x

Kembali Tangani Timnas, Ini Plus Minus Alfred Riedl

Kamis, 30 Juni 2016 19:57 WIB
Editor: Joko Sedayu

Alfred Riedl resmi ditunjuk PSSI sejak 10 Juni lalu untuk menangani timnas senior. Ini merupakan kali ketiga pria berkebangsaan Austria tersebut menukangi tim Garuda.

Penunjukan tersebut juga cukup mengejutkan lantaran sebelumnya PSSI tidak memasukan nama Riedl sebagai kandidat pelatih. Tak dipungkiri hal tersebut memang memunculkan pro dan kontra, hal itu pun membuat PSSI angkat bicara.

"Suasana ini memang dalam keadaan tidak ideal untuk persiapan. Makanya kami sambil berjalan dan kami akhirnya mengambil keputusan dengan kembali menunjuk Riedl sebagai pelatih tim nasional Indonesia," jelas Acting President PSSI, Hinca Pandjaitan.

Prestasi Alfred Riedl sendiri bisa dibilang belum benar-benar teruji. Selama menjalani karier kepelatihan prestasi terbaik pria Austria tersebut hanya menempati posisi runner-up. Meski demikian ada hal lain juga yang menjadi kelebihan pelatih 66 tahun itu.

Berikut INDOSPORT mencoba menganalisa kelebihan dan kekurangan Alfred Riedl setelah resmi menjadi pelatih Timnas untuk Piala AFF November mendatang.


1. Percaya Muka Baru dan Pemain Muda

Saat ini, tim pelatih Timnas Indonesia dikabarkan telah memiliki daftar 40 pemain yang masuk dalam pantauan. Dari 40 nama pemain yang masuk daftar bidikan, 35 di antaranya merupakan pemain baru.

Asisten pelatih Timnas Indonesia, Wolfgang Pikal, mengakui pihaknya telah menetapkan tipikal pemain yang memiliki kecepatan untuk membela skuat asuhan Alfred Riedl.

"Kami sudah memiliki kriteria pemain yang diutuhkan timnas ke Piala AFF 2016 nanti. Kami mencari pemain muda yang punya kecepatan. Tetapi soal strategi, taktik, atau karakter permainan tergantung posisi pemain yang akan gabung timnas," kata Pikal.

"Dari eks Timnas U-19 ada 12 pemain, secara umum kurang lebih ada 20 pemain dengan rentang usia 20-23 tahun. Selain itu, dari 40 nama, 35 pemain di antaranya merupakan sosok baru," lanjutnya.

Tentu saja dengan keputusan tersebut akan memberikan satu tontonan dan permainan yang mungkin saja tidak bisa ditebak oleh calon lawan di Piala AFF nanti.

Hal itu bisa saja menjadi keuntungan tersendiri bagi Riedl yang memang kembali menargetkan Timnas Indonesia untuk berlaga di partai final.


2. Karakter Kuat dan Disiplin Tinggi

Riedl dipilih PSSI tanpa melalui proses fit and proper test seperti yang dilakukan lewat tim panelisnya terhadap tiga calon, yaitu Nil Maizar, Rahmad Darmawan, dan Indra Sjafri.

Meski demikian karakter dan sosok pelatih Austria dinilai memang dibutuhkan untuk kemajuan timnas saat ini.

"Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, dalam pandangan saya Opa (demikian Bepe memanggilnya) adalah pelatih yang memiliki karakter kuat dan disiplin tinggi dalam membangun sebuah tim. Dua hal penting yang menurut saya sangat diperlukan oleh tim nasional Indonesia saat ini," ucap salah satu legenda hidup Timnas, Bambang Pamungkas.

Jika merujuk pada kriteria yang diinginkan tim pelatih di mana skuat Indonesia akan diisi muka baru dan pemain muda, maka memang perlu dibutuhkan sosok pelatih yang  tegas dan disiplin.

Hal tersebut bisa jadi nilai tambah Riedl untuk menekan gejolak gelora dan jiwa muda para pemain yang bisa saja belum konsisten.


3. Belum Teruji

Jika sebelumnya telah dibahas tentang kelebihan dan hal positif dari sosok Alfred Riedl saat kembali tangani Timnas, maka ada pula sisi lain yang bisa saja membuat pelatih Austria tersebut mengalami kegagalan.

Pria 66 tahun ini mengawali kariernya sebagai seorang pemain. Riedl tercatat pernah memperkuat tim nasional Austria sebanyak empat kali pada 1975 silam serta mencatat penampilan di Liga Austria dan Belgia bersama FK Austria Wien dan Sint-Truiden.

Berpengalaman menjadi seorang pemain, Riedl mejajal peruntungannya sebagai pelatih dengan menangani berbagai tim nasional dan klub sepakbola. Namun hingga kini, ia belum pernah membawa tim asuhannya meraih prestasi membanggakan.

Riedl pernah menangani beberapa klub asal Timur Tengah, pada 1993-1994 silam, ia melatih klub Maroko, Olympique Khouribga, lalu klub Al-Zamalek asal Mesir pada 1994 hingga 1995, dan klub asal Kuwait, Al- Salmiya pada periode 2001 hingga 2003. Klub Tanah Air, PSM Makassar juga pernah merasakan tangan dingin mantan topskor Austian Bundesliga edisi 1972 tersebut.

Riedl juga tercatat pernah menjadi arsitek untuk tim nasional Palestina pada 2004 hingga 2005. Selain klub-klub di kawasan Timur Tengah, Alfred Riedl juga mencoba peruntungannya untuk membesut dua tim nasional di kawasan Asia Tenggara, Vietnam, Laos dan kini Indonesia (kali ketiga).

Dari sekian banyak kiprahnya sebagai pelatih, prestasi terbaik Riedl hanya menjadi runner-up, yakni bersama Viertnam Piala AFF 1998 dan SEA Games 1999 (2003 dan 2005 U-23), dan Indonesia di Piala AFF 2010.


4. Buta Komposisi Pemain

Target tinggi diusung Alfred Riedl saat kembali dipercaya menangani Timnas Senior. Pelatih Austria tersebut mengincar partai final.

Akan tetapi tugas tersebut tidak lah mudah, pasalnya pria 66 tahun tersebut sempat mengaku belum memiliki gambaran pemain yang akan mengisi starting XI.

"Keadaan sekarang ini hampir sama seperti 2010 lalu. Saya juga tidak tahu banyak tentang pemain Indonesia. Saat itu 12 dari 23 pemain juga muka baru. Itu jumlah yg banyak, tetapi saat itu kami dapat mencapai final," tuturnya kepada media usai resmi ditunjuk PSSI.

Pernyataan Alfred Riedl itu sendiri bukan tanpa alasan. Pasalnya sepakbola Indonesia memang baru saja bergerak pasca pencabutan pembekuan dan sanksi FIFA. Selama satu tahun belakangan hampir tidak ada kegiatan ataupun kompetisi reguler di Tanah Air.


5. Bahasa

Ada satu hal yang juga bisa saja menjadi kendala Riedl kala menangani Timnas.

Mantan pelatih PSM Makassar tersebut hingga saat ini belum lancar berbahasa Indonesia bahkan bisa dikatakan belum bisa. Hal ini tentu saja menyulitkan karena tidak semua pemain belum tentu bisa berbicara dan mengerti bahasa Inggris.

Meski demikian, pecinta sepakbola Tanah Air bisa sedikit bernafas lega. Riedl sudah mempunyai penerjemah yakni Wolfgang Pikal yang juga menjadi asisten pelatih.

Selain itu belakangan pria 66 tahun itu juga mengaku sudah tahu banyak soal pemain yang akan ia pantau. Sebab ia mendapatkan banyak informasi dari asistennya, dan pelatih-pelatih di sejumlah klub.

"Saya sudah berbicara dengan Pikal tentang perkembangan pemain-pemain dan sepakbola Indonesia terkini. Selain itu, saya juga menjalin komunikasi dengan pelatih klub-klub, termasuk itu (gerak tubuh Riedl menunjuk ke bench Sriwijaya FC mengisyaratkan ke Widodo C. Putro)," tutur Riedl.

IndonesiaPSSIAlfred RiedlTimnas SeniorTimnas IndonesiaIn Depth Sports

Berita Terkini