x

(VIDEO) Gooners Menangis, The Blues Pesta di Highbury

Sabtu, 23 Januari 2016 01:20 WIB
Editor:

Stadion dengan kapasitas 38,419, stadion Highbury pada Rabu, 11 November 1998 harus bersiap kedatangan tamu ribuan fans Chelsea. 

Pagi harinya waktu London, sejumlah petugas tampak serius mempersiapkan hal detail di dalam stadion agar malamnya, laga Derby London antar tuan rumah, Arsenal dengan Chelsea berlangsung dengan sesuai rencana. 

Tidak hanya petugas stadion yang tampak sibuk mempersiapkan hal detail di dalam stadion. Di luar stadion, sejumlah aparat keamanan pun apel pagi untuk mempersiapkan keamanan agar kemungkinan bentrok antar suporter yang biasa terjadi di laga derby tidak terjadi. 

Sejumlah kuda-kuda jenis Gelding sudah dipersiapkan oleh unit khusus polisi berkuda (horse mounted) untuk mengawasi tiap gerak gerik fans yang akan datang ke Highbury. 

Persiapan sudah matang. Sore waktu setempat, rombongan fans tuan rumah sudah memadati luar stadion. Sementara itu,  stasiun-stasiun kereta bawah tanah tampak dijejali keriuhan suara fans tamu, Chelsea. 

Yel-yel mereka nyanyikan sepanjang jalan menuju Highbury. Berbeda dengan laga derby di belahan dunia lain, derby London memang tidak terlalu mengkhawatirkan terjadinya bentrok fisik antar fans. Meski begitu sejumlah horse mounted tak mau kecolongan, mereka tetap siaga satu. 

Adu yel terjadi saat kedua fans masuk ke dalam stadion. Aura keyakinan tampak dalam diri ribuan gooners, fans Arsenal saat sudah di dalam stadion.

Sayang, keyakinan mereka berujung pahit saat wasit David Elleray tiup peluit akhir. Mengapa demikian? 


1. Alasan pertama: Arsenal tampil grogi sejak menit pertama

Tendangan penyerang Chelsea, Gianluca Vialli di laga Arsenal vs Chelsea pada 11 November 1998 di ajang Piala Liga Inggris.

Laga derby London yang berlangsung pada 11 November 1998 memang bukan lanjutan liga Primer Inggris, kedua tim bertemu di ajang Piala Liga Inggris. 

Menengok peringkat kedua tim di papan klasemen, Arsenal kala itu berada di peringkat kedua, sedangkan Chelsea di peringkat lima. Ajang piala Liga Inggris dipandang sebelah mata oleh Dennis Bergkamp dan kolega. 

Saat wasit David Elleray tiup peluit babak I, bertindak sebagai tim tamu, Gianluca Vialli dan kolega langsung lancarkan serangan. Penyerang andalan Chelsea kala itu, Vialli sempat tebar ancaman di menit pertama. 

Pergerakan Vialli dari sisi sayap mampu mengecoh lini belakang Arsenal, pemain berkepala plontos itu lepaskan sepakan setengah voli namun sayang wasit menganggap ia berdiri di posisi offside. 

Arsenal memang di laga saat itu tidak turunkan pemain intinya, namun Chelsea pun demikian. Lini tengah praktis dikuasai oleh Gustavo Poyet dan kolega, sementara Fredik Ljunberg harus bersusah payah bangun skema serangan Arsenal. 

Berulang kali Chelsea yang dimotori Vialli dan Tore Andre Flo buat lini belakang Arsenal kerepotan. Tensi mulai sedikit berubah di pertengahan babak I, Arsenal mulai bangkit menyerang dan membuat kiper Chelsea kala itu, Kharine tunjukan kemampuannya. 

Pada menit ke 34, berawal dari kecerobohan Hughes di lini tengah, bola muntah dimanfaatkan Gustavo Poyet untuk giring bola dari lini tengah. Ia bebas namun sayang masuk kotak penalti, bek tengah Arsenal, Gilles Grimandi menekal Poyet dan wasit tunjuk titik putih. 

Frank Lebouef yang ditunjuk jadi algojo penalti sukses taklukan Alex Manninger. 1-0 jadi hasil akhir di babak I. 


2. Alasan kedua: Gol Vialli runtuhkan mental Arsenal

Gianluca Vialli

Masuki babak kedua, pemain Arsenal masih memiliki keyakinan untuk bisa menyamakan kedudukan. Di awal babak I, Arsene wenger memasukan Remi Garde untuk gantikan Alberto Mendez. Pria Prancis itu sadar di babak I, lini tengah mereka selalu kehilangan momentum. 

Sayang tiga menit usai Garde masuk, Chelsea justru memperbesar keunggulan jadi 2-0. Berawal dari umpan manis Goldbeck dari sisi sayap, Vialli mampu melewati Alex Manninger sebelum ceploskan bola ke gawang yang kosong. 

Meski tertinggal, winger Arsenal Boa Morte masih tampil impresif untuk bongkar lini belakang Chelsea. Sayang selalu temui kegagalan. Gol Vialli buat mental pemain Arsenal lain runtuh.

Poyet yang di babak I jadi public enemy di Higbury malam itu kembali buat Gooners tertunduk setelah pada menit ke 65 sukses bobol gawang Manninger untuk kali ketiga. 0-3 Arsenal tertinggal jauh. 

Insiden sempat terjadi pada pertengah babak kedua setelah pemain Chelsea, Babayaro tampak dengan sengaja menginjak alat kelamin Boa Morte. Ia mendapat kartu kuning. 

Setelah insiden ini, tidak ada yang berubah dari gaya bermain Chelsea, mereka tetap impresif dan ceploskan dua gol lagi lewat Vialli dan Poyet masing-masing pada menit ke 73 dan 80. 

Highbury yang diawal laga begitu riuh dengan suara Gooners mendadak sunyi. Gemerlap lampu stadion dan terang rembulan malam itu tak mampu menghibur Gooners yang tertunduk lesu karena harus rela melihat timnya gagal di babak keempat Piala Liga Inggris dan yang lebih menyakitkan kalah telak 0-5 oleh tetangga mereka, Chelsea. 

Tak peduli dengan suasan haru biru Gooners, di sisi lain stadion, fans Chelsea tampak melompat kegirangan karena mampu mempermalukan tetangga mereka tersebut di kandang lawan. Ini jadi kemenangan terbesar Chelsea atas Arsenal usai format liga Inggris berubah pada 1992 silam. 


3. Alasan ketiga: Susunan pemain kedua tim

Tendangan penyerang Chelsea, Gianluca Vialli di laga Arsenal vs Chelsea pada 11 November 1998 di ajang Piala Liga Inggris.

Arsenal yang saat itu berada di peringkat kedua liga Inggris tampak sangat memandang sebelah mata laga dengan Chelsea. Arsene Wenger memilih untuk menyimpan tim utama dan lebih banyak menurunkan sejumlah pemain muda.

Sementara Chelsea yang ditukangai oleh Gianluca Vialli yang merangkap sebagai penyerang justru sedang jalani masa yang kurang baik di liga Primer Inggris musim itu. Piala Liga Inggris jadi satu-satunya harapan The Blues untuk bisa raih gelar di musim itu. Hal itu kemudian terjadi usai singkirkan Arsenal, Chelsea mampu menyambet gelar Piala Liga Inggris musim tersebut. 

Susunan pemain kedua tim:

Arsenal: Manninger, Vivas, Grimandi, Upson, Grondin, Garde, Ljunberg, Hughes, Boa Morte, Wreh, Bergkamp

Cadangan: Lukic, Mendez, Caballero, Cole, Vernazza

Chelsea: Kharine, Petrescu, Leboueuf, Duberry, Babayaro, Goldbaek, Di Matteo, Poyet, Nicholls, Vialli, Flo 

Cadangan: Hitchcock, Lambourde, Zola, Clement, Percassi

InggrisChelseaArsenalLiga Primer InggrisIn Depth Sports

Berita Terkini