x

4 Strategi Chelsea Redam Agresivitas Leicester

Senin, 14 Desember 2015 18:11 WIB
Editor: Ramadhan

Jose Mourinho tentu sadar jika ia dan timnya akan menghadapi tim yang tengah tampil superior di Liga Primer Inggris musim ini, Leicester City. Di tangan Claudio Ranieri, The Foxes mengejutkan kompetisi teratas Inggris dengan menguasai klasemen di pekan ke-15.

Berstatus juara bertahan Liga Primer Inggris musim 2014/15, The Blues tak ingin menanggung malu dan menjadi korban Leicester selanjutnya di King Power Stadium.  Mourinho diyakini telah merancang strategi jitu untuk meredam agresifitas The Foxes agar terhindar dari ancaman zona degradasi.

The Special One pun tentu telah menyiapkan strategi khusus untuk mengawal duo Leicester yang selalu tampil apik di setiap laga, Jamie Vardy dan Riyad Mahrez.

Berikut INDOSPORT mengulas strategi Chelsea untuk meredam agresifitas Leicester City pada pertemuan yang akan berlangsung Selasa (15/12/15) jam 03.00 dini hari WIB.


1. Garis Pertahanan Rendah

Mourinho adalah sosok pelatih yang ahli dalam membunuh pertandingan. Menghadapi tim asuhan Ranieri, Mourinho benar-benar harus fokus terhadap serangan andalan Leicester yang sebagian besar dibangun dari skema counter attack.

Chelsea bukanlah tim yang sepenuhnya memiliki kecepatan terutama lini belakang yang dipimpin John Terry, sehingga akan rentan terhadap ancaman serangan-serangan berbahaya dari para pemain Leicester. Dalam konteks ini, Mourinho wajib menerapkan strategi garis pertahanan yang sangat dalam.

Strategi ini tentu akan meredam pergerakan Vardy dan Mahrez ketika mereka mencoba untuk melakukan counter attack karena mereka akan berlari ke arah pertahanan Chelsea.


2. Manfaatkan Kecepatan Kurt Zouma

Gary Cahill telah bermain sangat baik baru-baru ini, namun permainan terbaik Cahill muncul saat ia diduetkan dengan Zouma.

Zouma juga menjadi salah satu penggawa Chelsea yang tampil fantastis sejauh musim ini. Zouma selalu siap mengemban tugas berat dari Mourinho di setiap pertandingan sulit The Blues. Zouma menjadi bek tengah tercepat di skuat besutan Mourinho.

Zouma memang tak secepat Vardy, namun pemain berusia 21 tahun itu justru akan menjadi pemain kunci untuk meredam aksi-aksi Vardy. Mourinho harus menginstruksikan Zouma untuk mengikuti pergerakan Vardy dan membuat bomber Leicester itu tak bisa bergerak dengan leluasa.

Alasan Zouma harus diduetkan dengan Terry dan Cahill adalah karena pengalaman Terry dalam membaca permainan. Pasangan ini membuat kombinasi yang baik dan bermain bagus melawan Porto di tengah pekan kemarin di pentas Liga Champions.


3. Tempel Ketat Mahrez

Musim ini bersama Leicester, Riyad Mahrez lebih sering beroperasi di sebelah kanan lini tengah. Mahrez juga diberikan izin untuk melakukan cutting inside dengan kaki kirinya.

Jika Mahrez kembali bermain di posisi tersebut, maka ini akan menjadi keuntungan bagi Chelsea yang akan berharap besar pada Cesar Azpilicueta jika ditempatkan sebagai bek kiri.

Azpilicueta tentu dengan senang hati mengawal ketat Mahrez yang akan melewati wilayah tugasnya.  Namun, satu-satunya masalah adalah bahwa hal itu akan memungkinkan Danny Simpson untuk bergerak lebih jauh ke depan.

Jadi, akan menjadi penting jika Eden Hazard atau Pedro juga membantu mengamankan sisi sayap dan fullback agar pertahanan tetap aman. 


4. Paksa Lini Tengah Bekerja Keras

Melawan Porto, Mourinho lebih memilih Ramires dan Nemanja Matic serta mengistirahatkan Cesc Fabregas. Keputusan Mourinho ini terbukti tepat karena Ramires dan Matic bisa bekerja sama dengan baik di lini tengah.

Duet Ramires dan Matic di lini tengah The Blues diyakini akan memberikan rasa aman dari ancaman Leicester ke lini pertahanan. Keduanya siap bahu-membahu mengawal pergerakan Vardy dan Mahrez.

ChelseaJose MourinhoClaudio RanieriLeicester CityLiga Primer Inggris

Berita Terkini