x

Merasa Dicurangi, Tim Sepakbola PON DKI Laporkan Jateng ke Dewan Hakim

Sabtu, 17 September 2016 18:22 WIB
Editor: Yohanes Ishak

Tim DKI merasa adanya pelanggaran kesepakatan dalam perhelatan PON XIX Jawa Barat. Tim DKI menilai para tim peserta lainnya tidak menjalankan kesepakatan terkait batas pemain profesional yang boleh didaftarkan.

Dalam kesepakatan peraturan sepakbola PON XIX, masing-masing tim hanya diperbolehkan mendaftarkan lima pemain profesional dan dari lima yang didaftarkan, hanya boleh menurunkan tiga pemain profesional.

Namun kenyataan lain diterima oleh tim DKI. Tim asal Ibu Kota yang sudah melakoni dua pertandingan merasa dicurangi, yaitu saat mereka menghadapi Bali dan Jawa Tengah. Hal ini seperti dilontarkan oleh manajer tim sepakbola PON DKI, Jakarta, Erwin Benny.

"Kami curiga tiga tim menggunakan pemain pro lebih dalam satu lapangan seperti apa yang ada dalam peraturan didaftarkan," ucap manajer tim sepakbola PON DKI, Erwin Benny kepada INDOSPORT.

"Dalam kesepakatan hanya bolehnya lima, dari yang didaftarkan hanya tiga yang boleh main di atas lapangan. Tapi saat main lawan Bali, mereka memainkan empat pemain," keluhnya.

Meski sudah menemukan kejanggalan sejak pertandingan pertama melawan Bali, namun Erwin belum melaporkan kejadian tersebut kepada dewan hakim. Ia memiliki harapan agar kejadian serupa tidak terjadi di laga berikutnya.

Sayang harapan mereka tak tercapai. Sebab dalam laga menghadapi Jawa Tengah kejadian serupa juga mereka terima.

"Saya kecewa, karena keluhan saya terulang lawan Jateng. Mereka main dengan menurunkan empat pemain pro," beber Benny.

Kini dengan kembali dikecewakan oleh kejadian ini, Erwin telah melaporakan kejadian ini kepada dewan hakim. Dia telah mengumpulkan bukti terkait pelanggaran tersebut.

Bila hal ini terbukti benar, bukan tidak mungkin, Bali dan Jateng akan dinyatakan kalah WO saat menghadapi DKI Jakarta. 

PON Jabar 2016

Berita Terkini