x

Ini Hasil Pertemuan Kemenpora dan GTS Soal Bentrokan Suporter

Selasa, 31 Mei 2016 13:27 WIB
Editor: Tengku Sufiyanto
Joko Driyono Saat acara manager meeting gts dengan 18 klub

Kompetisi TSC dan ISC B tengah menjadi perhatian khusus para pecinta sepakbola Indonesia. Maklum, kompetisi garapan PT GTS tersebut beberapa kali diwarnai aksi bentrokan suporter yang tidak diinginkan.

Kejadian tersebut dimulai dari tewasnya salah satu suporter Persija Jakarta, Muhammad Fahreza yang diduga dipukuli sejumlah oknum Polisi. Kemudian, tewasnya salah satu suporter PSS Sleman, Stanislaus Gandhang Deswara dalam bentrokan dengan suporter PSIM Yogyakarta.  

Terakhir, salah satu bentrokan yang paling krusial terjadi melibatkan suporter PS TNI dengan suporter Persegres Gresik United. Saat itu, suporter PS TNI menyerang suporter Pesegres Gresik United ketika laga kedua tim memasuki menit awal pertandingan babak pertama, 22 Mei lalu. Padahal, duduk perkara terjadinya bentrokan tersebut hanya kesalahpahaman kedua belah pihak suporter.

Hal tersebut membuat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi sengaja memanggil Direkur Utama PT GTS, Joko Driyono, untuk membicarakan masalah bentrokan dan tewasnya beberapa suporter tersebut. Pertemuan itu akhirnya menghasilkan tujuh poin utama.

Berikut tujuh poin yang dihasilkan dari pertemuan Menpora, Imam  Nahrawi dengan Direktur Utama PT GTS, Joko Driyono.

1. Menpora mengulangi lagi penyampaian sikap keprihatinan atas terjadinya sejumlah insiden yang mewarnai kompetisi TSC. Berharap pada PT GTS agar kejadian serupa tidak boleh terulang kembali, mengingat kompetisi tersebut masih berlangsung cukup lama.

2. Menpora meminta PT GTS untuk menjelaskan duduk persoalan ketiga insiden tersebut, termasuk diantaranya yang terjadi di Gresik. Pasalnya, melibatkan tim dari kesatuan tertentu yang akibatnya menimbulkan polemik dan perdebatan keras di sejumlah media sosial.

3. Dalam laporannya kepada Menpora,  Dirut PT GTS mengatakan bahwa:

GTS sudah melakukan pertemuan dengan PS TNI dan berusaha menyelesaikan masalah tersebut sesuai ketentuan yang berlaku secara adil dan konsisten melalui Komisi Disiplin yang ada. 

GTS juga sudah melakukan pertemuan dengan pihak pimpinan TNI dan bahkan mendapatkan respon yang sangat bijak dari pimpinan TNI, agar masalah tersebut diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Tidak akan berdampak pada citra PS TNI pada khususnya dan kelembagaan TNI pada umumnya.

Pasca insiden di Gresik, PS TNI sudah kembali bermain dengan menghadapi PSM Makassar dan tidak ada insiden apapun serta bahkan diwarnai dengan suasana yang penuh persahabatan di Stadion Pakansari, Bogor, pada tanggal 29 Mei 2016.

4. Menpora meminta PT GTS untuk mengumumkan apapun hasil dari sidang komisi disiplin, karena Menpora tidak ingin PT GTS memberikan keistimewaan pada klub dan suporter tertentu.

5. Menpora meminta PT GTS untuk berkoordinasi dengan Polisi Militer untuk turut menjaga ketertiban dan keamanan pertandingan yang melibatkan PS TNI. Sedangkan pada Kepolisian RI diharapkan tetap menunjukkan komitmennya untuk tetap bertugas secara konsisten.

6. Menpora meminta PT GTS untuk mengambil inisiatif membuat nota kesepahaman dengan pihak Kepolisian RI bagi perbaikan dan peningkatan pengamanan di setiap pertandingan, mengingat PT GTS tidak hanya bertanggung jawab untuk TSC, tetapi juga untuk ISC  B. TSC diisi oleh 18 klub yang berasal dari kompetisi Liga Super Indonesia (ISL), sedangkan ISC B dihuni 59 klub Divisi Utama.

7. Menpora meminta PT GTS untuk melakukan edukasi kepada kelompok suporter sebagai bagian dari tanggung-jawab mereka bagi reformasi sepakbola Indonesia.

Joko DriyonoImam NahrawiMenporaGelora Trisula Semesta (GTS)Torabika Soccer Championship (TSC)

Berita Terkini