Regulasi FIFA, Kebijakan Pemerintah, dan Perjalanan Panjang Tristan Alif
Kamis (20/10/16) siang, ruang redaksi INDOSPORT mendapat kunjungan dari pesepakbola muda Indonesia yang beberapa waktu lalu sempat jadi sorotan, Tristan Alif Naufal. Alif datang bersama sang Ayah, Ivan Trianto dan perwakilan Footballicious, Andhika Suksmana.
Pesepakbola muda Indonesia yang mendapat julukan 'Messi Indonesia' itu beberapa waktu lalu dikabarkan berada di salah satu klub La Liga Spanyol yang baru promosi dari Divisi Segunda, Leganes.
Publik dan media Indonesia menerka-nerka bahwa Alif telah bergabung ke Leganes. Alasannya lewat akun Twitter pribadi, Alif mem-publish sebuah foto saat ia berada di Stadion Municipal de Butarque bersama dengan jajaran manajemen klub serta menggunakan jersey dan syal Leganes, sangat mirip dengan seorang pemain yang bergabung dengan satu klub.
'Tristan Alif Direkrut Leganes', 'Messi Indonesia, Tristan Alif Resmi Direkrut Klub La Liga Spanyol', kira-kira seperti itu headline sejumlah pemberitaan media olahraga di Indonesia.
Bak sambaran petir di tengah hari bolong, beberapa hari kemudian salah satu media terbesar di Spanyol, AS menurunkan laporan berjudul 'El Leganes es famoso hasta en Indonesia... y gracias a un nino'.
Laporan tersebut pada intinya membantah headline dan pemberitaan media Indonesia soal status Tristan Alif beberapa waktu lalu. Bola salju kemudian membesar di dalam negeri setelah AS menurunkan laporan ini.
Seperti penuturan sang ayahanda, berbekal laporan dari AS itu, sejumlah media di Indonesia kemudian langsung menyimpulkan bahwa ada kebohongan terkait status Alif.
"Kami kemudian mendapat banyak hujatan dari banyak pihak. Inbox Facebook dan Twitter Alif mendapat banyak pesan negatif yang bilang kita bohong dan lain-lain," kata Ivan Trianto kepada INDOSPORT.
Lantas apa yang menjadi benang kusut Tristan Alif dan Leganes hingga alami kondisi seperti ini? Berikut kronologis soal status Tristan Alif di Leganes dari Ivan Trianto dan Andhika Suksmana untuk pembaca setia INDOSPORT:
1. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Tristan Alif?
Sebelum membahas di Leganes, kami harus mundur terlebih dahulu di 2013, karena di sini kisah perjalanan Tristan Alif dimulai. Saat itu keluarga Tristan mendapat undangan dari Ajax Amsterdam dan memang ada ketertarikan dari Ajax kepada Alif.
Namun semua itu terganjal pada aturan Federation Internationale de Football Association (FIFA). Pada 2014, Tristan kembali mendapat kesempatan untuk kembali ke Belanda dan berlatih di dua akademi sekaligus, Ajax Amsterdam dan Feyenoord Rotterdam.
Jika mengacu pada regulasi FIFA terkait status dan transfer pemain, aktivitas transfer internasional bisa terjadi jika pemain sudah berusia 18 tahun atau lebih. Namun bisa terjadi jika mengacu ada artikel 19 butir ke-2.
Dua tahun Tristan berada di Indonesia, kami melihat ada beberapa hal yang bisa ditawarkan ke klub-klub Eropa tersebut. Terakhir, ada klub dari Spanyol, Leganes yang mencoba untuk mengundang Tristan Alif berlatih di akademi mereka.
Bahkan ada tawaran dari klub Latvia. Klub tersebut bahkan bersedia memberikan pekerjaan dan pendidikan untuk Alif dan adik-adiknya juga ditanggung.
2. Dari rentang waktu setelah dari Ajax, mengapa memilih Leganes?
Sebenarnya kami fokus masih ke Belanda. Karena Alif masih ada kesempatan main di akademi Ajax dan Feyenoord. Terakhir Alif latihan di Ajax dan Feyenoord, Alif mendapat raport dari Feyenoord.
Secara tidak langsung apa yang dilakukan Feyenoord dengan memberikan raport, Ajax mengundang Alif, dan Leganes juga dengan undangannya secara tidak langsung klub-klub ini menyatakan Alif punya satu tempat di akademi mereka.
Sampai pada Februari 2015, kami berbicara langsung dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Kami menunggu bantuan dari Kemenpora sampai akhir 2015, tapi tidak mendapat apa-apa.
Leganes dipilih karena jalan di Spanyol lebih mudah dibanding Belanda.
3. Apa yang kemudian jadi kontroversial setelah Leganes tertarik pada Alif?
Ada beberapa hal yang harus diklarifikasi. Klarifikasi ini sangat penting, tidak ada rekayasa, pemberangkatan tersebut murni undangan, latihan di akademi, Tristan sempat bermain di tim Leganes. Bahkan Alif sempat bermain beberapa menit untuk tim muda Leganes padahal Alif baru terbang 20 jam. Tapi Alif diminta langsung bermain dengan anak-anak yang usianya lebih dewasa.
Namun kembali lagi, proses administrasi yang harus kami taati sesuai dengan artikel 19 butir ke-2 regulasi FIFA. Di Leganes itu sebenarnya tengah disusun, apa yang aman untuk klub, bapak Alif kerja dimana, agar saat FIFA melakukan investigasi tidak merugikan klub dan pemain.
Setelah pemberitaan jadi ramai di sini, kami harus menjaga karier Tristan Alif, eksisnya klub di Eropa harus kami jaga karena mereka dipantau terus oleh FIFA. Untuk saat ini, status Alif, kami diminta untuk mengurus administrasi bapak Alif agar lebih mudah.
Solusinya hanya dua untuk proses adminitrasi ini selesai yakni, bapak Alif bekerja di Kedutaan Besar Indonesia atau bekerja di perusahaan milik pemerintah Indonesia luar negeri seperti Garuda Indonesia di Belanda misalnya.
4. Berkaca dari kasus Leganes ini, apa harapan keluarga dari pemerintah?
Perhatian dari pemerintah sudah sangat wajib, kami harapkan untuk turun tangan. Bagaimana cara pola pembinaan, sistem itu harus dilakukan, infrastruktur harus dibuat, kami di sini masyarakat tidak akan bisa apa-apa jika pemerintah tidak menolong anak-anak muda yang jadi bakat Indonesia.
Kami sebenarnya sudah tidak terlalu berharap pada Kemenlu dan Kemenpora, tapi kami masih punya harapan dari kementerian terkait seperti dari Kementerian Pendidikan karena bapak Alif sempat mendapat tawaran untuk bekerja sebagai guru di Sekolah Indonesia Nederland (SIN), namun belum ada respon lebih lanjut dari Kemenlu soal ini.
Kami juga berharap akan campur tangan pada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.
Simak video lengkapnya hanya di INDOSPORT.COM