5 Cerita Unik di Balik Kemenangan 2-1 Barca Atas Atletico
Pada babak pertama laga, Barcelona terlihat sangat kesulitan menembus pertahanan disiplin yang dibangun Atletico Madrid. Sampai akhirnya tim asuhan Luis Enrique sedikit frutrasi dan ditekan pasukan Diego Simeone lewat counter attack yang cukup merepotkan.
Petaka akhirnya datang setelah Fernando Torres berhasil membungkam publik Camp Nou dengan satu golnya di menit ke-25. Barcelona terlihat makin kesulitan mencari peluang mencetak gol meski cukup mendominasi permainan.
Fernando Torres berhasil membuat Atletico Madrid unggul 0-1 lebih dulu atas Barcelona
Situasi lalu berubah usai Torres diusir wasit dari lapangan akibat mendapatkan kartu kuning kedua di menit ke-35. El Barca lebih nyaman bermain dan menciptakan peluang setelah Los Rojiblancos hanya bermain dengan 10 pemain hingga akhirnya Luis Suarez sukses mencetak sepasang gol.
Fernando Torres diusir dari lapangan setelah mendapatkan kartu kuning kedua
INDOSPORT merangkum sejumlah cerita menarik usai Barcelona hanya berhasil menang tipis 2-1 atas Atletico pada laga leg pertama perempat final Liga Champions di Camp Nou.
1. Resiko Skema 4-3-3 ala Simeone
Diego Simeone tentu tak ingin kembali kehilangan muka di hadapan Barcelona setelah tak pernah menang dalam 6 laga terakhir kontra tim asuhan Luis Enrique. Datang ke Camp Nou, Simeone justru menerapkan skema yang menyimpang seperti yang ia gunakan biasanya.
Simeone memasang dua sayap cepat dan energik seperti Antoine Griezmann dan Yannick Ferreira-Carrasco. Sebagai ujung tombak, pelatih asal Argentina memasang Fernando Torres. Kedua sayap Atletico tersebut terbukti sempat bermain cukup baik.
Pilihan skema 4-3-3 Simeone tersebut kemungkinan besar terinspirasi dari keberhasilan Real Madrid yang menang 1-2 atas Barcelona pada laga La Liga akhir pekan kemarin.
Namun, skema tersebut tak bekerja dengan baik terutama peran Torres. Mantan striker Liverpool tersebut tampil tak terlalu menjanjikan. Torres beberapa kali kehilangan bola dengan mudah dua kali di menit-menit awal laga dan gagal terhubung dengan baik dalam permainan seperti yang diinginkan Simeone.
2. Torres, From Zero to Hero
Ungkapan ‘from zero to hero’ memang layak disematkan untuk Fernando Torres yang sempat memberikan harapan bagi Atletico usai mencetak gol. Sayang, kisah kepahlawanan Torres hanya berlangsung 10 menit karena ia harus diusir keluar oleh wasit usai menerima kartu kuning kedua.
Sebenarnya keputusan wasit menghadiahi Torres dua kartu kuning masih bisa diperdebatkan. Sebagian besar pendukung Atletico tak sepakat dengan pengusiran Torres karena pelanggaran yang dilakukan El Nino tak terlalu beresiko.
Cerita kepahlawanan Torres yang berujung kemalangan ini sepertinya serupa dengan perjalanan kariernya saat ini. Torres pernah berharap saat ia kembali ke Vicente Calderon sebagai pemain Atletico lagi bahwa ia ingin meraih trofi dengan klub masa kecilnya.
Namun, situasi justru berubah saat ini. Torres tak terlalu dibutuhkan tim seperti dulu. Kisah tersebut tentu menegaskan bahwa Torres yang dulu pernah berjaya bersama Atletico sebagai pahlawan kini harus tersingkir dari andalan skuat utama.
3. Perubahan ke Skema 4-4-1
Sementara Torres berjalan keluar lapangan usai menerima kartu merah, Simeone langsung sigap menyusun rencana ulang dalam skemanya yang saat itu bermain dengan 9 pemain dan satu orang kiper.
Simeone dengan jelas memberikan perintah kepada kapten Atletico, Gabi untuk bermain dengan skema 4-4-1, “Empat ... empat ... satu,” kata Diego Simeone.
Skema 4-4-1 ini lebih mirip dengan sistem yang biasa mereka mainkan. Sebuah skema yang membuat Atletico memiliki pertahanan yang solid yang sangat sulit ditembus oleh Barcelona. Namun, skema tersebut tetap sulit untuk membuat Atletico bertahan dengan gempuran serangan Barcelona.
4. Tendangan Salto Messi dan Sepakan Placing Neymar
Dari 3 penyerang Barcelona, hanya Suarez yang akhirnya berhasil mencetak gol dengan total dua gol ke gawang Atletico. Sementara Messi dan Neymar gagal mencetak gol meski sebenernya keduanya memiliki peluang emas untuk mencetak gol dengan cara tak biasa.
Messi hampir saja mencetak gol indah dengan sepakan bicycle kick ke gawang Atletico. Sayang, sepakan Messi hanya melenceng tipis di samping gawang yang dikawal Jan Oblak.
Sementara Neymar jelas hamper mencetak gol fantastis lewat sepakan placing keras ke sudut gawang. Namun, sepakan Neymar tersebut hanya membentur mistar gawang Atletico.
5. Pembuktian Luis Suarez Sebagai Predator Utama Eropa
Seperti yang berlangsung pada babak pertama, Barcelona kesulitan menembus 11 pemain Atletico. Sementara pressing tinggi yang diterapkan Atletico benar-benar membuat El Barca kelimpungan.
Situasi berubah saat Torres mendapatkan kartu merah. Barcelona lebih leluasa menekan dan akhirnya mencetak dua gol lewat aksi Luis Suarez. Barcelona memanfaatkan lebar lapangan agar bisa memanfaatkan lebar lapangan dan memanfaatkan kecenderungan Atleti untuk bermain lebih sempit di area pertahanan sendiri.
Hal tersebut terbukti lewat dua gol Suarez yang berasal dari sisi sayap yang melebar. Gol pertama tercipta lewat assist Jordi Alba dari sisi kiri serangan. Sementara gol kedua berawal dari umpan crossing Dani Alves di sisi kanan serangan Barcelona.
Sepasang gol tersebut membuktikan bahwa Suarez merupakan predator utama di pentas Eropa.