x

4 Pelajaran yang Bisa Diambil dari Final Euro 2016

Senin, 11 Juli 2016 08:01 WIB
Editor: Yohanes Ishak

Sebelum pertandingan dimulai, Prancis tentunya tampil penuh percaya diri, selain karena mendapat dukungan penuh dari suporter mereka sendiri, timnas berjuluk Les Bleus ini juga memiliki materi pemain yang jauh lebih baik daripada lawannya, Portugal.

Namun, siapa yang sangka, unggul di atas kertas, tak membuat mereka mampu mencetak gol untuk meraih kemenangan di waktu normal, 2x90 menit, sehingga pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak tambahan.

Gol yang ditunggu-tunggu oleh para penonton pun akhirnya lahir di menit ke-109, sayangnya, gol tersebut muncul dan menakdirkan Portugal sebagai juara Euro 2016.

Kemenangan Portugal melalui gol tunggal Eder ini, tentunya membuat banyak kalangan tidak percaya, mengingat tim tuan rumah memiliki materi pemain yang lebih baik daripada Portugal.

Jalannya pertandingan pun terbilang cukup unik, sehingga cukup banyak beberapa kejadian yang dapat diambil untuk dijadikan pelajaran penting.

Lalu apa sajakah pelajaran penting itu? Berikut ini rangkumannya versi INDOSPORT:


1. Tuan Rumah Tak Selalu Menang

Bagi penggemar sepakbola awam, pastinya sebagian besar mengira jika dalam pertandingan tidak resmi ataupun resmi (di kompetisi), tim yang bertindak sebagai tuan rumah akan selalu diuntungkan oleh sang pengadil lapangan wasit.

Tentunya tanggapan ini tidaklah salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Tim yang bertindak sebagai tuan rumah, tentu harus menunjukkan sikap profesionalnya saat sedang bertanding.

Selain itu, di setiap pertandingannya dapat dikatakan mereka tidak hanya melawan satu pihak saja, melainkan tiga.

Tiga? Ya, pertama adalah tim lawan, kedua harus dapat mengatasi tekanan yang justru datang dari pendukung mereka sendiri, karena pastinya mereka harus tampil maksimal demi menyenangkan hati para fans.

Yang terakhir adalah beban sebagai tuan rumah, karena pastinya siapapun yang akan menjadi lawan mereka pastinya punya semangat lebih tinggi atau ambisi yang kuat untuk dapat mempermalukan mereka di hadapan fansnya sendiri.

Pada laga ini pun menjadi contohnya, Prancis terbukti berhasil menepis tanggapan jika mereka tidak serta-merta mendapat keuntungan yang diberikan wasit, mereka juga mampu mengatasi tiga lawan di setiap babak yang mampu membawa mereka menjadi finalis.

Kekalahan mereka di partai puncak pun juga membuktikan, jika tim yang bertindak sebagai tuan rumah tentu tak selalu keluar sebagai pemenang atau menjadi juara.


2. Tanpa Bintang Bisa Juara

Cristiano Ronaldo dari Portugal (tengah) mengangkat trofy UEFA Euro 2016

Dari sisi Portugal, kurang lebih sekitar 10 tahun yang lalu, tim Selecao ini memiliki sejumlah pemain berbakat yang disebut-sebut sebagai generasi emas dan mampu meledak di Eropa.

Sayangnya, pemain-pemain tersebut tak mampu memberikan gelar di level Internasional, baik di kompetisi Euro maupun Piala Dunia.

Seiring berjalannya waktu, emas tersebut semakin memudar dan hanya menyisakan beberapa sedikit serpihan ‘serbuk emas’ yang ada dalam diri Cristiano Ronaldo dan Luis Nani.

Bahkan, dapat dikatakan Portugal hanya mengandalkan Ronaldo, menyusul permainan Nani yang cenderung kurang konsisten.

Tidak heran jika Portugal hanya merasakan satu kemenangan di waktu normal 2x90 menit saat melawan Wales dengan memetik kemenangan dua gol tanpa balas.

Pada pertandingan lainnya, mereka selalu sulit memetik kemenangan, selama di fase grup, Ronaldo dkk harus puas ‘dikenyangkan’ dengan hasil imbang.

Saat memasuki babak penyisihan, mereka selalu menang melalui babak tambahan waktu dan sempat menang adu penalti melawan Polandia di babak perempatfinal.

Menariknya, hasil ini justru berhasil membawa mereka ke partai puncak dan sukses tersenyum paling lebar sambil mengibarkan bendera negaranya di kancah Eropa ini.

Portugal pun membuktikan, jika tim yang tak dihuni banyak pemain bintang pun mampu keluar sebagai juara, termasuk di kompetisi besar sekalipun.


3. Final Tak Harus Berakhir dengan Penalti

Eder (Portugal)

Dalam pertandingan sepakbola, kebanyakan pertandingan terakhir dalam sebuah kompetisi atau turnamen untuk memperebutkan gelar juara harus ditutup dengan adu penalti.

Pastinya, banyak yang menilai jika dalam sebuah pertandingan di waktu normal hingga babak pertama di perpanjangan waktu skor masih imbang, maka laga akan dilanjutkan ke dalam drama adu penalti.

Laga antara Portugal melawan Prancis pun menepis adanya tanggapan tersebut, artinya juga kedua tim ini membuktikan jika para penonton harus tetap fokus menanti hadirnya pemenang dalam sebuah pertandingan di laga final.


4. Berjuang hingga Peluit Terakhir

Para pemain Portugal berlarian untuk merayakan selebrasi juara usai mendengar peluit terakhir berbunyi.

Jika anda mengawali sebuah pertandingan, maka anda harus berjuang mengerahkan tenaga hingga peluit terakhir berbunyi.

Kalimat tersebut sepertinya ditunjukkan oleh kedua tim, khususnya untuk timnas Portugal yang hampir tiada henti harus menahan gempuran dari Prancis.

Tekanan dari permainan sang lawan serta gemuruh dari fans tuan rumah tentu membuat mereka harus tetap fokus demi dapat memetik kemenangan.

Tidak ada kata lain, selain datang untuk menang. Ya, itulah kalimat yang pastinya berada dalam benak para penggawa Portugal yang terus berjuang untuk memetik kemenangan.

Hal ini pastinya mengingatkan kita, agar terus memberikan kemampuan terbaik dalam menggapai cita-cita, hingga waktu atau keadaan yang meminta anda untuk berhenti.

PrancisPortugalEuro 2016Bola Internasional

Berita Terkini