x

Kisah Pilu PSSI di Hari Jadi ke-86

Selasa, 19 April 2016 14:13 WIB
Editor: Tengku Sufiyanto

Tanggal 19 April merupakan momen yang selalu diingat oleh pecinta sepakbola Indonesia. Tepat hari ini, federasi sepakbola Indonesia, PSSI resmi merayakan hari jadinya yang ke-86.

Berbagai macam kisah menyelimuti induk sepakbola nasional tersebut. Meski begitu, perayaan hari jadi PSSI kali ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Mengingat, PSSI sedang dalam belenggu pembekuan yang dilakukan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi melalui SK Menpora Nomor 01307 per tanggal 17 April 2015.

Selain itu, kisah pilu sepakbola Indonesia dan PSSI terus berlanjut dengan sanksi yang diberikan oleh FIFA, akibat pembekuan tersebut. Induk sepakbola dunia tersebut menilai pemerintah ikut campur dalam urusan dunia bal-balan tanah air.

Akibat persoalan yang bertubi-tubi tersebut, kompetisi-kompetisi di Indonesia resmi dihentikan. Timnas Indonesia tidak dapat bermain di kancah internasional.

Begitu miris, sepakbola Indonesia sudah setahun mengalami mati suri. Hanya turnamen-turnamen yang mengisi kegiatan sepakbola nasional. Walaupun, PSSI berhasil memenangkan gugatan atas pembekuan di Pengadilan Tinggi Tata Usaha (PTUN) Jakarta.

Untuk itu, INDOSPORT akan mengulas kisah pilu PSSI di hari jadinya yang ke-86. Berikut ulasannnya:


1. Lahirnya PSSI

Terbentuknya PSSI berawal dari ide seorang insinyur sipil yang gemar dengan sepakbola bernama Soeratin Sosrosoegondo. Soeratin melihat sepakbola sebagai wadah terbaik untuk menyemai rasa nasionalisme di kalangan pemuda sebagai sarana untuk menentang penjajahan Belanda.

Untuk itu, Soeratin mengumpulkan tokoh-tokoh yang berasal dari tujuh klub Indonesia saat itu, pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta. Tujuh klub sepakbola tersebut, yakni Voetbalbond Indonesische Jacatra (Persija Jakarta), Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (Persib Bandung), Persatuan Sepakraga Mataram (PSIM Yogyakarta), Vortenlandsche Voetbal Bond (Persis SOlo), Madioensche Voetbal Bond (PSM Madiun), Indonesische Voetbal Bond Magelang (PPSM Magelang), dan Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (Persebaya Surabaya).

Pertemuan tersebut akhirnya melahirkan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Soeratin ditunjuk sebagai ketua umum pertama PSSI dalam kongres pertama di Solo pada tahun 1930. Selain itu, singkatan PSSI berubah menjadi Persatuan sepakbola Seluruh Indonesia.


2. Perkembangan PSSI dari Masa ke Masa

Dalam perkembangannya, PSSI terus melakukan inovasi dalam membangun sepakbola nasional, sejak kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Berbagai macam kisah suka dan duka menyelimuti induk organisasi sepakbola nasional tersebut.

Tercatat, ada 15 nama setelah Soeratin yang menjabat sebagai ketua umum PSSI. Mulai dari, Artono Martosoewignyo hingga La Nyalla Mattalitti. Kepengurusan PSSI juga meluas hingga tingkat daerah dalam perkembangannya.

PSSI juga tercatat sebagai anggota FIFA sejak tanggal 1 November 1952 pada saat kongres induk organisasi sepakbola dunia tersebut di Helsinki. Kemudian, PSSI juga resmi menjadi anggota anggota AFC (Asian Football Confederation) tahun 1952. Kemudian, PSSI menjadi pelopor terbentuknya ASEAN Football Federation (AFF) pada tahun 1984.

Selain itu, inovasi PSSI dalam membangun sepakbola di Indonesia tercemin dari beberapa perkembangan sistem kompetisi dari zaman ke zaman. Mulai dari era Perserikatan dan Galatama, Liga Indonesia, hingga Indonesia Super League (ISL).

Di level timnas, PSSI juga berhasil mencetak generasi emas timnas Indonesia. Salah satu generasi yang tidak akan terlupakan, ketika timnas Indonesia asuhan legenda Persija Jakarta, Sinyo Aliandoe hampir memastikan diri melangkah ke Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Sayang, langkah Bambang Nurdiansyah dan kawan-kawan harus terhenti di tangan Korea Selatan pada pertandingan terkahir sub grup III-B Zona Asia. Hermansyah cs kalah 0-2 di pertemuan pertama di Seoul, dan 1-4 di Jakarta.

Begitupun, generasi timnas Indonesia di SEA Games 1987 di Indonesia, Jakarta, dan timnas Indonesia di SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Kedua generasi timnas Indonesia tersebut berhasil mempersembahkan medali emas.

Pada SEA Games 1987, timnas Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 1-0 di laga final. Sementara itu, timnas Indonesia berhasil mengalahkan Thailand melalui adu tendangan penalti dengan skor 4-3 pada ajang SEA Games 1991.


3. Kisah Pilu PSSI di Hari Jadinya yang ke-86 Jilid 1

Setelah merebut emas di ajang SEA Games 1991, PSSI nampak kesulitan mencetak timnas Indonesia yang berkualitas. Bukannya merendahkan kepengurusan selanjutnya, faktor tersebut dipengaruhi banyaknya masalah yang datang di kubu organisasi sepakbola nasional tersebut. Hingga sampai akhirnya terjadi pada tahun 2015.

Awalnya, Badan Olahraga Profesional (BOPI) merekomendasi ISL berjalan tanpa Arema Cronus dan Persebaya Surabaya. Pasalnya, BOPI menyangka adanya sengketa kepemilikan legalitas dan akte perusahaan. Namun, ISL 2015 tetap dijalankan sesuai jadwal yang sudah ditentukan, walaupun sempat mengalami kemunduran kick off.

Atas persoalan tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi membekukan PSSI melalui SK Menpora Nomor 01307 per tanggal 17 April 2015. Saat pembekuan itu diterbitkan, PSSI tengah melakukan kongres pemilihan ketua umum di Surabaya. Sehari kemudian, La Nyalla Mattalitti terpilih sebagai ketua umum PSSI periode 2015-2019.

Namun, pemerintah melalui Kemenpora enggan mengakui kepengurusan PSSI di bawah La Nyalla. Pasalnya, La Nyalla terpilih setelah SK pembekuan PSSI diterbitkan Menpora.

Masalah tersebut telah berlanjut ketika seluruh kompetisi di Indonesia resmi dihentikan pada tanggal 2 Mei 2015. Pasalnya, SK pembekuan tersebut menjadi faktor pendorong pihak kepolisian untuk tidak mengeluarkan izin pertandingan.

Kisah pilu PSSI terus berlanjut. Pada tanggal 30 Mei 2015, FIFA resmi mengeluarkan sanksi bagi Indonesia, karena telah melanggar statuta FIFA pasal 13 dan 17. Pasalnya, pemerintah yang notabennya Kemenpora dan BOPI ikut campur dalam urusan sepakbola. Padahal, FIFA telah melarang segala bentuk intervensi dari pemerintah terhadap seluruh kegiatan sepakbola yang dilakukan federasi negara anggotanya.

Akibatnya, Indonesia tidak boleh berpartisipasi di ajang sepakbola internasional. Ajang internasional yang harus direlakan Indonesia, antara lain Kualifikasi Piala Dunia 2018, kualifikasi Piala Asia 2019, kualifikasi Piala Asia U-16 dan U-19, Piala Asia Futsal Wanita 2015, Kualifikasi Piala Asia Futsal 2016, dan Kualifikasi Piala Asia Futsal 2016.

Masalah tersebut membuat sepakbola Indonesia mati suri. Para pelaku sepakbola yang notabennya pemain, pelatih, wasit, dan klub seperti ilang arah.

Akhirnya, PSSI resmi mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Hasilnya, gugatan PSSI dimenangkan oleh PTUN pada tanggal 14 Juli 2015. Namun, Menpora hingga saat ini enggan mencabut SK pembekuan tersebut, karena ingin melakukan revolusi sepakbola Indonesia.


4. Kisah Pilu PSSI di Hari Jadinya yang ke-86 Jilid 2

Selanjutnya, PSSI tidak dapat menjalankan roda kegiatan sepakbola tanah air. Akhirnya, beberapa turnamen diadakan oleh pihak swasta untuk menjalankan roda kegiatan sepakbola tanah air. Turnamen tersebut bertajuk Piala Presiden 2015, Piala Jenderal Sudirman, Piala Bhayangkara dan lain-lain.

Di sisi lain, PSSI tidak dapat membentuk timnas Indonesia, karena tak dapat berpartisipasi di ajang internasional akibat sanksi FIFA. Indonesia pun harus mengalami kemerosotan di rangking dunia FIFA hingga ke posisi 185 per tanggal 7 April 2016.

Sementara itu, Tim Ad Hoc bentukan FIFA sebagai pihak yang menjembatani komunikasi PSSI dan Menpora, belum mendapatkan secercah harapan untuk menyelesaikan permasalahan konflik yang melanda persepakbolaan tanah air tersebut. Belum lagi, La Nyalla ditetapkan sebagai tersangka korupsi dana hibah Kadin tahun 2011 oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

Kini dihari jadinya yang ke-86, PSSI harus menerima kenyataan sederet kisah pilu tersebut. Meski begitu, seluruh pecinta sepakbola terus mendoakan PSSI agar tetap mewarisi segala bentuk perjuangan para pendirinya, terutama Soeratin Sosrosoegondo.

Semoga PSSI dan Menpora sama-sama mengakhiri segala polemiknya, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Agar sepakbola Indonesia bisa berjaya, dan terlepas dari sanksi FIFA saat kongres di Meksiko, 12 Mei mendatang.

Sehingga, para pecinta sepakbola Indonesia bisa mengobati kerinduannya melihat kompetisi resmi dan timnas Indonesia bertanding.

Dirgahayu PSSI, maju terus sepakbola Indonesia.

PSSI

Berita Terkini