Silang Sengkarut Pesepakbola di Indonesia, Antara Hak dan Kewajiban
Ini masalah klasik di sepakbola Indonesia. Tentang bagaimana pesepakbola profesional memahami hak dan kewajibannya. Sepakbola memang jadi pusat perekonomian untuk sebagian orang hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Namun lebih mirisnya, banyak kasus kematian menimpa sejumlah pesepakbola Indonesia. Sejumlah pemain asing alami nasib naas ini, mereka tak mampu membiayai hidup karena gaji yang diharap tak kunjung turun.
Itu hanya segelintir kisah pilu pesepakbola profesional yang terjadi di Indonesia. Lantas siapa yang patut dipersalahkan? Pemain atau klub yang lalai karena lalai soal gaji pemain?
Untuk minimalisir hal ini, Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) mencoba menjadi jembatan agar pemain lebih 'pandai'.
Seperti diutarakan oleh General Manager APPI, Valentino Simanjuntak yang ingin mengembalikan fitrah sepakbola sebagai sumber penghasilan yang dapat diharapkan.
"Tentu kita kita ingin setidaknya pemain sudah memberikan kewajibannya akan mendapatkan hak-nya. Jadi ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Karena ini kita berbicara profesional," ucap Valentino kepada INDOSPORT.
Memang keberadaan APPI belum sepenuhnya menjadi jawaban akan permasalahan ini. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi hambatan akan semua ini.
Berikut ulasan APPI kepada INDOSPORT akan permasalan yang melanda pemain profesional:
1. Pemain Harus Lebih Pintar
Menjadi seorang pesepakbola profesional setidaknya harus benar-benar dapat bersikap profesional. Setidaknya inilah yang diharapkaan oleh APPI.
Setidaknya sebagai pesepakbola tidak hanya paham akan bermain bola saja. Setidaknya ia harus paham akan hal-hal lain yang didapat oleh seorang pesepakbola. Sepakbola ini harus menjadi tempat mereka bekerja. Jadi
pemain harus lebih pintar. Jangan hanya paham main bola saja, ia juga harus baca akan hak dan kewajibannya," ucap pria yang juga aktif sebagi presenter sepakbola ini.
"Terkadang pemain itu malas baca atau malas ribet. Nah bila memang dia malas akan membaca atau gak mau ribet, mereka bisa menghubungi kita (APPI). Nanti bisa kita bantu," jelas Valen.
2. Kompetisi yang Tak Jelas
Meski saat ini roda kompetisi sudah berjalan, namun ada hal yang sedikit disayangkan akan roda kompetisi di Indonesia.
Dimana ketidak jelasan akan kompetisi sedikit menjadi hambatan yang dihadapi oleh APPI. Bukan tanpa alasan, bagi pria yang kerap dikenal dengan jargon 'Jebret' ini kompetisi di Indonesia kerap mengacak. Sehingga menyebabkan sulitnya membendakan akan pemain yang bertaraf profesional atau amatir.
"Memang saat ini anggota kita yang tertulis sekitar 400 lebih, dan itu yang memang sudah aktif bermain sejak lama. Sebenernya liga tidak jelas, tiba-tiba pemain jadi profesional padahal kemarin masih main di amatir," ucap Valen.
"Sekarang peserta liga saja tidak jelas bisa tiba-tiba tambah dan berkurang. Atau tiba-tiba ada tim yang langsung naik profoseional," jelas Valen.
"Coba bandingkan bila ke Inggris kita mungkin bisa langsung tahu akan jumlah berapa pemain yang sudah level profesional atau masih amatir," beber ia.
3. Jangan Segan Melapor
Meski saat ini hanya sekitar 400 anggota yang tercatat sebagai anggota resmi di APPI, namun bukan berarti mereka akan tutup pintu bagi pemainnya yang membutuhkan pertolongan.
Setidaknya bagi Valen dia berharap para pemain Indonesia tak segan untuk menghubungi APPI. Sebab bagi ia hal ini akan membantu APPI dalam menghadapi kasus yang menimpa pemain nantinya.
"Sering-seringlah berkomunikasi dengan kita. Meski mereka bukan anggota kita kita tentu siap membantu mereka bila memang menghadapi masalah," ucap pria 33 tahun ini.
"Kita tentu akan membantu meski dengan sesuai prosedur. Pertama mereka kita masukkan ke dalam anggota kita, nanti kita bantu sesuai langkah-langkah regulasi yang ada pada kita. Intinya kita saling melapis saja,"
"Yang jelas kita ingin sepakbola menjadi profesi yang menjanjikan. Dan bisa dijadikan profesi acuan bagi generasi masa depan," tutup nya.