4 Fakta Tersembunyi Tentang Bepe
Siapa yang tak kenal dengan Bambang Pamungkas? Sosok penyerang yang menyeramkan bagi penjaga gawang terlebih jika mendapatkan umpan silang dan melakukan sundulan.
Mengawali kariernya profesionalnya sebagai pesepakbola di tim ibu kota, Persija Jakarta, pria yang terkenal dengan nama Bepe ini berhasil mengemas 24 gol pada musim pertamanya di Liga Indonesia.
Dengan perolehan gol tersebut, tim divisi 3 Belanda, EHC Norad tertarik untuk merekrutnya.
Namun masalah keluarga serta gagal menyesuaikan diri dengan kondisi langit Eropa, EHC Norad hanya meminjamkan Bambang empat bulan saja dari Tim Macan Kemayoran.
Sampai akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kontrak atas persetujuan bersama.
Pemain yang identik dengan nomor punggung 20 ini menetap di Persija hampir kurang lebih selama 12 tahun (1990-2005, 2007-2012). Selama itu ia sudah mengemas 158 gol dari 282 penampilan.
Selain membela tim yang berbasis di Jakarta ini, suami Tribuana Tungga Dewi ini juga pernah memperkuat tim Malaysia, Selangor FA selama dua musim (2005) dan Pelita Bandung Raya satu musim (2013-2014).
Sedangkan di level timnas, pemain kelahiran Semarang ini sudah mengawali karirnya sejak usia 18 tahun dengan masuk U-19.
Di timnas senior sendiri, ia mengawali debutnya pada 2 Juli 1999 dengan mengikuti pertandingan persahabatan melawan Lituania.
Kurang lebih 13 tahun ayah dari Salsa Alicia, Jane Abel dan Syaura Abana mengawali karirnya di level negera sampai akhirnya resmi pensiun pada 1 April 2013.
Selama 13 tahun itu, Bambang masih menjadi pemegang rekor penampilan terbanyak (caps) dan top skorer untuk Indonesia dengan 83 penampilan dan 37 gol.
Namun, itu hanya segelumit kisah dari pasangan H. Misranto dan Hj. Suriptinah. Ia masih menyimpan banyak rahasia-rahasia yang belum terkuak ke publik.
INDOSPORT mencoba menguak fakta-fakta tersembunyi dari pemain yang identik dengan kumis tebal dan nomor 20 ini ke hadapan publik.
Berikut fakta-fakta tersembunyi mantan kapten Timnas Indonesia ini:
1. Tak Pernah Bermimipi Menjadi Pesepakbola Profesional
Bambang kecil tak penah sekali pun bermimpi untuk menjadi bintang lapangan hijau. Ia justru bercita-cita ingin menjadi guru.
Namun, seiring berjalannya waktu minatnya menjadi guru memudar usai masuk dalam sekolah sepakbola terbaik di Jawa Tengah, Diklat Salatiga di tahun 1996.
Tetapi dalam menjalankan profesi sepakbola ini, Bepe harus membuat kesepakatan tak tertulis dengan kedua orang tuanya, terutama ibunya.
Dalam kesepakatan itu pemain yang bisa beroprasi di depan gawang lawan ini harus dapat membuktikan kepada kedua orang tuanya maupun dirinya sendiri untuk menjadi pesepakbola sukses. Hal tersebut telah terbukti.
2. Alasan Dibalik Penolakan Pertandingan Tarkam
Mati surinya persepakbolaan di Tanah Air saat ini telah membawa dampak buruk bagi para pemain.
Terhentinya kompetisi akibat konflik yang melibatkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan PSSI memaksa pemain menempuh jalan berisiko, dengan mengikuti turnamen kampung atau tarkam demi mencari pemasukan tambahan.
Sebut saja pemain timnas Bayu Gatra dan punggawa Persib Zulham Zamrun. Kedua pemain ini sering mengikuti beberapa turnamen lokal demi mendapatkan penghasilan.
Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Bambang Pamungkas.
Meskipun ditawari dengan dana besar, Bepe tetap memegang teguh prinsipnya untuk tidak terlibat dengan pertandingan tarkam.
Mantan kapten timnas ini menjelaskan bahwa ia menolak untuk ikut terkam kerena tidak ingin mendapatkan cedera untuk hal yang sifatnya sepele.
"Berapa besar pun tawaran yang datang kepada saya, dengan sehalus mungkin akan saya tolak. Bukan kerena saya sombong atau merasa level saya di atas mereka," ujar Bepe saat menjadi pembicara pada acara #BEPE20Bicara "Battle of Life: Cinta versus Tanggung Jawab" di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Kamis (28/04) malam lalu.
"Tapi, lebih kepada saya ingin menjaga modal utama saya yakni kondisi agar selalu dalam kedaan baik dan siap pakai. Mengapa demikian, salah satu musuh terbesar seorang atlet adalah cedera. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk sebisa mungkin menghindarinya," tambahnya.
3. Selalu Bungkam Kepada Media
Pemain peraih penghargaan pemain terbaik Liga Indonesia tahun 2001 merupakan sosok pesepakbola yang langka. Ia dikenal oleh media sebagai pesepakbola yang tertutup dan pelit untuk bicara.
Sehingga memunculkan kesan sombong dan arogan dikalang pers.
Menurut ikon Persija ini hal tersebut sengaja ia dilakukan untuk menekan dirinya agar lebih berprestasi lagi dan sebagai bentuk kontroversi dirinya.
Sebab, setiap bintang pasti punya kontroversinya masing-masing.
"Seperti filosofis biji kopi jadi saya memerlukan tekanan untuk tetap membuat saya terjaga dan bekerja keras. Setiap bintang memiliki kontroversinya masing-masing. Jadi saya mohon maaf kepada rekan-rekan media, kalau saya sudah memanfaatkan mereka untuk memberikan tekanan terhadap diri saya," ujar Bepe.
4. Perasaan Menghadapi Persija
Pada tahun 2014 Bambang Pamungkas memutuskan untuk berkarir di Pelita Bandung Raya.
Untuk pertama kalinya pemin kelahiran 10 Juni 1980 akan menghadapi tim yang membesarkan namanya, Persija.
Bermain di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Senin (17/2/2014) silam, Bepe harus menjalankan dua hal yang bertolak belakang secara bersamaan yakni profesinalisme dan kecintaan kepada Macan Kemayoran.
Namun, penyerang asal Semarang tersebut mampu menjalankan kedua hal tersebut.
Ia mampu tampil profesional dengan menyarangkan dua gol ke gawang tim kebanggaan ibu kota dan tidak menyakiti Jakmania dengan tak melakukan selebrasi.