3 Alasan Rudi Garcia Layak Dipecat
Sejak didatangkan AS Roma pada 12 Juni 2013, Garcia berhasil membawa klub asal ibukota Italia ini bercokol sebagai runner-up Serie A selama dua musim berturut-turut.
Selain itu, dia mampu mengemas Roma menjadi tim yang bermain sangat menghibur dengan permainan menyerang. Pria asal Prancis tersebut juga berhasil mengembalikan performa Gervinho dalam formasi 4-3-3.
Akan tetapi, setelah memasuki pertengahan musim, Garcia selalu menemukan kesulitan untuk mengembangkan permainan Roma secara tim. Segala kegagalan yang didapat Garcia bersama Roma di pertengahan musim pun membuat pihak manajemen kesal hingga harus mendepak mantan pelatih Lille tersebut.
Berikut INDOSPORT mencoba merangkum tiga alasan mengapa Garcia layak dipecat.
1. Tidak Kreatif
Saat hengkang dari Lille ke AS Roma pada 2013 lalu, situs French Football Weekly langsung mengulas tentang apa yang bisa diharapkan pendukung Roma dari Garcia.
Dengan berkaca saat melatih Lille sejak 2008 hingga 2013, penulis dengan nama Andrew Gibney itu menjelaskan keberhasilan skema 4-3-3 Garcia di tahun-tahun awal.
Namun, dia juga memaparkan secara gamblang atas kinerja Garcia yang sangat menurun saat ditinggalkan pemain-pemain bintang Lille. Gibney mengutarakan jika pria 51 tahun itu seperti tidak memilik opsi cadangan dalam skema permainan, Garcia melulu mendewakan formasi 4-3-3. Kendala itu pun membuat klub-klub di Prancis mudah untuk mengkaji permainan Lille.
Ternyata, analisa yang diutarakan Gibney pun benar. Roma akan menemukan masalah besar saat lawan-lawan di Italia dapat mempelajari skema mutlak Garcia.
2. Selalu Dibantai di Eropa
Garcia kabarnya telah terlibat pertengkaran dengan Direktur Olahraga Roma, Walter Sabatini pada November 2015 lalu. Kekalahan telak 1-6 yang dialami AS Roma dari Barcelona menjadi pemicu perkelahian keduannya.
Saat itu mereka sedang menunggu Edi Dzeko menyelesaikan tes doping sebelum berangkat ke airport untuk kembali ke Roma. Pada saat itu pula Sabatini kabarnya menyinggung kekalahan 1-7 dari Bayern Muenchen di musim 2014/15.
“Kami menghadapi masalah negatif serupa dengan musim lalu . Tapi, kami harus maju dan saya menilai kami tidak kehilangan kepercayaan diri. Kami harus membalikkan semua sejak laga berikutnya dan malam ini kami memang melawan tim yang luar biasa,” ujar Sabatini.
Roma sejatinya memang memilik rekor buruk bersama Garcia di Liga Champions. Dalam 12 pertandingan, Roma hanya menang dua kali saat dilatih pria asal Prancis itu.
3. Permainan yang Tidak Konsisten
Melambatnya Roma di pertengahan musim dan di awal tahun menjadi kendala yang terus berulang dialami Garcia. Hal itu juga tak lepas dari factor cedera pemain silih berganti.
Tapi, tentu saja manajemen klub tidak mau mendengar alasan tersebut. Garcia justru harus dapat mencari solusi dengan mengembangkan tak tik permainan.
Selain itu, Roma juga kerap ceroboh dalam bermain. Serigala Roma ini memilik kelemahan dalam bertahan saat mereka mampu menunjukan permainan menyerang yang teramat baik.