x

Kisah Transformasi Mitra Kukar di Persepakbolaan Indonesia

Sabtu, 23 Januari 2016 14:21 WIB
Editor: Randy Prasatya

Tim kebanggan warga Tenggarong, Kalimantan Timur, sejatinya memilik kisah yang cukup menarik. Mereka perlahan bangkit dan bertransformasi sejak mengalami kendala keuangan di Surabaya.

Tanah Kalimantan Timur itupun menjadi awal kebangkitan dan wajah baru untuk Mitra Kukar. Suntikan dana segar membuat mereka mampu bersaing dengan klub-klub kuat di Indonesia.


Foto: Skuat Mitra Kukar 2011/12

Bahkan, pada saat ini Mitra Kukar berhasil menunjukan penampilannya yang apik selama di PJS sejak dibesut oleh Jafri Sastra. Mereka bisa menaklukan Arema Cronus, yang lebih diunggulkan di ajang ini. Hadir di Stadion Kanjuruhan pada leg kedua dan tekanan dari suporter tim lawan tidak menyulutkan nyali mereka dalam melakukan duel adu penalti.

Menjelang laga final PJS, INDOSPORT akan menceritakan kisah perjalanan panjang klub asal Kalimantan Timur itu hingga menjadi Mitra Kukar.


1. Evolusi Niac Mitra

NIAC MITRA VS ARSENAL england (2-0), 12 Juni 1983, stadium 10 November, Surabaya.

Awal mula Mitra Kukar adalah klub Niac Mitra asal Surabaya yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Mitra Surabaya. Bahkan, Niac Mitra mempunyai prestasi menarik di tahun 1983, yang saat itu mampu menumbangkan Arsenal 2-0

Ketika Mitra Surabaya terdegradasi ke Divisi I Liga Indonesia pada tahun 1999, klub ini dibeli pemilik Barito Putra dari Banjarmasin yakni H. Sulaiman HB dan pindah markas ke ibu kota Kalimantan Tengah, Palangkaraya. Sejak itu Mitra Surabaya berganti nama menjadi Mitra Kalteng Putra (MKP).

Namun, pergantian pemilik dan nama tidak serta merta langsung membuat mereka kuat. Pada 2001, MKP harus terlempar ke Divisi II Liga Indonesia. Di sana mereka mengalami kesulitan keuangan untuk menjalani roda kompetisi dan terpaksa melakukan perubahan manajemen demi menghidupi klub. Setelah berganti, MKP pun pindah markas ke Kabupaten Kutai Kartanegara dengan status dipinjamkan.

Di bawah manajemen yang diketuai H Suryanto Anwar dan Manajer Tim Endri Erawan, MKP akhirnya berganti nama menjadi Mitra Kukar saat menjalani kompetisi Divisi II Liga Indonesia musim 2003. Mereka juga tidak membutuhkan waktu lama  untuk berada di Divisi II. Naga Mekes kemudian kembali ke kompetisi Divisi I Liga Indonesia pada musim 2004.


2. Resmi Milik Kabupaten Kutai Kartanegara

Trio asal Brazil Arthur Cunha (bek), Rodrigo Dos Santos (gelandang) dan Patrick Dos Santos (penyerang).

Di tahun 2005 lembaran baru kembali dimulai. Kabupaten Kutai Kartanegara akhirnya memberanikan diri untuk membeli Mitra Kukar dari H. Sulaiman HB dengan harga Rp. 1,5 milyar. Perombakan manajemn pun langsung dilakukan. H. Sugiyanto diangkat sebagai Ketua Umum menggantikan H. Suryanto Anwar.

Sejak perubahan kepengurusan tersebut, nuansa perkembangan Mitra Kukar baru terlihat di musim kompetisi 2008/09. Saat itu mereka mampu menembus delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia (perubahan nama dari Divisi I).

Namun, kesempatan untuk melaju ke tingkat yang lebih tinggi harus kandas saat tersisi di Grup 2, yang saat itu tergabung dengan Persisam Putra Samarinda, Persebaya Surabaya, dan Persidago Gorontalo.

Di musim berikutnya, momentum keberhasilan melaju ke babak delapan besar ternyata tidak menjadikan mereka penuh semangat di musim 2009/10. Saat itu mereka hanya mampu finis di peringkat delapan dan gagal menyamai prestasi musim sebelumnya.

Kemerosotan musim 2009/10 ternyata dapat mereka obati di musim 2010/11. Mereka berhasil promosi ke Indonesia Super League (ISL) setelah keluar sebagai tim peringkat tiga di babak knock out Divisi Utama.


3. ISL Pertama dan Konflik Dualisme

Mitra Kukar saat tampil di ISL 2014.

Pada musim 2011/12 Mitra Kukar berhasil merasakan kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia sejak bertransformasi dari Niac Mitra. Namun, pada saat itu ISL bukan menjadi kompetisi yang resmi di bawah kepemimpinan PSSI era Djohar Arifin Husain.

Klub asal Tenggarong ini justru lebih memilih tetap bergabung dengan ISL di bawah komando La Nyalla Matalitti bersama KPSI-nya ketimbang IPL yang menjadi kompetisi resmi. Jika merujuk dengan statuta FIFA, ISL memang sudah tidak lagi menjadi kompetisi yang resmi pada saat itu, namun mereka mampu bertahan di ISL setelah finis di posisi 9.

Di musim 2013, hawa segar datang menghampiri tim Mitra Kukar. Mereka berhasil tampil mengejutkan dengan bercokol di posisi tiga klasemen ISL. Bahkan, mereka hanya kalah satu poin dari Arema Cronus di posisi dua, yang pada akhirnya berhak menjadi wakil Indonesia di ajang AFC Cup.

Sebagai catatan, di musim 2013 ISL pun kembali menjadi kompetisi yang resmi setelah Ketua PSSI dan Ketua KPSI menandatangan MoU penyatuan yang diprakarsai oleh FIFA dan AFC


4. Liga Melebur dan Delapan Besar

Perayaan salah satu gol Mitra Kukar saat menaklukan Persija 3-1 di ajang PJS.

Di musim ketiganya bermain di ISL dan meleburnya tim ISL dan tim IPL membuat atmosfer sepakbola kembali bergairah. Di musim 2014 pun PSSI membuat format liga menjadi dua wilayah.

Bermain di wilayah Timur, Naga Mekes berhasil melaju ke babak delapan besar setelah finis di urutan tiga klasemen wilayah Timur.

Di babak delapan besar, Mitra Kukar tergabung di Grup B bersama dengan Persib Bandung, Pelita Bandung Raya (PBR) dan Persebaya Surabaya. Namun, di grup itu mereka tidak berhasil melaju ke babak semifinal setelah hanya bercokol di posisi tiga.

Akan tetapi, pada ajang Piala Jenderal Sudirman ini, Mitra Kukar berhasil melaju ke babak final di saat sepakbola Indonesia sedang mati suri.

ArsenalMitra KukarPiala Jenderal SudirmanIn Depth Sports

Berita Terkini