x

Suka Duka Rizki Septian, Sang Pemandu Suporter Persija Jakarta

Selasa, 24 Mei 2016 14:36 WIB
Editor:

Ketika menonton sebuah pertandingan sepakbola kita akan disuguhkan oleh pemandangan menarik di sisi lapangan. Kehadiran ribuan bahkan puluhan ribu pendukung yang datang langsung ke stadion menjadikan susana semakin semarak.

Tak jarang para pendukung tersebut menyajikan aksi koreografi, nyanyian dan yel-yel yang mampu menggugah dan membakar semangat para pemain yang bertanding. Hampir sepanjang sembilan puluh menit para suporter itu tiada henti membuat seisi stadion bergemuruh.


Salah satu koreografi yang ditunjukkan suporter Persija Jakarta.

Tidak gampang membuat ribuan massa bergerak dalam satu irama, satu gerak, dan satu suara. Untuk menghidupkan dan menggelorakan semangat para pemain, diperlukan kekompakan. Semua itu tak bakal terjalin tanpa kemahiran seorang pemandu suporter atau dirigen.

Seperti sebuah orkestra, peran dirigen akan sangat menentukan. Di tangan dirigen itulah, nyanyian dan gerakan atraktif bisa dilantunkan dengan kompak. Hasilnya adalah sebuah pemandangan yang sanggup membuat bulu roma berdiri.

Gampangkah jadi dirigen? Apa saja yang mereka lakukan dan alami selama ini? Berikut INDOSPORT menyajikan suka duka dirigen salah satu klub besar Tanah Air, Persija Jakarta, Jakmania.


1. Pengalaman pertama

Skuat Persija Jakarta dengan latar belakang koreografi.

Berdiri di depan ratusan bahkan puluhan ribu orang tentu bukanlah hal yang mudah, apalagi harus memimpin dan mengarahkan para penonton tersebut agar tampil kompak dan seirama.

Hal itu pula yang dirasakan, Rizki Septian, dirigen bagi suporter Persija Jakarta. Pentolan Jakmania itu mengaku sempat grogi saat pertama kali memandu para pendukung Macan Kemayoran pada laga tandang.

“Pertama itu rasanya lumayan grogi juga karena kan harus mimpin penonton di kandang lawan di Sidoarjo, mikirnya mereka mau gak mereka ngikutin kita,”tuturnya kepada INDOSPORT.  

“Sementara ketika pertama kali di GBK itu pas 2013, baru mau naik saja sudah gemetaran, soalnya itu laga kandang dan yang hadir itu puluhan ribu," sambungnya.

Rizki mengaku awalnya dia hanya sebagai penabuh perkusi. Lantaran dirigen yang tidak bisa hadir maka dirinya kemudian diminta untuk menggantikan posisi tersebut.

“Awalnya sih bukan pemain perkusi tetapi karena dirigennya kadang gak bisa ikut karena berbagai alasan, maka saya diminta untuk mimpin,”tutur pria yang kesehariannya bekerja di kantor pemerintahan tersebut.


2. Mental Baja

Selain harus memimpin dan mengarahkan penonton, seorang dirigen juga harus mengalami berbagai kondisi dari suka cita saat merayakan kemenangan kemudian harus bernyanyi sendiri dihadapan penonton yang membisu.

“Di Sidoajo (pertama kali jadi dirigen) itu emang parah, ceritanya mobil yang muat barang-barang kita itu belum nyampe sementara kita udah di stadion. Dan itu datangnya pas babak kedua, jadinya selama babak pertama kita nyanyi teriak-teriak, tepuk tangan aja gak pake apa-apa,”tutur Rizki Septian, salah satu dirigen Jakmania.

Rizki mengungkapkan bahwa menjadi seorang dirigen tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Rasa malu dan mental baja menjadi poin penting jika ingin menggeluti dan merasakan profesi tersebut.

Hal itu dialaminya saat menjadi dirigen pertama kali di laga tandang ke Sidoarjo 2012 lalu.

“Awal babak pertama sih semangat, tetapi mulai di atas menit 20 mulai udah lemas apalagi gak ada alatnya. Rasanya mau nahan malu juga gimana, iya udah akhirnya nyanyi-nyayi sendiri, tetapi ketika pemain nyerang akhirnya nyanyi juga penontonnya. Kalau dirigen itu urat malu itu putusin, cuek aja udah,”sambungnya seraya tertawa.


3. Bentrok

Ketika memutuskan menjadi seorang dirigen penonton bagi sebuah  klub, maka harus siap dengan berbagai risiko yang muncul. Hal itu pula yang dialami Rizki Septian.

Pria yang kesehariannya bekerja di kantor pemerintahan tersebut menuturkan bahwa dirinya pernah harus berhadapan dengan suporter rival abadi, Viking, pendukung Persib Bandung yang dikenal sebagai musuh besar.   

“Pernah mau tandang ke Bandung tahun 2014 kalau gak salah dan itu cuma nyampe tol doang disuruh balik lagi sama polisi.  Waktu itu ada sekitar 20-an bus,”tuturnya kepada INDOSPORT.

“Waktu itu berangkat dari Lebak Bulus, kita kumpul di sana dari pagi, ada yang pada nginap dari malam sudah siap akhirnya gak tembus juga ke sana. Rasanya kecewa berat, karena itu kita sudah niat, terus badan juga sempat kena kaca-kaca bus yang pecah dilempar,” sambung Rizki.

Meski mengalami kejadian menakutkan, Rizki menegaskan bahwa hal itu bukanlah penghalang bagi dirinya dan Jakmania untuk tetap mendukung tim Macan Kemayoran saat menjalani laga tandang.

Kaga kapok sih, kalau ada yang kaya gitu justru jadi presurre tersendiri. Kaya kita dulu sebelum ada tol Cipali, kita ditimpuki terus dan itu jadi cerita tersendiri,” ucapnya seraya tertawa.

“Terus waktu kita pulang dari Slemen sampai Indramayu dilemparin juga. Itu jadi tantangan dan cerita yang tidak bisa dilupakan,” tutur Rizki.

Tak hanya itu, Rizki juga berbagi cerita saat dirinya dan Jakmania lain harus merasakan penatnya perjalanan jauh selam tiga hari saat bertandang ke Pulau Sumatera.

“Kalau untuk paling jauh pas ke Medan, itu saya masih main perkusi di 2012. Itu kita 3 hari 3 malam, ketemu pagi, malam sampai pagi lagi tapi blom nyampe-nyampe,”ujarnya sambil tertawa.

“Gak bosan sih selama perjalanan karena kan rame-rame terus nyanyi-nyanyi juga, tetapi rasa penatnya itu luar biasa. waktu itu kita ada 5 bus, ada seratusan lebih yang ikut. Rasannya senang pas sudah nyampe, ketemu anak-anak pendukung PSMS Medan, ada Smeck terus Kampak kemudian di ajak ke tempat hangout mereka,” jelas Rizki lebih rinci.


4. Momen Istimewa

“Yang paling keren itu dua laga terakhir kemarin pas lawan Semen Padang dan Lamongan karena kan baru main lagi di GBK setelah vakum setahun. Itu keren lah pokoknya mengesankan karena bisa berjalan koreo dan yel-yelnya,” tuturnya.

Tak hanya momen indah, Rizki juga pernah mengalami saat dimana dirinya harus menunjukan sisi kedrwasaan, dan mental yang kuat kala penonton yang hadir tampak lesu dan tidak bergairah saat diarahkan untuk berrnyanyi.

“Paling parah itu waktu saya pertama kali jadi dirigen waktu di Sidoarjo. Itu alat sudah gak ada, penonton juga lemas, akhirnya nyanyi-nyanyi sendiri. Akan tetapi pas pemain nyerang mereka akhirnya mulai nyanyi lagi. Intinya jadi dirigen itu harus mental baja, dan rasa malu itu buang jauh-jauh,” tandasnya lebih jauh.


5. Merasa biasa saja

Menjadi seorang dirigen tidak lantas membuat Rizki Septian dan Jakmania lain bisa dekat dengan para pemain Persija Jakarta.

“Jadi dirigen Persija itu biasa saja, kita tidak terlalu dekat juga, tidak ada akses tersendiri dengan pemain. Pengennya sih dekat tapi gimana, jadinya yah biasa aja,” tutrnya.

“Kita lebih fokus mendukung tim bukan pemain, klub lebih besar dari seorang pemain, dan kita lebih mendukung tim itu,” tegas Rizki.


6. Harapan

Meski membawa nama Jakarta, nyatanya tim Persija tidak menjalani laga kandang di Ibu kota lantaran tidak memiliki kandang/homebase tetap. Stadion Utama Gelora Bung Karno yang sempat dipakai pada dua laga kandang di Torabika Soccer Championship A tidak bisa digunakan lagi karena harus dikosongkan untuk renovasi menjelang Asian Games 2018.

Hal ini pula yang menimbulkan keprihatinan dari kalangan penggemar tim Macan Kemayoran, termasuk sang dirigen Jakmania, Rizki Septian.

“Berharapnya pemerintah dan manajemen bisa bikin stadion sendiri agar kita bisa dukung juga di rumah sendiri. Kalau di GBK kan pusat kota, giliran main macetnya minta ampun,” tuturnya.

Selain itu Rizki juga berpesan kepada seluruh Jakmania agar mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan. Hal itu disebut untuk menjaga suasan tetap aman dan nyaman saat menonton pertandingan di stadion.

“Kalau pas nyanyi yel-yel jangan yang rasis, hal itu tidak perlu karena buat apa kita jelek-jelekin orang sementara tim kita lagi butuh suport kita. Jaga nama baik Persija, jaga kota kita, tunjukan kita suporter kreatif dan atraktif, patuhi aturan Panpel dan jaga ketertiban umum baik pergi maupun pulang nonton,” ucapnya mantap.

Persija JakartaThe Jakmania

Berita Terkini