Perubahan Wajah Atletico Madrid di Era Simeone
Ya, hal yang paling terlihat dalam perubahan dialami Atletico adalah mental bertanding mereka. Simeone menyulap Diego Godin dkk menjadi tim yang sulit dikalahkan.
Selain itu, Simeone juga mampu membuat para pemain Atletico menikmati setiap pertandingan yang mereka mainkan baik ketika bertanding di kompetisi lokal atau Eropa.
Mengenai hal itu, INDOSPORT akan coba merangkum beberapa perubahan formasi Atletico dalam empat tahun terakhir.
Dari masa ketika Los Rojiblancos memenangi Liga Europa, hingga keberhasilan tim asal Madrid itu melaju ke partai puncak Liga Champions musim ini.
1. Final Liga Europa 2010
Kejayaan Atletico Madrid sudah dimulai sebelum kedatangan Diego Simeone pada musim 2011. Saat itu, tim berjuluk El Atleti tersebut masih dipegang oleh Quique Sanchez Flores.
El Atleti berhasil meraih gelar juara di kompetisi kasta kedua di Eropa tersebut, berkat sumbangan dua gol dari penyerang Diego Forlan.
Dalam pertandingan tersebut, Flores menerapkan formasi 4-4-2 dengan mengandalkan dua penyerang Forlan dan Sergio Aguero.
Flores juga menurunkan dua gelandang bertahan serta dua pemain sayap untuk melengkapi formasinya pada tahun itu.
Pada saat itu, lini belakang Atletico memang tidak serapat seperti sekarang ini. Tomas Ujfalusi menjadi pemain kunci di lini pertahanan El Atleti saat itu.
2. Final Liga Europa 2012
Dua musim kemudian, pelatih Diego Simeone kembali berhasil membawa Atletico Madrid ke final Liga Europa.
Di tangan Simeone, Atletico mulai melakukan reformasi dengan tidak diperkuat semua pemain yang berhasil membawa tim asal Madrid itu juara pada Liga Europa 2010.
Ternyata hanya ada tiga pemain tersisa dari skuat final Liga Europa 2010 yang masih berada di Atletico. Mereka adalah Antonio Lopez, Alvaro Dominguez dan Paulo Assuncao.
Pada musim itu, Simeone menerapkan formasi baru 4-2-3-1. Radamel Falcao menjadi ujung tombak menggantikan peran yang ditinggalkan Sergio Aguero dan Diego Forlan.
Penyerang asal Kolombia itu mendapatkan sokongan dari playmaker Diego, serta dua pemain sayap Arda Turan dan Adrian yang tampil sangat agresif.
Sedangkan Gabi dan Mario Suarez ditugaskan untuk membantu pemain bertahan. Taktik itu cukup berhasil sehingga membawa Atletico mengalahkan Bilbao dengan skor 3-0.
Formasi yang diturunkan pada final Liga Europa 2012.
3. Final Liga Champions 2014
Penampilan luar biasa diperlihatkan skuat arahan Diego Simeone sepanjang musim 2014. Atletico Madrid mampu bersaing dengan tim raksasa seperti Barcelona dan Real Madrid di ajang La Liga.
Tidak hanya itu, berkat kejeniusan arsitek asal Argentina, Atletico juga menjadi salah satu tim yang sulit dikalahkan pada tahun itu.
Pada musim itu, Simeone menurunkan formasi 4-4-1-1 yang bisa berubah menjadi 4-4-2. Diego Costa dan David Villa menjadi andalan mereka di lini depan.
Kedua penyerang itu mendapatkan bantuan dari Koke dan Raul Garcia dari sisi sayap. Gawang Atletico semakin sulit ditembus karena masih diperkuat oleh kipper terbaik Thibaut Courtois.
Taktik Atletico berjalan cukup mulus di Liga Champions karena berhasil menembus partai final. Sayang di partai puncak, pasukan Diego Simeone dibuat tak berdaya oleh Real Madrid.
Mereka pun kalah dengan skor 4-1 setelah melalui perpanjangan waktu atau ekstra time.
4. Final Liga Champions 2016
Untuk kedua kalinya, Diego Simeone berhasil membawa Atletico Madrid menembus partai final Liga Champions. Mereka menyingkirkan Bayern Munchen di babak semifinal lewat agregat gol.
Pemain berbeda diturunkan Simeone pada musim ini. Kiper Thibaut Courtois tidak lagi menjaga gawang Atletico. Posisinya kali ini digantikan oleh Jan Oblak.
Miranda juga tidak lagi memperkuat lini pertahanan Atletico. Posisinya digantikan oleh Gimenez yang bermain sangat fantastis ketika berduet dengan Diego Godin.
Lini tengah, Koke dan Gabi masih menjadi andalan. Sedangkan Raul Garcia dan Tiago sudah digantikan oleh Saul Niguez dan Fernandez.
Sementara lini depan, Simeone mengandalkan pemain berpengalaman Fernando Torres yang akan berduet dengan Antoine Griezmann.
Simeone juga terkadang melakukan beberapa perubahan formasi. Dari 4-4-1-1, 4-4-2 atau terkadang menggunakan formasi 4-3-3.
Siapapun yang diturunkan pada partai final nanti, Atletico akan menjadi sebuah tim yang akan sulit dikalahkan oleh rival sekotanya Real Madrid.
Kemungkinan formasi yang digunakan Atletico Madrid.