3 Alasan Mourinho Tak Pantas Latih Man United
Akhir pekan kemarin menjadi momen paling dramatis bagi karier Jose Mourinho setelah resmi diberhentikan Roman Abramovich dari kursi kepelatihan Chelsea.
Mourinho kehilangan pekerjaannya setelah Chelsea terbenam di urutan dasar klasemen setelah hanya mampu memenangkan empat pertandingan dan menelan sembilan kekalahan sejak awal musim bergulir.
Hal ini sesungguhnya berada di luar ekspektasi dan perkiraan sejumlah pihak, pasalnya kehadiran Mourinho untuk kedua kalinya untuk melatih Chelsea sejatinya diharapkan bisa membangun dinasti kejayaan The Blues di Stamford Bridge layaknya Sir Alex Ferguson di Manchester United.
Kenyataan ini akhirnya menjadi perbedaan yang cukup signifikan antara Mourinho dan Ferguson setelah sebelumnya kiprah The Special One sempat disejajarkan dengan jejak kepelatihan Ferguson.
Belakangan, seiring dengan terdepaknya Mourinho dari Chelsea dan kinerja buruk yang ditampilkan van Gaal bersama Man United telah memunculkan sebuah spekulasi akbar bahwa Mourinho akan berlabuh ke Manchester United.
Tidak begitu aneh memang, mengingat Mourinho sendiri merupakan kandidat terkuat untuk mengisi kursi kepelatihan Man United setelah Ferguson memutuskan untuk pensiun.
Namun seiring dengan rangkaian catatan buruk yang dihasilkan Mourinho beberapa bulan terakhir dan melihat kiprah Mourinho sepanjang lima tahun terakhir tampaknya manajemen Man United perlu menimbang kembali untuk mengambil opsi ini.
Berikut, INDOSPORT merangkum sejumlah alasan mengapa Mourinho dianggap tidak layak untuk melatih Manchester United.
1. Kurang Konsisten
Manajer asal Portugis ini sempat menjalani musim dengan gemilang bersama Real Madrid pada dua musim pertamanya, namun dirinya harus kehilangan trofi di musim ketiganya.
Lepas dari Madrid, Mourinho kembali untuk kedua kalinya ke Chelsea. Musim pertama comeback nya Mou telah berkontribusi membawa Chelsea memenangkan gelar Liga Primer.
Namun musim berikutnya hanya berselang kurang dari setengah musim dirinya berkontribusi menenggelamkan timnya ke dasar klasemen yang berujung pada pemecatan dirinya.
Fakta ini membuktikan bahwa Mourinho terlihat hanya mampu meraih kesuksesan di beberapa negara berbeda untuk waktu singkat namun kesulitan untuk mempertahankannya dalam rentang waktu berikutnya.
Berbeda dengan Sir Alex yang sempat mengalami masa sulit saat pertama kali datang ke Old Trafford sebelum akhirnya ia memenangkan trofi pertamanya pada tahun 1990.
Namun setelah itu, pelatih Skotlandia ini secara konsisten selalu berhasil membawa Man United meraih 13 gelar liga dan tidak pernah mengakhiri musim di bawah urutan ketiga setiap musimnya selama 23 tahun masa baktinya.
2. Tidak Harmonis dengan Pemain
Ferguson selalu mendapat dukungan dari para pemainnya karena mereka mengerti apa yang dia lakukan adalah untuk kepentingan tim dalam jangka panjang.
Sepanjang masa kepelatihannya Ferguson tidak pernah kehilangan kehangatan bersama anak asuhnya di ruang ganti meskipun dirinya termasuk tipikal pelatih yang tegas dan keras.
Ferguson secara objektif dan adil selalu memberi kesempatan bagi para pemainnya untuk mengembangkan diri dan memotivasi mereka untuk bisa tampil dalam skuat inti.
Berbeda halnya dengan Mourinho yang harus dua kali kehilangan kemesraan dan kepercayaan anak-anak asuhnya di ruang ganti dari dua klub berbeda hanya dalam kurun waktu dua tahun.
Musim terakhirnya bersama Real Madrid, Mourinho gagal menjalin hubungan mesra dengan dua pilar utamanya Ronaldo dan Casillas.
Sementara di Chelsea di akhir masa baktinya sebelum akhirnya didepak dari bangku kepelatihan, Mourinho kembali terlibat perseteruan dengan beberapa pemain seperti Hazard, Costa dan Fabregas.
Sikap ego yang dikedepankan Mourinho menuntutnya selalu berusaha menutupi kesalahannya dalam kekalahan membuatnya selalu menunjuk kambing hitam, para pemain kerap menjadi korbannya.
Hal inilah yang membuat The Special One selalu kesulitan untuk mempertahankan suksesnya.
3. Regenerasi Pemain
Mourinho sepanjang kiprahnya sebagai seorang pelatih selalu gagal melakukan rotasi dan meregenerasi skuat intinya.
Mourinho selalu berfikir untuk mencari alternatif instan mendatangkan pemain-pemain hebat di bursa transfer ketimbang memberi kesempatan bagi para pemain muda.
Berbeda dengan Ferguson, untuk urusan regenerasi pemain pelatih Skotlandia ini adalah jagonya.
Lima musim terakhirnya bersama Man United ia telah memenangkan 3 piala liga dengan skuat tim yang bebeda. Pada 2009 Sir Alex memenangkan gelar bersama Ronaldo dan Tevez sebagai aktor di balik kesuksesannya.
Sementara 2011, Chris Smalling dan Hernandez mengambil peran dan musim terakhirnya David de Gea, Danny Welbeck, Tom Cleverley dan Robin van Persie dijadikannya sebagai pahlawan yang dielu-elukan publik Old Trafford.