropa ketika mereka secara teratur memiliki begitu banyak pemain cedera.
Di kubu Arsenal, sejumlah pengganti pemain yang cedera adalah Alex Iwobi dan Jeff Reine Adelaide yang memiliki jam terbang sama sekali sedikit. Sementara Muenchen memiliki pemain sekelas Arjen Robben, Arturo Vidal dan Rafinha.
Dalam hitungan detik setelah dimasukkan, Robben langsung mencetak gol untuk Muenchen ke gawang Arsenal. Muenchen pun sukses mematikan pergerakan Alexis Sanchez dan Mesut Ozil.
3. Keyakinan Wenger Jadi Bumerang Campbell
Arsene Wenger benar-benar memiliki keyakinan terhadap Joel Campbell. Beberapa bulan yang lalu, Campbell dianggap sebagai pemain buangan di Emirates, tapi sistem rotasi Wenger dan beberapa pemain yang cedera telah membuka jalan bagi Campbell.
Wenger telah menyatakan bahwa ia selalu percaya dengan kemampuan Campbell dan akhirnya Wenger memberikan kesempatan kepada Campbell untuk menjadi starter saat laga melawan Muenchen.
Wenger berpikir Campbell akan lebih efektif bekerja dengan Mathieu Debuchy di sisi kanan sekaligus untuk menahan ancaman Douglas Costa. Tampaknya hal tersebur justru menjadi pertaruhan yang menjadi bumerang. Campbell terus berjuang namun tampil tak maksimal.
4. Pep Guardiola Pimpin Skuad Masterclass Muenchen
Banyak orang menyebut Pep Guardiola hanya beruntung melatih tim yang sudah besar. Itu memang benar, Guardiola melakukan sesuatu yang hebat saat bersama Barcelona dan kini Muenchen.
Tapi, rahasia sukses Guardiola bukan semata-mata karena memiliki pemain-pemain hebat di atas lapangan (meskipun pasti membantu). Keberhasilan mereka adalah karena disiplin yang sangat baik. Dan semua itu berasal dari Guardiola.
5. Klub-klub Inggris Melempem di Eropa
Klub-klub Inggris masih jauh dari harapan jika bermain di pentas Eropa terutama Liga Champions. Penampilan buruk Arsenal praktis tak bisa disandingkan dengan superiotas Muenchen.
Juga sulit rasanya untuk membayangkan akan seperti apa hasilnya jika Arsenal bertemu dengan tim-tim kuat Eropa lainnya seperti Barcelona atau Real Madrid. Hal tersebut benar mebuktikan bahwa klub-klub Inggris saat ini tertinggal jauh dengan tim-tim lain di Eropa.
Fase knockout masih akan memberikan kesempatan kepada perwakilan Liga Primer Inggris untuk mencari kesempatan lolos tahun depan meski Arsenal kini sangat berat untuk lolos ke babak 16 besar.
6. Olivier Giroud Akan Jadi Aset Penting
Tak banyak hal-hal yang menghibur dari Arsenal saat dihancurkan Muenchen. Namun, gol berkelas Olivier Giroud cukup menjadi hiburan sendiri. Giroud diyakini akan menjadi andalan Arsenal di bulan-bulan mendatang.
Giroud memang bukan pencetak gol produktif seperti Sergio Aguero, Robert Lewandowski atau Luis Suarez. Namun gol-gol pentingnya di beberapa pertandingan Arsenal mulai menempatkannya di depan anak tangga para striker di Eropa.
Kontribusinya seharusnya juga tak bisa diremehkan. Untuk tetap bersaing di Liga Primer Inggris dan Liga Champions, Arsenal seharusnya tetap mempercayakan Giroud di lini depan.
7. Masa Depan Mathieu Debuchy Diragukan
Situasi Mathieu Debuchy semakin sulit di Arsenal. Penampilannya yang tak memuaskan bahkan kalah apik dengan Hector Bellerin di posisi bek kanan akan mengancam masa depannya di Emirates Stadium.
Sebelumnya memang sudah banyak yang mengatakan bahwa Bellerin akan mengakhiri karir Debuchy di Arsenal lebih awal karena mantan pemain Barcelona itu sukses merebut posisi reguler di bek kanan.
Tak hanya Bellerin, Calum Chambers juga masih memiliki peluang menjadi kompetitor berat Debuchy di sektor bek sayap.