4 Kontroversi Milomir Seslija di Arema Cronus
Sejak diresmikan menjadi Pelatih Arema Cronus musim ini, Milo begitu getol membangun skuad tangguhnya dengan kemauan sendiri.
Beragam kritik sempat dilayangkan publik sepak bola Malang Raya terkait beberapa pemain, baik lokal maupun asing pilihannya.
Namun, pelatih kebangsaan Bosnia-Herzegovina tak menggubris dengan tetap yakin akan pilihannya.
Hebatnya, Milo akhirnya mampu meredam beragam kritik tersebut lewat sebuah capaian istimewa dengan kokohnya posisi tim Singo Edan di puncak klasemen TSC dengan 20 poin hasil 6 kali kemenangan, 2 kali imbang dan satu kali kalah.
Berikut INDOSPORT mengulas empat hal kontroversial yang pernah dilakukan Milo sejak menangani Arema Cronus.
1. Menolak Kedatangan Hamka Hamzah
Di awal kepemimpinannya, Milo sempat berujar dengan lebih menyukai pemain dengan mental juara, dan tentunya multifungsi.
Sikap keras ditunjukkannya saat berhembus isu terkait kedatangan Hamka Hamzah dari Pusamania Borneo FC.
Milo mengatakan ia tidak bisa menerima pemain Timnas di Piala AFF 2010 itu lantaran dianggap punya kepribadian yang kurang baik.
Namun, ia buru-buru menarik ucapannya dan secara 180 derajat berbalik mendukung langkah manajemen tim untuk merekrut defender sarat pengalaman itu.
Dan nyatanya, kerja sama pelatih dan kapten tim itu terbukti harmonis hingga membawa Arema Cronus bertengger kokoh di puncak klasemen TSC hingga pekan ke-9 musim ini.
Sebelumnya, Hamka juga memberi sumbangsih besar pada raihan Trofi Juara Bali Island Cup, Piala Bhayangkara dan peringkat tiga terbaik di Piala Gubernur Kaltim.
Tak hanya disitu, kontribusi Hamka tergolong besar lewat lesakan empat gol bagi Arema, salah satunya gol spekatakuler yang dicetaknya ke gawang Gresik United di pekan ke-5 TSC.
2. Mencoret Pemain Idola Suporter
Kontroversi kemudian berlanjut dengan perombakan skuat Arema jelang mengikuti turnamen pra musim di Bali dan Kaltim.
Selepas uji coba dengan Madura United 14 Februari lalu, tiga pemain yang bisa dibilang icon bagi Aremania memutuskan hengkang ke Persib Bandung.
Hengkangnya Samsul Arif dan Purwaka Yudhi ke klub rival, plus kembalinya Sukadana ke Bali lantas memunculkan spekulasi terkait ketidakcocokan Milo terhadap gaya main ketiganya yang kurang mendukung strategi tim.
Pencoretan Kiko Insa tentu saja yang paling heboh. Usai meraih gelar juara di Bali, Milo dengan tegas menepikan peran defender Spanyol itu meski ikut mengantar Arema menjuarai Bali Island Cup.
Gelombang kritikan pun gencar disuarakan Aremania, yang tidak setuju dengan perekrutan Goran Gancev untuk menggantikan Kiko Insa.
Namun, Milo kembali membuktikan keputusannya tidak salah, karena Gancev langsung menjadi pondasi di jantung pertahanan lewat sumbangan peringkat tiga di Piala Gubernur Kaltim dan Piala Bhayangkara.
3. Suka Protes Dan Sering Berteriak
Berbagai pelatih punya cara sendiri untuk menyampaikan taktik dan strategi di lapangan kepada pemainnya.
Tak terkecuali Milo, pelatih asal Bosnia-Herzegovina yang terkenal agak "cerewet" saat memberi instruksi di lapangan saat pertandingan.
Mirip Dejan Antonic, Milo seringkali berteriak untuk memprotes berbagai keputusan wasit yang dinilai merugikan timnya.
Hal itu mulai terlihat ketika melakukan debut saat uji coba melawan Madura United, turun di Turnamen Bali Island Cup dan Piala Gubernur Kaltim, hingga Piala Bhayangkara.
Tak pelak, omelan berisik dari pelatih berusia 51 tahun itu sempat mendapatkan kritik dari Bambang Nurdiansyah.
Bagi Pelatih PS Polri saat berlaga di Piala Bhayangkara itu, karakter pelatih seperti Dejan maupun Milo tak baik dilakukan, karena menganggap semua keputusan wasit tidak ada yang benar.
4. Konsisten Menerapkan Sepak Bola Pragmatis
Sejak era kepelatihannya, karakter permainan Arema mulai bergeser dengan mengutamakan tiga poin, dan perlahan menepikan permainan cantik.
Hal itu terindikasi dari tren kemenangan tipis yang berbanding lurus dengan perolehan poin Arema secara maksimal.
Entah akibat faktor penurunan fisik atau memang sengaja bermain pragmatis, sejak berlaga di Bulan Ramadhan Arema Cronus hanya memetik kemenangan dengan skor tipis.
Suporter pun mulai resah dan menilai permainan Cristian Gonzales dkk tak menghibur, terutama terlihat dari sepinya kehadiran penonton pada dua laga terakhir kala menjamu Persipura dan Semen Padang.
Selama bulan puasa, tim berlogo kepala singa memang maksimal secara hasil akhir, dengan meraup tiga kemenangan dan satu imbang.
Namun, di sisi lain produktifitas gol menurun drastis dengan mencatat rataan 0,75 gol per laga, hasil dari kemenangan 1-0 atas PSM Makassar, Persija Jakarta dan Semen Padang, serta sekali imbang tanpa gol lawan Persipura.
Hal itu berbanding terbaik dengan statistik rataan 1,8 gol per laga yang dicatatkan di lima pekan awal TSC, saat mengalahkan Persiba Balikpapan 2-0, Bhayangkara SU (3-0), Gresik United (3-1), serta satu kali kalah 1-2 dari Mitra Kukar dan imbang tanpa gol kontra Madura United.