x

Petualangan Bintang Barcelona Era 90-an di Pentas Eropa (PART II)

Kamis, 14 April 2016 19:00 WIB
Editor: Ahmad Priobudiyono

Kehadiran sosok Gheorge Hagi diakui sebagai berkah terbesar dalam perjalanan sejarah sepakbola Rumania. 

Sosok mungil yang selalu disandingkan dengan sosok legenda Maradona itu telah menjadi mercusuar yang membuka mata pandang dunia untuk negara yang memiliki luas wilayah 238.391 km persegi di sebelah tenggara Eropa.

Bagaimana tidak, meskipun Rumania telah berjuang sekuat tenaga dari tahun 1930 untuk berbicara dalam kancah sepakbola dunia, namun kehadiran mereka tidak pernah dipandang sebagai sebuah kekuatan yang di perhitungkan.

Kehadiran Rumania di pentas Piala Dunia sejak 1930 dipandang sebagai tim pelengkap yang fungsinya hanya sebagai penghibur.

Pasalnya, mereka memiliki puluhan ribu pendukung fanatik yang selalu siap untuk bersorak-sorai di atas tribun menemani timnya berjuang meskipun selalu menjadi bulan-bulanan tim-tim negara lain.

Begitu pula halnya di kancah Eropa, Rumania terus berjuang untuk lolos ke putaran final Piala Eropa sejak pertama kali turnamen itu digelar pada tahun 1960, namun mereka baru bisa lolos pada tahun 1984.

Namun semua itu berubah saat Hagi hadir dengan segala kehebatannya yang membuat orang lupa bahwa sebuah tim sepakbola adalah berjumlah 11 orang.

Menyambung ulasan sebelumnya, Meneropong Kisah Hidup 'Maradona dari Carpathians' (PART I), INDOSPORT mengulas lebih dalam perjalanan karier dan kiprah sosok legenda Gheorghe Hagi di kancah sepakbola Benua Biru Eropa.


1. Sportul Studentes-Steaua Bucuresti

Mengawali perjuangan kariernya di dunia sepakbola dengan tetesan keringat dan air mata keprihatinan dari kisah buram kehidupan masa kecilnya, Hagi pantang menyerah untuk mewujudkan cita-cita dan harapannya.

Bertahun-tahun merintis karier dan mengasah kemampuannya dari belakang gawang sebagai seorang anak gawang, kemampuan Hagi semakin matang dari hari ke hari. 

Tahun 1982 ia mulai dipercaya untuk mendapat jam terbang bersama tim senior Farul Constanta.

Satu musim menjalani debut awal profesionalnya bersama Farul Constanta di Divisi I Rumania, Hagi menunjukkan ketajaman dan visi bermainnya dengan memainkan 18 penampilan dan mengoleksi delapan gol.

Catatan tersebut cukup untuk membuktikan dirinya siap untuk mengarungi kompetisi yang lebih besar pada musim berikutnya.

Musim 1983/1984, Hagi direkrut Spurtul Bucuresti. Namun musim pertamanya tidak berjalan mulus karena tidak mendapatkan posisinya idealnya. Satu musim dilaluinya dengan hanya mencetak dua gol dengan posisinya sebagai gelandang bertahan.

Butuh satu musim bagi pelatihnya untuk menemukan sisi kejeniusan Hagi di lapangan, sebelum akhirnya ia menyumbangkan koleksi 51 golnya untuk tim dalam dua musim terakhir.

Kendati demikian, empat musim penuh perjuangan di Spurtul Bucuresti, publik sepakbola Rumania saat itu untuk pertama kalinya dihibur dengan kemampuannya melakukan tendangan bebas indahnya yang dikemudian hari menjadi ciri khas dan identitasnya.

Bakat luar biasa Hagi pun mulai dilirik tim raksasa Rumania saat itu, Steaua Bucuresti tengah membangun hegemoni di kancah sepakbola Eropa dan bersiap tampil di final Piala Super Eropa melawan Dynamo Kiev. 

Hagi pun bergabung bersama dengan perjanjian awal sebagai pemain cabutan dengan kontrak satu pertandingan di partai final. 

Tampil sebagai pemain cabutan Hagi tampil luar biasa karena selain berperan penting dalam mengatur ritme permainan ia juga berhasil mencetak satu-satunya gol yang membawa tim memenangkan trofi.

Steaua yang terkesan dengan penampilannya pun enggan melepasnya dan memaksanya untuk bertahan untuk tidak kembali ke Spurtul Bucuresti.

Hagi pun akhirnya berlabuh di Steaua Bucuresti setelah menandatangani kontrak tiga tahun mulai dari 1987 hingga 1990. Tiga tahun di Steaua, Hagi tampil produktif dengan mencetak 76 gol dari 97 penampilan.

Catatan tersebut berhasil mengantarkan Steaua tiga kali meraih gelar juara Liga dan Piala Rumania pada tahun 1987, 1988, dan 1989. Hagi juga mengantarkan Steaua ke partai semifinal Piala Eropa.

Kiprahnya itu berhasil menarik minat klub besar Eropa seperti AC Milan dan Bayern Muenchen yang tengah berada pada masa keemasan untuk memboyongnya. Namun Hagi menolak. 


2. Madrid-Brescia-Barcelona

Penampilan gemilang Hagi selama tiga musim bersama Steaua membuatnya benar-benar menarik perhatian klub-klub raksasa Eropa. 

Ditambah lagi Hagi juga berperan membawa timnas Rumania melaju ke babak kedua putaran final Piala Dunia 1990 yang merupakan penampilan mengejutkan Rumania sepanjang sejarah penampilan mereka di pentas turnamen terbesar sepakbola dunia.

Usai gelaran Piala Dunia 1990, Real Madrid akhirnya berhasil menggodanya untuk berlabuh di negeri Matador, Spanyol. Hagi ditebus oleh Real Madrid dengan harga 4,3 juta dollar dari Steaua Bucuresti.

Publik Santiago pun bergembira dan menyambut kedatangannya dengan sukacita dan berharap bisa melihat penampilan luar biasa Hagi ketika masih membela Steaua Bucuresti dan Piala Dunia 1990.

Namun, dua musim berlabuh di Santiago Bernabeu, Hagi tampaknya tidak bisa menjalin hubungan harmonis dengan pihak klub. Ia kerap terlibat dalam sejumlah perbedaan pendapat dan gagal mempersembahkan gelar juara La Liga untuk Los Blancos.

Hagi memainkan 61 penampilan selama dua musim di Real Madrid dan berhasil menyumbangkan 14 koleksi golnya untuk klub sebelum akhirnya ia memilih untuk hengkang ke klub Italia, Brescia pada tahun 1992.

Sayangnya peruntungan Hagi kurang begitu baik di negera Pizza. Musim pertamanya pada 1992/93 harus ditandai dengan lengsernya Brescia dari Serie A karena terdegradasi ke Serie B. 

Meskipun menjalani kompetisi kasta kedua di Italia, Hagi menunjukkan jiwa patriotnya dengan terus bertahan dan berjuang membantu Brescia menjuarai Serie B dan kembali promosi ke Serie A pada musim 1993/94.

Dua musim di Italia, Hagi sepertinya masih penasaran untuk mendulang sukses di negeri Matador. Tahun 1994, usai membawa Rumania melaju ke perempat final, Hagi kembali mendapat tawaran dari raksasa La Liga lainnya, Barcelona.

Namun, negeri Matador sepertinya tampaknya kurang bersahabat bagi karier sepakbola Hagi. Dua musim bersama Barcelona, Hagi hanya memainkan 36 laga dan cuma mampu menyumbang tujuh gol.

Sebuah pencapaian yang bisa dikatakan tidak memuaskan mengingat saat itu dirinya telah menyandang status sebagai pemain papan atas dunia.


3. Galatasaray

Gagal bersinar di negeri Matador, sinar Hagi tidak lantas meredup ia pun masih menjadi magnet kuat bagi sejumlah klub raksasa Eropa.  

Adalah klub raksasa Turki yang tengah membangun kekuatan hegemoni mereka di kancah sepakbola Eropa tanpa ragu-ragu menawarkan kontrak untuk bergabung pada tahun 1996.

Keputusan Barcelona untuk melepas Hagi tampaknya salah besar meskipun mungkin Spanyol memang bukanlah negeri yang bersahabat bagi karier Hagi.

Bersama Galatasaray, Hagi kembali menemukan masa-masa keemasannya dan tak butuh waktu lama baginya untuk menjadi tokoh dan pahlawan yang dielu-elukan masyarakat Turki.

Galatasaray bisa dibilang rumah kedua bagi Hagi. Bermain dengan sepenuh hati dan jiwanya, Hagi menjadi sosok penting yang mengantarkan Galatasaray meraih gelar Liga selama empat tahun berturut-turut.

Masa-masa indah Hagi bersama Galatasaray terus berlanjut meskipun usia Hagi saat itu tidak lagi muda. 

Pada tahun 2000, di saat usianya 35 tahun Hagi membantu Galatasaray memenangkan Piala UEFA setelah menumbangkan Arsenal secara dramatis partai final. Galatasaray berhak membawa pulang trofi setelah menang 4-1 atas Arsenal melalui drama adu penalti.

Bagi Hagi, pertandingan itu mungkin tidak akan dapat dia lupakan selama hidupnya, karena dirinya harus menerima kartu merah setelah meninju wajah kapten Arsenal, Tony Adams.

Satu lagi gelar dan kemenangan bersejarah Galatasaray yang berhasil dipersembahkan Hagi untuk Galatasaray adalah saat ia mengantarkan klub Turki tersebut meraih gelar Piala Super Eropa. 

Penampilan Hagi yang usianya tak lagi muda saat itu mengundang decak kagum legenda sepakbola Prancis, Luis Fernandez yang menyebutnya tua-tua keladi.

"Hagi seperti anggur, semakin tua, semakin baik dia," kata Fernandez.

Publik Galatasaray sangat menghormati dan mencintai Hagi, mereka bahkan menjulukinya dengan julukan 'Komandan' dan menciptakan sebuah lagu khusus berjudul "Aku Cinta Kamu Hagi" yang selalu dinyanyikan saat Hagi bermain untuk klub kebanggaan mereka.

Real MadridBarcelonaGalatasarayRumaniaGheorghe Hagi

Berita Terkini