x

Rekam Jejak Almarhum Djoko Susilo dalam Perubahan Sepakbola Indonesia

Selasa, 26 Januari 2016 15:58 WIB
Editor: Randy Prasatya

Sejak menjabat di Kedubes Swiss pada 2010, Djoko Susilo memilik andil besar dalam konflik dualisme di persepakbolaan Indonesia antara PSSI vs KPSI. Di Swiss, dia sangat rajin menjembatani komunikasi PSSI era Djohar Arifin kepada jajaran FIFA yang berkantor di Zuric, Swiss.

Setelah selesai menjabat sebagai Dubes RI di Swiss, Djoko Susilo tetap terlibat aktif dalam upaya perubahan sepakbola di Indonesia hingga menghembuskan nafas terakhir.

Untuk mengenang dedikasi Djoko Susilo di dunia sepakbola, INDOSPORT akan merangkum rekam jejak beliau dalam upaya memajukan sepakbola Tanah Air.


1. Berawal di Swiss pada 2011

Mantan wartawan dan anggota Dewan ini bukan diplomat sembarangan. Djoko tak ragu melawan arus demi membela kehormatan negara di panggung internasional, termasuk perihal di sepakbola.

Tahun 201i, karut marut sepakbola Indonesia dimulai. Dualisme muncul setelah kubu pemberontak PSSI era Nurdin Halid mendirikan sebuah kompetisi Indonesia Premier League (IPL). Perjalanan kompetisi tersebut berupaya untuk menjalankan sistem kompetisi yang baik dan tertata.

Buntut panjang dari IPL ini pun menghadirkan ketegangan terkait intervensi pemerintah kepada PSSI untuk segera membenahi sepakbola Indonesia agar tak terjadi dualisme kompetisi. Namun, hal itu tak diindahkan oleh PSSI di era Nurdin Halid.

Akibat hal tersebut, saat itu, Menpora yang masih dipimpin Andi Mallarangeng meminta Djoko, selaku Dubes RI di Swiss, untuk membantu menjernihkan situasi.

Melalui telepon, Menpora memintanya melakukan komunikasi sekaligus mengklarifikasi kepada FIFA. Djoko diharapkan dapat menjelaskan tudingan intervensi pemerintah dalam tubuh PSSI kepada FIFA yang bermarkas di kota Zurich, Swiss.

Selain itu, Djoko Susilo tenyata banyak menemukan fakta-fakta yang janggal terkait perilaku PSSI saat berhubungan dengan FIFA di Swiss. Seluruh hal yang diungkap pria 55 tahun itupun cukup membuat pecinta sepakbola Indonesia tercengang, salah satunya saat PSSI era Nurdin Halid tak pernah mengontak Dubes RI di Swiss saat berkunjung ke Zuric.


2. Tim Sembilan

Setelah pensiun sebagai Duta Besar RI di Swiss, Djoko Susilo direkrut oleh Menpora untuk masuk ke dalam jajaran Tim Sembilan. Di sana dia bersama rekan lainnya menuntut PSSI dan PT. Liga Indonesia untuk memverifikasi klub-klub perserta ISL.

Namun, pada akhirnya banyak klub-klub yang tidak memenuhi syarat kelayakan untuk mengikuti kompetisi ISL. Alhasil, Tim Sembilan bersama Kemenpora dan BOPI tidak mengizinkan kompetisi ISL berlangsung.


3. Tim Transisi

Setelah tugas Tim Sembilan selesai, Menpora kembali mengajak Djoko Susilo masuk ke dalam Tim Transisi bentukan Kemenpora. Di sana dia bersama tim barunya dituntut untuk mampu mengerjakan tugas-tugas lain dalam rangka menciptakan tata kelola sepakbola yang baik.

Selain tugas tersebut, Djoko Susilo pada pertengahan Januari 2016 ini menyatakan jika Tim Transisi tengah berupaya menyiapkan Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI.

Politikus Partai Amanat Nasional yang juga anggota Tim Kecil bentukan Presiden Joko Widodo dan FIFA itu yakin bahwa reformasi sepakbola hanya bisa diraih bersama orang-orang yang mau melakukannya.

FIFAPSSIDjoko SusiloTim Transisi

Berita Terkini