Sepakan Voli Zidane 14 Tahun Lalu dan Semangat Pasukan Putih Taklukan San Siro
Berawal dari skema serangan sayap yang dibangun oleh skuat Real Madrid, umpan lob yang dilepaskan full back asal Brasil, Roberto Carlos dikonversi dengan indah lewat sepakan volley.
Bola meluncur deras ke gawang klub asal Jerman, Bayern Leverkusen, lawan Real Madrid di laga final Liga Champions 2002 itu. Fans El Real yang memadati stadion Hampden Park, Glasgow langsung bergemuruh.
Gol fantastis dari Zidane di menit ke 45 ini jadi gol terakhir di laga final tersebut. Gol itu juga membuat Real Madrid dinobatkan meraih gelar liga Champions ke 9 di musim itu, gelar paling banyak yang hingga detik ini belum mampu dikejar klub lain.
Saat ini, si pria berdarah Aljazair itu berpeluang untuk kembali ciptakan rekor untuk pribadi dan Real Madrid. Sebagai pelatih El Real musim ini, jika mampu taklukan Atletico Madrid di San Siro, Real Madrid akan merengkuh gelar ke 11 liga Champions setelah terakhir gelar itu merah raih pada musim 2013/14 lalu.
1. Zidane yang selalu 'ada'
Saat Real Madrid rengkuh gelar kesembilan Liga Champions, Zidane jadi aktor intelektualnya. Gol volley-nya di menit ke 45 ke gawang Hans-Jorg Butt membuat publik Madrid berpesta pora.
Seperti dilansir dari theguardian.com, Zidane mengaku di final akhir pekan nanti, tekanan berat menghampirinya. Zidane memang dituntut untuk kembali 'ada' seperti yang ia tunjukan di final liga Champions 14 tahun lalu.
"Ada tekanan memang. Tapi saya sudah memiliki solusi untuk meredam tekanan tersebut. Saya akan melakukan pendekatan dengan kesabaran, ketenangan dan tekad ingin menang," kata pria 43 tahun tersebut.
2. Pertarungan pesepakbola era 90-an
Duel final liga Champions musim ini tidak hanya menghadirkan all Spanish final, derbi Madrid namun juga pertarungan pesepakbola era 90-an yang diwakili oleh dua pelatih klub ini. Zidane kontra Simeone.
Kedua pelatih dikenal keahliannya di era 90-an. Zidane besar di Juventus sementara Simeone di Lazio dan Inter Milan.
"Ia (Simeone) memiliki segalanya. Ia pelatih yang banyak belajar begitu juga dengan saya. Saya memiliki kemampuan kuat untuk terus belajar untuk bisa jadi terbaik," kata Zidane.
Secara mental, pasukan putih Real Madrid memang memiliki kepercayaan diri yang kuat jelang laga final. Para pemain seperti Isco misalnya menyebut kehadiran Zidane di Real Madrid layaknya hujan yang turun di bulan Mei.
"Dia menjadi kunci untuk tim. Dia selalu memberikan suntikan moral kepada para pemain," kata Zidane.
Di kubu Atletico Madrid, hal sama juga dirasakan oleh Simeone. Hampir skuat Atletico Madrid menyebut kehadiran pria Argentina itu memberikan energi positif untuk kemajuan tim.
3. Puja puji skuat untuk Zidane
Jika Isco menyebut kehadiran Zidane di Real Madrid layaknya hujan yang turun di bulan Mei maka full back Brasil, Marcelo mengaku sangat terkesima dengan Zidane.
"Ia datang dengan penuh ketenangan dan kerendahan hati. Ia tak pernah menunjukan sisi angkuh meski sebenarnya ia bisa melakukannya," kata Marcelo seperti dilansir dari theguardian.com
Zidane seperti kata Marcelo memang bisa saja ia angkuh. Sebagai pemain, ia lengkap dengan gelar. Saat melatih Real Madrid, Zidane tercatat sebagai pelatih terbaik pasalnya ia mampu mengemas 53 poin dari 20 laga yang dilakoni.
"Kami senang dengan sosoknya (Zidane), jika ada seorang pesepakbola dan kemudian jadi pelatih maka anda akan mengetahui hal-hal diluar teknis yang membuat kita lebih baik dan Zidane melakukan itu," kata Sergio Ramos.
Energi positif pasukan putih kepada sang pelatih membuat laga final Champions sepertinya akan kembali ke lemari trofi di Bernabeu. Si Volley man 14 tahun lalu akan kembali menorehkan rekor akhir pekan nanti.
"Kita sedang di kondisi terbaik. Ini adalah permainan dan semua hal indah bisa saja terjadi," kata Zidane.