x

3 Hal di Balik Aktifnya Juventus pada Bursa Transfer

Selasa, 26 Juli 2016 14:24 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra

Juventus telah mendapat 4 pemain baru di jendela transfer musim ini. Dani Alves, Miralem Pjanic, Marko Pjaca dan Mehdi Benatia menjadi amunisi anyar Il Bianconerri musim depan.

Dari empat pemain berlabel bintang ini, hanya Dani Alves yang didapatkan Juventus secara gratis dan Benatia yang diperoleh dari hasil pinjaman. Pjanic dan Pjaca membuat Juventus harus merogoh kocek setidaknya 54 juta Euro (Rp750 miliar).


Gonzalo Higuain menjadi salah satu target utama Juventus di bursa transfer musim ini.

Juventus juga tengah memburu dua pemain lain dengan harga yang juga tidak kalah menguras dana klub. Gonzalo Higuain masuk dalam radar Juventus dan bakal menjadi pembelian terdekat dengan nilai yang dikabarkan mencapai 94.7 juta Euro (Rp1.4 triliun).

Belum lagi usaha Si Nyonya Tua untuk mendapatkan Gabriel Barbosa dari Santos. Untuk pemain ini Juventus bahkan rela membayar 20 juta Euro (Rp288 miliar).

Jika proyeksi dua pemain terakhir berhasil terlaksana, maka Juventus akan mengeluarkan dana sebesar 168.7 juta Euro (Rp2.4 triliun). Bahkan jika dibandingkan tahun lalu, nilai belanja Juventus naik hampir 17 persen dari musim sebelumnya.

Juventus total hanya mengeluarkan 106 juta Euro (Rp1.5 triliun) musim lalu. Uang ini dipergunakan untuk memboyong Paulo Dybala, Simone Zaza, Mario Mandzukic, Hernanes dan Alex Sandro ke Turin.

Tentu saja keberhasilan Juventus bisa menaikan dana transfer tidak datang begitu saja. Ada beberapa hal yang membuat Si Nyonya Tua mampu mengangkat neraca keuangan mereka.

Berikut 3 hal yang menjadi faktor aktifnya Juventus dalam bursa transfer musim ini hasil ulasan INDOSPORT;


1. Mengembalikan Filosofi Juara

Andrea Agnelli, Presiden Juventus.

Musim panas 2010 menjadi awal kiprah bagi Andrea Agnelli bersama Juventus. Kiprah pria berusia 41 tahun ini berhasil menjadi pokok utama kejayaan selama 5 tahun terakhir.

Agnelli menggantikan posisi Johan Elkann sebagai Presiden Juventus. Elkann yang merupakan sepupu dari Agnelli gagal membawa Juventus berprestasi selama periode 2009-201.

Kehadiran Andrea menjadi awal dari mengembalikan trah juara keluarga Agnelli di Juventus. Dalam catatan sejarah klub, trah Agnelli merupakan generasi yang mampu menjaga filosofi juara.

Andrea juga cucu dari Umberto Agnelli, salah satu Presiden legendaris Juventus. Hanya butuh setahun bagi Andrea untuk memimpin Juventus ke jalur juara.

Langkah pertama Andrea adalah mengangkat Antonio Conte di musim 2011. Andrea yakin bahwa harus ada sosok yang mengenal filosofi juara di Juventus untuk membawa kebangkitan Juventus.


Antonio Conte langsung dipercaya menjadi pelatih Juventus oleh Andrea Agnelli di tahun 2011.

Kemudian Andrea juga mengganti Direktur Olahraga Juventus dari Alessio Secco dengan Giuseppe Marotta. Langkah ini terbukti tepat dengan strategi jitu Marotta di setiap aktivitas transfer Juve.

Andrea juga tidak segan menemani Juventus dalam beberapa pertandingan penting. Seluruh fokus dan tenaganya diluangkan khusus untuk Juventus.

Hal ini memacu Juventus untuk memiliki ambisi semestinya, kembali ke jalur juara. Andrea berhasil merombak seluruh pola pikir manajemen dan staff Juventus yang sempat ambruk usia skandal Calciopoli.

DNA juara keluarga Agnelli mampu disuntikan kembali dalam tubuh Juventus. Ambisi demi ambisi baru membuat Juventus terus lapar akan prestasi.

Andrea juga mempu membuat skuat Juventus tampil semakin solid. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar bagi Juventus untuk aktif dalam beberapa jendela transfer. 


2. Peran Raja Kredit

Giuseppe Marotta, Direktur Olahraga Juventus.

Menginjak tahun keenam, kehadiran Giuseppe Marotta menjadi nyawa lain bagi Juventus. Sosok yang akrab disapa Beppe ini dikenal sebagai salah satu negosiator ulung di dunia transfer.

Marotta bergabung dengan Juventus usai menggantikan Alessio Secco yang dinilai payah dalam membeli pemain. Berbeda dengan Secco yang masih hijau di dunia transfer, Marotta mulai memperlihatkan kelasnya dalam berbelanja.

Salah satu keahlian Marotta adalah menekan harga pemain yang masuk dalam daftar belanja Juventus. Alessandro Matri, Milos Krasic, Mirko Vucinic dan Arturo Vidal adalah contoh sukses negosiasi Marotta di awal kariernya bersama Juventus.

Selain jago menawar harga pemain, Marotta juga ahli dalam mencicil pembayaran. Bahkan publik Italia mengenalnya sebagai Raja Kredit di Serie A Italia.

Arturo Vidal dan Alesandro Matri adalah pemain yang didatangkan Marotta dengan kredit. Juventus bisa mencicil nilai transfer mereka selama tiga tahun untuk membayar.


Arturo Vidal menjadi salah satu keberhasilan Juventus melakukan strategi kredit di bursa transfer.

Strategi ini dilakukan Marotta bukan tanpa alasan. Kala itu Juventus tengah membangun stadion baru, sehingga keuangan mereka terkuras dalam proses pembangunan ini.

Selain itu, Italia juga menjadi salah satu negara yang terkena krisis keuangan Eropa. Inilah yang membuat strategi Marotta cukup jitu kala itu.

Akibatnya Marotta harus selektif dalam berbelanja. Juventus tidak jarang juga mendapatkan pemain yang dianggap sudah hampir habis agar mendapatkan harga murah ataupun gratisan.

Strategi transfer ini terus berlanjut hingga saat ini. Tidak sedikit pemain hasil kreditan Juventus yang berhasil menjadi bintang baru.

Strategi ini dianggap sehat bagi neraca keuangan Juventus. Situasi ini bahkan membuat Juventus berhasil menjawarai Serie A Italia selama 5 tahun terakhir, meski dengan skuat yang didapat dari hasil kredit dan setengah 'buangan'.


3. Berkah Stadion Milik Pribadi

Juventus Stadium

Juventus resmi membeli Delle Alpi dari Pemerintah Kota Turin pada tahun 2003. Tidak puas dengan kondisi stadion, Juventus segera merencanakan pembangunan sebuah stadion baru.

Pada tahun 2008 barulah projek akbar ini baru terealisasi. Meskipun ihwal pembangunan ini disertai dengan terdegradasinya Juventus ke Serie B akibat skandal Calciopoli.

Bangunan asli dari stadion lama diruntuhkan dan diganti dengan bangunan yang baru. Jumlah kursi pun dikurangi 20 ribu tempat duduk.

Sebuah hal yang aneh dan dilakukan sebuah klub Eropa. Jika biasanya pembangunan ditujukan untuk menambah kapasitas, Juventus justru mengurangi kapasitas.

Lima tahun kemudian, hal ini baru bisa terjawab. 42 ribu kursi tersisa dari awalnya 62 ribu yang tersedia jawaban atas aura pendukung yang semakin dekat dengan tim.

Posisi pendukung bisa lebih dekat dengan para pemain Juventus. Selain itu, stadion juga tampak lebih penuh di setiap pertandingan.


Juventus mendapat pemasukan 32 juta Euro hanya dari penjualan tiket pertandingan per tahun.

Juventus juga menjadi pionir klub Italia yang memiliki stadion sendiri. Hampir seluruh klub Italia sebelumnya masih menyewa stadion dari pemerintah setempat.

Hal ini membuat tiket pertandingan Juventus kerap habis saat mereka berlaga. Biaya pembangunan sebesar 100 juta Euro (Rp1.3 triliun) ini pun terbayar dengan bertambahnya pemasukan klub.

Juventus bisa meraup 32 juta Euro (Rp461 miliar)  per musim hanya dari penjualan tiket. Ini artinya sejak tahun 2014 seharusnya biaya pembangunan Juventus Arena ini sudah balik ke kas klub.

Sejak dua tahun belakangan Juventus tsudah bisa menikmati keuntungan finansial dari keberadaan stadion milik klub. Hal ini mungkin juga menjadi salah satu faktor utama bagaimana ganasnya Juventus di calciomercato musim ini.

JuventusAndrea AgnelliBeppe MarottaGiuseppe MarottaIn Depth SportsJuventus Stadium

Berita Terkini