Mengukur Peluang Indonesia di Ajang Piala AFF U-19
Tergabung di 'grup neraka' pada ajang Piala AFF U-19 pada 11 sampai 24 September 2016 mendatang, tim Merah Putih diprediksi akan jalani babak penyisihan grup dengan cukup berat.
Sejumlah kendala internal serta kekuataan penghuni grup B disinyalir jadi hal berat yang akan dilalui oleh Garuda Muda. Meski berstatus juara Piala AFF U-19 pada 2013 lalu, langkah Indonesia untuk bisa mengulang kesuksesan tersebut sangat tipis.
Wajib Baca:
Ikut Piala AFF, Indonesia Tergabung di 'Grup Neraka'
Timnas U-16 dan U-19 Sengaja Cari Lawan Lebih Tua
Kebugaran Pemain Timnas U-16 dan U-19 Menurun
Timnas Indonesia U-19 Jeblok, PSSI Tolak Disalahkan
Sejauh mana peluang Garuda Muda bisa berjaya di Hanoi, Vietnam? berikut analisis peluang Indonesia di ajang Piala AFF U-19 2016 untuk pembaca setia INDOSPORT:
1. Persoalan Kerangka Tim
Indonesia sampai detik ini belum memutuskan siapa yang melatih timnas Indonesia usai hukuman FIFA dicabut. Sejumlah nama sebelumnya memang digadang-gadang akan nakhodai timnas, namun sejumlah nama memutuskan untuk mengundurkan diri dari bursa pencalonan.
Hal sama pun berimbas pada timnas U-19 yang juga belum memiliki pelatih. Kerangka tim masih belum terbentuk. Teranyar, timnas U-19 digadang-gadang akan dilatih oleh pria yang pada Piala AFF U-19 2013 lalu jadi tim analisis taktik Indra Sjafri, Rudy Eka Priyambada.
Rudy yang pernah menjadi assisten klub Bahrain, Al Najma akan bersaing dengan sejumlah nama lainnya seperti pelatih PS TNI, Eduard Tjong serta asissten pelatih Persija Jakarta, Jan Saragih.
Kondisi saat ini tentu akan membawa pengaruh ke pola permainan tim, dengan rentang waktu hanya tinggal hitungan bulan bukan tidak mungkin pola permainan Garuda Muda akan 'seadanya'.
Bandingkan dengan Indra Sjafri kala membawa Indonesia juara di 2013 lalu, pelatih asal Padang itu menyusun kerangka tim sejak 2011 kala gagal membawa timnas U-16 lolos ke kualifikasi Piala AFC di Bangkok.
Indra kala itu melakukan blusukan untuk memantau talenta-talenta muda berbakat Indonesia, ia harus berkeliling Indonesia untuk menemukan talenta berbakat macam Evan Dimas, Ilham Udin Armaiyn, Putu Gede Juti Antara, Muchlis Hadi Ning Syaifulloh dan pemain lainnya.
2. Ancaman Juara Bertahan
Indonesia U-19 akan tergabung di grup neraka di Hanoi nanti. Dibilang grup neraka karena Indonesia tergabung satu grup dengan juara bertahan Thailand, Australia, Laos, Myanmar, Australia dan Kamboja.
Keenam negara tersebut saat ini memiliki talenta muda berbakat. Salah satu negara yang bakal jadi ancaman untuk Garuda Muda tentu saja musuh bebuyutan, sang juara bertahan Piala AFF U-19 2015, Thailand.
Thailand U-19 saat ini dilatih oleh mantan skuat timnas Thailand era 80-an dan awal 90-an, Chalermwoot Sa-ngapol. Sa-ngapol yang merupakan mantan gelandang ini memiliki talenta muda yang membuat Thailand tetap berkuasa di Asia Tenggara.
Gantikan Anurak Srikerd yang sukses bawa Thailand raih gelar juara di Piala AFF U-19 2015 lalu, Sa-ngapol diprediksi akan tetap mengandalkan sejumlah muka-muka lama seperti mantan top skor tahun lalu, Worachit Kanitsribampen.
Gelandang menyerang ini masih berstatus sebagai kapten tim. Ia akan ditopang oleh Suksan Mungpao yang cetak 4 gol di Piala AFF U-19 2015, penyerang Supachai Jaided yang cetak 3 gol, pemilik no 10 Thailand U-19, Sansern Limwattana.
Thailand terbilang salah satu negara yang memiliki kekuataan merata di Piala AFF U-19 2016, tidak hanya tajam di sektor depan, untuk sektor belakang, Thailand dihuni sejumlah pemain jepolan.
Di sektor penjaga gawang misalnya, Thailand akan diisi oleh kiper mudanya yang bermain di liga Jerman bersama Fortuna Dusseldorf, Sumethee Khokpho. Kerangka winning team 2015 di lini belakang juga dipertahankan oleh Sa-ngapol, seperti bek Meechok Marhasaranukun, Arthit Kansangwet serta Srayut Sompim.
3. Berbekal Semangat Sidoarjo
Meski terbilang memiliki langkah yang sangat berat di Piala AFF U-19, bukan berarti Garuda Muda layak untuk pesimis. Masih ada peluang untuk Merah Putih berkibar di Hanoi.
Menengok Piala AFF 2013 lalu misalnya, Indonesia kala itu pun diliputi rasa pesimis untuk bisa berjaya. Kutukan 22 tahun timnas Indonesia kala itu mampu dihentikan oleh Evan Dimas dan kawan-kawan kala itu.
Padahal kala Indonesisa juara pada 2013 lalu, kondisi hampir mirip tengah dirasakan oleh PSSI dan manajemen timnas. Indra Sjafri yang saat itu melatih sempat dicopot dari kedudukannya. Ia digantikan oleh Luis Manuel Blanco yang awalnya melatih timnas jadi pengganti Indra Sjafri.
Masalah muncul kala Blanco menolak karena ia merasa dikontrak oleh Badan Tim Nasional (BTN) PSSI pimpinan Isran Noor kala itu sebagai pelatih timnas senior. BTN PSSI saat penunjukan Blanco sudah tidak lagi dipimpin oleh Isran Noor tapi oleh La Nyalla.
Mau tak mau, Indra Sjafri pun akhirnya kembali latih timnas U-19. Permasalahan tak berhenti disitu, BTN PSSI sempat menunda pelatnas PSSI yang semula dijadwalkan akan berlangsung di Timika pada Juni 2013. Alasannya Indra oleh BTN PSSI ditugaskan untuk memantau Indonesia Super League (ISL) U-21.
Namun hal itu justru berbuah manis, pasalnya Indra yang semula hanya kumpulkan 35 pemain justru menambah pasukannya untuk seleksi menjadi 105 pemain. Singkat cerita usai tarik ulur pemain yang bakal mengisi posisi skuat hingga ditawari menggunakan materi pemain dari proyek Uruguay ciptaan keluarga Bakrie, Sociedad Anonima Deportiva (SAD), Indra akhirnya resmi memilih sesuai pilihannya.
Main di Sidoarjo dan Gresik, Indonesia U-19 lalui fase grup dengan tidak mudah. Usai kalahkan tim lemah Brunei serta Myanmar, Indonesia harus bertekuk lutut oleh Vietnam.
Publik baru melihat sepak terjang Indonesia kala mampu lolos ke semifinal dan mengalahkan Timor Leste. Di final, dendam dengan Vietnam mampu dituntaskan lewat drama tos-tos-an.