x

8 Klub paling Buruk yang Terdegradasi di Liga Primer Inggris

Selasa, 19 April 2016 02:10 WIB
Editor:

Aston Villa sebenarnya bukan klub kecil di Liga Primer Inggris. Mereka masuk dalam jajaran klub menengah di klasemen. Bahkan klub ini pernah meraih titel gelar Eropa pada 1981/1982 silam. 

Sayang perfomance buruk musim ini bawa klub yang bermarkas di stadion Villa Park itu turun kasta. Lebih mirisnya lagi, raihan Aston Villa di musim ini menempatkan mereka bersama 8 klub lain yang juga pernah terdegradasi dari Liga Primer Inggris dengan segudang hasil buruk selama semusim. 

Siapa-siapa klub yang pernah alami prestasi buruk selama semusim kemudian turun kasta? berikut 10 klub paling buruk yang terdegradasi dari Liga Primer Inggris seperti dilansir Sportsmail: 


1. Cardiff (musim 2013/2014)

Vincent Tan (Cardiff City)

Klub asal Wales ini masuk ke kasta tertinggi Liga Inggris saat dipimpin oleh pengusaha asal Malaysia, Vincent Tan. 

Penampilan yang naik turun dan tak pernah beranjak dari zona merah membuat klub ini gonta ganti pelatih. Malky Mackay yang loloskan Cardiff ke Liga Primer Inggris dipecat pada Agustus 2013. 

Perannya digantikan oleh mantan penyerang Man United, Ole Gunnar Solskjaer. Sayang, si 'Baby Face' ini tak mampu menyelamatkan Cardiff. Cardiff hanya semusim di Liga Primer Inggris. 

Cardiff hanya mampu meraih 30 poin hingga akhir musim, hasil 7 kali kemenangan, 9 kali seri dan 22 kali kalah. Total gol kemasukan mereka lebih besar daripada memasukan yakni 74:32. 


2. Bradford (musim 2000/2001)

Pada awalnya, Bradford sempat jadi buah bibir pemberitaan di Liga Primer Inggris musim 2000/01, pasalnya mereka mampu kalahkan Liverpool 1-0. 

Sayang penampilan mereka kemudian semakin menurun. Pecat pelatih jadi solusi yang dilakukan manajemen. Tiga orang pelatih yang secara bergantian menangani Bradford gagal bawa tim ini lolos dari jurang degradasi. 

Lebih miris dari Cardiff di musim 2013/14, Bradford di akhir musim Liga Primer Inggris hanya mampu meraih lima kemenangan dan meraih 16 poin saja. 


3. Swindon (musim 1993/1994)

Liga Primer Inggris musim 1993/93 kedatangan tim debutan. Mereka ialah klub yang bermarkas di stadion County Ground, Swindon Town FC. 

Klub kecil ini sedari awal sudah diprediksi akan jadi lumbung gol bagi klub mapan Liga Primer Inggris. Benar saja, di akhir musim klub ini harus menerima kenyataan pahit kebobolan sebanyak 100 gol. Bahkan saat Arsenal mengunci gelar juara di musim itu usai mengalahkan Swindon dengan skor telak 4-0. 

Pada musim itu, Swindon hanya mampu meraih 5 kali kemenangan, 15 kali seri dan 22 kali kalah dan mengemas 30 poin. 


4. Ipswich (musim 2001/2002)

Terdegradasinya Ipswich pada musim 2001/2002 ialah contoh nyata bahwa Liga Primer Inggris merupakan kompetisi paling kompetitif. 

Pasalnya Ipswich rasakan kekalahan dan permainan buruk justru usai Natal 2001 atau paruh kedua musim 2001/2002. Sebelumnya, Ipswich mampu bermain apik dan sempat membuat banyak orang memprediksi klub ini akan tampil di kompetisi Eropa musim berikutnya. 

Lebih parahnya lagi di musim 2000/2001, Ipswich merupakan wakil Inggris di ajang Liga Europa (Piala UEFA dulu) setelah mampu finish di urutan kelima. 


5. Portsmouth (2009/2010)

Masalah finansial juga salah satu penyakit untuk klub Liga Primer Inggris. Karena masalah ini sejumlah klub terima kenyataan pahit, bermain buruk dan kemudian turun kasta. 

Portsmouth di musim 2009/2010 merasakan betul hal tersebut. Mirisnya, di musim sebelumnya klub ini baru saja menjadi runner up Piala FA. Mereka terdegradasi usai di akhir musim hanya mampu mengemas 19 poin. 

Sejumlah fans pun kemudian lakukan langkah nyata usai klub ini turun kasta. Mereka membeli saham klub dan jadi pemilik klub yang kini bermain di kasta kedua Liga Inggris. 


6. QPR (2012/13)

Bisa dikatakan saat terdegradasi, Queens Park Rangers dihuni oleh sejumlah pemain bintang. Sebut saja eks kiper Inter Milan, Julio Ceasar, eks gelandang Man United, Park Ji Sung serta Esteban Granero yang pernah bela Real Madrid. 

Namun fakta akhir musim memperlihatkan semua itu tak berguna. QPR hanya mampu meraih 25 poin. Poin itu berasal dari 4 kali menang, 13 kali seri dan 21 kalah. 

QPR juga kebobolan sebanyak 60 gol dan hanya memasukan 30 gol. Bek Jose Bosingwa yang pernah antarkan Chelsea juara Liga Champions seakan tak berdaya membantu QPR saat itu. 


7. Sunderland (2002/2003 dan 2005/2006)

Sunderland jadi klub yang dua kali mengalami hasil buruk di Liga Primer Inggris. Pertama pada musim 2002/2003, saat itu Sunderland yang dihuni oleh Tore Andre Flo serta Kevin Phillips tak mampu menyelamatkan klub berjuluk The Black Cats itu lolos dari jurang degradasi. 

Kedua penyerang ini tumpul. Sunderland diakhir musim hanya mampu meraih 4 kali kemenangan, 7 kali seri dan 27 kalah. Total gol yang mereka cetak hanya 21 gol dan kebobolan 65 gol. 

Sunderland musim 2005/2006 seakan mengikuti jejak seniornya di 2002/2003. Pelatih kawakan Mick McCarthy tak mampu membuat Sunderland bermain apik. Mereka dipastikan terdegrdasi karena hanya mampu mengemas 15 poin atau beda empat poin dari Sunderland musim 2002/2003. 


8. Derby County (2007/2008)

Maret 2008 jadi bulan yang paling tak mau dikenang oleh fans Derby County. Di bulan itu, Derby dipastikan turun kasta usai meraih hasil imbang dengan Fulham 2-2. Pesaing terdekat mereka untuk lolos dari jerat degradasi saat itu, Birmingham tanpa diduga mampu kalahkan Man City dengan skor 3-1. 

Parahnya klub ini hanya mampu menang satu kali saat melawan Newcastle United 1-0 pada September 2007. Sisanya mereka kalah di 29 pertandingan dan 8 kali seri. Rekor kekalahan 29 pertandingan lebih baik jika melihat rekor klub ini yang pernah kalah sebanyak 32 kali. 

Berita Terkini