Mengenang Kekejaman Mafia Sepakbola di Italia
Minggu, 29 Oktober 2006, kala itu kawasan Eropa tengah memasuki musim gugur. Lazimnya musim gugur di negara Eropa, masyarakat disana sangat suka lakukan kegiatan di luar ruangan.
Hal sama juga dilakukan oleh pesepakbola muda yang saat itu tercatat sebagai pemain Bari, Giovanni Montani. Pagi itu menggunakan sedan mungil dengan kapasitas bensin 1,6 liter, Nissan Micra, Montani telusuri jalan di distrik San Paolo, Bari.
Giovanni Montani, pemain muda Bari yang tewas ditangan mafia.
Namun suasana hangat di musim gugur kala itu langsung berubah jadi kelabu kala mobil Montani dipepet oleh sepeda motor yang diisi dua orang. Tanpa banyak basa-basi memberondong Montani dengan tembakan sebanyak 7 kali.
Montani gugur di musim gugur 2006. Ia jadi korban keganasan praktek mafia sepakbola Italia. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa pemain yang digadang-gadang akan jadi pemain masa depan Italia harus head to head dengan mafia sepakbola?
Aksi fans AS Bari di kandang mereka, Stadion San Nicola.
Berikut kisah kelam perjalanan hidup Giovanni Montani, korban tewas praktek jahat mafia sepakbola di Italia untuk pembaca setia INDOSPORT:
1. Kawasan Mafia
Jika kita pernah membaca novel The Goodfather tentu mengetahui bahwa kawasan Italia Selatan merupakan wilayah penguasaan mafia. Bari merupakan salah satu kota yang terletak di wilayah selatan Puglia, daerah yang memiliki track record soal keterlibatan mafia di Serie A Italia.
Mafia lokal di kawasan ini seperti dilansir thegentlemanultra.com telah ada sejak 1970-an silam. Mafia lokal itu bernama Sacra Corona Unita. Bos besar Sacra Corona ialah keluarga Raffaele Cutolo yang notabene ialah bos pertama kelompok mafia ini.
Kelompok ini secara turun temurun selalu terlibat di sepakbola. Pada 2011 saja misalnya, lebih dari 100 orang ditangkap oleh Kejaksaan Italia terkait kasus match fixing yang dikenal dengan nama skandal 'Ultima Scommessa'. Tiga klub terlibat dalam skandal ini, Bari, Napoli dan Cremona.
Meski 100 orang telah ditangkap namun praktek match fixing yang dikelola kelompok mafia tetap tidak selesai. Ini masalah yang sudah berakar dan sangat rumit untuk diurai.
2. Keluarga Mafia
Maka kemudian tidak terlalu 'mengherankan' jika ada seorang pesepakbola muda Italia, Giovanni Montani harus pensiun dini dari sepakbola karena bersinggungan dengan mafia. Kondisi geografis Montani tinggal disesaki oleh orang-orang brutal.
Fakta juga menyebut bahwa kematian Montani lebih kepada persaingan antar kelompok mafia lokal di Bari. Montani ternyata ialah seorang keturunan dari keluarga Montani yang juga memiliki pengaruh luar biasa di kalangan mafia lokal.
Paman dari Montani, Andrea Montani dipenjara sejak 1991 silam karena bisnis keluarga tersebut. Anak dari Andrea, Salvatore kemudian meneruskan bisnis keluarga tersebut. Meskipun ayah dari Giovanni Montani pernah menyebut anaknya sama sekali tidak terkait kelompok mafia Montani namun Giovanni sangat akrab dengan sepupunya, Salvatore Montani.
3. Aksi Balas Dendam
'Menariknya' kematian Giovanni ternyata akibat tindakannya yang lari saat pecah insiden kematian Salvatore Montani sebelumnya, mengapa begitu? Di kalangan mafia Italia ada hukum tak tertulis bahwa mata harus dibayar dengan mata.
Giovanni dianggap terlibat dalam kasus pembunuhan sepupunya tersebut oleh kolega Salvatore, ia harus menerima ganjaran yakni hukuman mati. Sang eksekutor ialah anak buah dari Salvatore Montani, Gaetano Capodiferro bersama dengan Joseph Amoruso.
Kabar kematian Montani membawa duka mendalam di skuat Bari. Pelatih tim muda Bari, Enzo Tavarilli saat itu menyebut bahwa sepakbola Italia telah kehilangan pemain mudanya begitu juga dengan kiper Bari, Jean Francois Gillet. Gillet mengatakan,
"Dia pernah mencetak gol yang bagus kala itu, aku memuji dia dan dia tersenyum ke arahku, senyumnya seperti matahari,"
Pada musim gugur 2006, Italia harus kehilangan 'senyum' secerah matahari di musim gugur.