x

Bisikan Kebangsaan Para Pemain Muda Indonesia di Luar Negeri

Kamis, 3 November 2016 14:51 WIB
Editor: Rizky Pratama Putra

Nama Tristan Alif kembali muncul di permukaan beberapa waktu belakangan, setelah terakhir kali menjadi tajuk utama karena mendapat undangan unjuk kebolehan dari Ajax Amsterdam, tiga tahun silam.

Kali ini, Tristan membawa kisah kekecewaan setelah menapaki karier berbatu di Eropa. Sempat mengakui bahwa pernah diminati oleh Ajax dan Feyenoord di Belanda, Tristan juga kabarnya sempat direkrut oleh tim asal Spanyol, Leganes. 

Akan tetapi, kisah ini menemui jalan buntu saat akan mencapai fase klimaksnya. Tristan menuai sejumlah kendala saat mencoba untuk mencatat sejarah personal yang juga memunculkan keharuman bagi bangsanya.


Tristan Alif sempat dilirik sejumlah klub asal Belanda dan Spanyol sebelum mengaku terkendala masalah administrasi.

Kendala administrasi perihal izin kerja dikeluhkan oleh pihak Tristan Alif selama berada di Eropa. Hal ini disampaikan oleh Ivan Trianto, bapak dari Tristan Alif.

"Kemarin (saat di Belanda pada 2013) jika pemerintah membantu kita, selesai sudah. Pemerintah hanya memberi pekerjaan ke saya, sisanya di urus oleh Ajax Amsterdam. Yang mereka minta hanya surat izin tinggal bapaknya," kata Ivan kepada INDOSPORT.

Selain itu, permasalahan teknis juga menjadi salah satu alasan kenapa negara lain, khususnya, menjadi incaran para pemain yang ingin berkembang. Pasalnya, Indonesia dianggap tidak mumpuni dalam metode pengembangan bakat para pemain usia dini.


 PSSI ditantang untuk segera membenahi program pembinaan para pemain muda.

Setali tiga uang dengan urusan kebijakan, Indonesia sendiri masih memiliki prestasi minor di kancah internasional. Hal ini yang membuat sejumlah pesepakbola keturunan lebih memilih untuk tetap membela negara di tempat mereka berkembang.

Jika belajar dari pengalaman para pemain seperti Mesut Ozil, Miroslav Klose, ataupun Lukas Podolski, maka harusnya alarm pemerintah bisa cepat berbunyi. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator dari pencaplokan pemain muda Indonesia oleh negara yang siap memfasilitasi kemampuan alami mereka.

Bagaimana pola pembinaan seharusnya dari para bakat muda Indonesia agar tetap bisa menuai harapan? Berikut hasil ulasan dari INDOSPORT;

 

1. Akademi Sebagai Tolak Ukur Pembinaan

Akademi sepakbola dianggap menjadi salah satu jembatan penghubung bagi Timnas sebuah negara.

Akademi menjadi salah satu indikator pembinaan pemain muda. Peran penting akademi adalah sebagai wadah bagi para pemuda untuk meningkatkan kapasitasnya.

Akademi bisa menjadi ladang benih bagi calon pemain masa depan. Tidak hanya bagi klub, tapi juga Tim Nasional sebuah negara.

Hal ini diakui oleh Timo Scheunemann, salah satu pelatih yang memiliki kedekatan dengan pembinaan bakat muda di Indonesia. Bahkan, Timo mendorong klub-klub di Indonesia melakukan modernisasi terhadap pola pembinaan mereka.

"Akademi dibilang mahal, padahal penting bagi klub untuk bisa mencari bibit pesepakbola usia dini. Sekarang banyak pelatih yang asal melihat pemain yang penting cepat, bisa melewati banyak pemain, dan mencetak gol," ujar Timo kepada INDOSPORT.

Timo Scheunemann memiliki harapan agar Indonesia lebih peduli terhadap pembangunan akademi sepakbola.

Padahal, Timo menuturkan bahwa klub-klub di Bundesliga menjadikan akademi sebagai salah satu andalan mereka untuk bertahan dari gilanya pasar transfer. Salah satunya adalah VfB Stuttgart yang memiliki pola pembinaan usia muda yang mumpuni.

VfB Stuttgart merupakan tim yang dibiayai penuh oleh sebuah pabrikan otomotif ternama dunia asal Jerman. Akan tetapi, klub ini tidak royal dalam menggelontorkan uang untuk melakukan pembelian pemain.

"Kita lihat VfB Stuttgart yang berkiprah di Bundesliga 2 Jerman. Stuttgart merupakan klub kaya tapi masih memiliki ketergantungan terhadap pemain di akademinya," kisah Timo.


VfB Stuttgart merupakan salah satu tim Jerman yang memiliki akademi sepakbola modern di Eropa.

Klub sekelas Stuttgart memiliki 9 pemandu bakat yang khusus memantau bakat muda. Dari sembilan orang tersebut, hanya 2 orang yang bertugas untuk mencari bakat bagi tim senior mereka.

Sisanya, tentu saja menjadi mata dan telinga bagi para bocah yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk bergabung di akademi mereka. Hal ini menjadi salah satu tolak ukur payahnya pembinaan usia muda di Indonesia.

Pasalnya, saat ini hanya sedikit klub asal Indonesia yang memiliki akademi sendiri. Tercatat hanya Villa 2000, dan Bina Taruna yang memiliki akademi sepakbola sendiri.

Villa 2000 dan Bina Taruna sendiri merupakan klub yang tergabung di Liga Nusantara, kompetisi kasta kedua di Indonesia. Sementara Bali United baru akan membuka akademi mereka sendiri.

Problem ini menjadi salah satu keringat dingin bagi para pemain muda yang khawatir akan bakat mereka tergerus. Sejumlah pesepakbola usia muda akhirnya lompat pagar untuk memilih berkiprah di sejumlah akademi di luar negeri.

Masalah baru muncul, tanpa mendapatkan pengalaman berkompetisi di tingkatan regional, para pemain ini sedikit kesulitan untuk bersaing di luar. Muskil bagi para pemain untuk bisa diadu dengan bakat dari para bocah Eropa yang memang sejak awal mendapat pendidikan matang di akademi.

"Pemain Indonesia sejauh ini hanya mengandalkan bakat alam. Gak akan bisa bersaing. Bakat saja tidak cukup, tapi diperlukan kemauan untuk mengembangkan diri," ujar Timo.

Ihwal ini kemudian mengembalikan kembali permasalahan bakat muda kita pada benang merah pembibitan yang berjenjang. Mustahil membentuk kerangka dari pemain muda yang brilian tanpa ada akar yang kuat soal pembinaan.

 
 
 

2. Pengiris Harapan Bernama Kebijakan

Pemerintah sudah harus mulai membenahi program pembinaan atlet muda di Indonesia.

Sejumlah bakat Indonesia yang mencoba mengadu nasib di luar negeri akhirnya terkapar. Kita tentu masih berduka soal kabar terganjalnya Tristan Alif untuk berkarier di Eropa lantaran izin tinggal.

Tristan yang kabarnya sudah didekati sejumlah klub di Eropa harus menunda mimpinya untuk bermain di salah satu kompetisi bergengsi di dunia tersebut. Tristan tidak mendapatkan izin tinggal karena sang ayah tidak memiliki pekerjaan tetap di Belanda dan Spanyol yang menjadi persinggahannya.

Pekerjaan sang ayah memang jadi hal wajib jika Alif ingin berkarier di Eropa. Pasalnya hal ini sesuai dengan peraturan dari Federation Internationale de Football Association (FIFA). 


Tristan Alif sempat mendapat undangan khusus dari Ajax Amsterdam pada tahun 2013 silam.

Jika mengacu pada regulasi FIFA terkait status dan transfer pemain, aktivitas transfer internasional bisa terjadi jika pemain sudah berusia 18 tahun atau lebih. Namun, hal itu boleh terjadi di bawah usia 18 tahun jika mengacu pada artikel 19 butir ke-2.

Pada poin A, FIFA menjelaskan bahwa, transfer internasional bisa dilakukan jika orangtua pindah ke negara tempat klub yang dituju dengan alasan yang tidak terkait sepakbola, contoh; punya pekerjaan di perusahaan setempat.

Kisah yang sama pun terjadi pada Yussa Nugraha, salah satu talenta menjanjikan yang sempat menimba ilmu di Belanda. Yussa sempat bergabung bersama SC Feyenoord U-15, tim yang berkiprah di Sunday Hoofdklasse A atau kasta kedua dari strata kompetisi amatir di Belanda.

Karier Yussa bersama SC Feyenoord U-15 tidak bisa dianggap sebelah mata. Ia pernah menjadi top skor klub dengan catatan 18 gol dan 13 assist dari 33 pertandingan di seluruh ajang. 


Aksi Yussa Nugraha bersama SC Feyenoord terkendala masalah izin tinggal di Belanda.

Menyusul libur kompetisi, pada Juli lalu Yussa dan kedua orang tuanya pulang ke tanah air untuk berlibur. Rencananya, Yussa dikabarkan akan kembali ke Belanda pada bulan Agustus, namun nasib berkata lain. Akibat terganjar masalah visa, winger lincah tersebut terpaksa absen di musim baru ini karena tak bisa kembali ke Belanda.

“Sebenarnya Yussa ingin kembali ke Belanda, karena dia masih harus menyelesaikan sekolah selama 2 tahun lagi. Sayangnya terhambat karena terganjal masalah visa. Visa Yussa susah untuk diurus karena dia masih di bawah umur (15 tahun), di mana aturan di Belanda harus didampingi orangtua,” tutur ibunda Yussa, Indra Lieu Nugraha kepada INDOSPORT.


Imam Nahrawi diharapkan bisa membantu memfasilitasi para pemain muda Indonesia untuk berkarier di luar negeri.

Untuk kasus Tristan sendiri, Ivan Trianto, sang ayah menyebutkan ada celah untuk tetap bisa merawat mimpi anaknya. Menurut Ivan, anaknya hanya memiliki satu jalan yakni di pengecualian dalam peraturan FIFA di Poin A tersebut melalui pekerjaan dan surat izin tinggal. 

"Caranya hanya dua jika hal ini bisa terlaksana yakni, saya bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia sebagai apa pun, yang kedua saya bekerja di perusahaan Indonesia di luar negeri, dan kami sudah tempuh itu," kata Ivan kepada INDOSPORT.

Hal ini membuktikan bahwa setidaknya sepakbola masih membutuhkan sedikit sentuhan kebijakan dari negara. Jika tidak, kebijakan ini justru akan menjadi pedang tajam yang seketika mengiris harapan dari seorang bakat muda Indonesia. 

 
 

3. Menanti Pekerjaan Rumah PSSI yang Tak Kunjung Usai

Para calon Ketum PSSI dihadapkan pada pekerjaan rumah untuk bisa meningkatkan program pembinaan pemain muda.

Problematika pengembangan usia muda bukan hal baru bagi persepakbolaan Tanah Air. Isu ini menjadi sederet pekerjaan rumah yang selalu menjadi misi utama dalam setiap hajatan besar PSSI sebagai induk sepakbola tertinggi di Indonesia.

Namun hingga hari ini, hasil minor masih bisa dilihat secara kasat mata. Pengembangan usia muda masih menjadi ritme terputus yang belum rampung.

Padahal kompetisi profesional di Indonesia sudah digaungkan sejak Liga Indonesia pertama kali bergulir di tahun 1994. Belakangan baru terbersit penyelenggaraan turnamen untuk kelompok umur U-21 yang wajib diikuti oleh para klub yang tampil di TSC 2016.


Duel laga final ISL U-21 antara Semen Padang melawan Sriwijaya FC di musim 2014.

Karut-marut ini harus segera mendapat perhatian khusus, agar modernisasi sepakbola Indonesia bisa berjalan di trek yang semestinya. Hal ini juga diamini oleh Timo Scheunemann sebagai praktisi pembinaan bakat muda di Indonesia. 

"Klub di TSC harus punya sistem scout, hal tersebut harus menjadi instruksi yang harus dipenuhi dan dilakukan oleh pemerintah," ujar Timo kepada INDOSPORT.

Keberaradaan sistem akademi dan jenjang kompetisi yang memadai akan membuat iklim sepakbola Indonesia diyakini menyongsong musim semi. Keberhasilan dalam pola pembangunan sistem usia muda juga niscaya membawa Tim Nasional Indonesia bisa lebih maju.


Timo Scheunemann mengingatkan pentingnya wadah pembinaan bagi para pesepakbola muda nasional.

Sebagai salah satu negara dengan popularitas sepakbola yang tinggi dari masyrakatnya, Indonesia kiranya perlu mencontoh beberapa pengembangan bakat di Eropa, Belanda misalnya. Negeri Kincir Angin ini hanya memilili penduduk tidak lebih dari 17 juta jiwa, namun tidak kekurangan bakat moncer di setiap generasinya.

Berbeda dengan Indonesia, Belanda yang hanya memiliki luas wilayah sebesar 42.508 km2 memiliki 3.200 klub. Ribuan klub ini pun dipastikan akan tampil setiap minggunya untuk mengikuti kompetisi di semua level usia.

Ada 12 kompetisi dari mulai level amatir hingga profesional dalam berbagai kelompok umur di Belanda. Hal ini bisa menjadi salah satu kawah candradimuka yang ampuh untuk menjadi ujian para pesepakbola tampil kompetitif hingga level tertinggi.

 

4. Mencegah Migrasi Dini, Merawat Semangat Kebangsaan

Abdurrahman Iwan, salah satu talenta Indonesia yang bersinar di luar negeri.

Siapa tak mengenal Mesut Ozil, pemain ternama yang berkibar bersama Tim Nasional Jerman. Padahal pemain ini merupakan pemain keturunan yang tercium bakatnya oleh negara yang membesarkan bakat sepakbolanya.

Ozil merupakan pesepakbola yang lahir dari keluarga imigran asal Turki. Lahir dan tumbuh di Gelsenkirchen, Ozil memulai karier sepakbolanya melalui sebuah klub lokal Rot-Weiss Esen sebelum diambil alih akademi Schalke di tahun pada tahun 2005. 


Mesut Ozil yang memiliki darah Turki akhirnya memilih membela Timnas Jerman.

Pemain kelahiran tahun 1988 ini memaksa Jerman dan Turki terlibat sedikit perselisihan untuk menggunakan jasanya di Timnas mereka. Namun, akhirnya Ozil memilih untuk membela Jerman pada tahun 2007.

Alasan Ozil tidak lain adalah bahwasanya dirinya merupakan seorang Jerman sejati. Lahir dan tumbuh di Jerman serta merasa dibesarkan oleh sepakbolanya, menjadi alasan mudah untuk Ozil memutuskan Timnas yang ia bela.

Terlebih soal prestasi gemilang Jerman di kancah internasional yang lebih mentereng dibanding Turki. Ozil sendiri sudah terlebih dahulu membela Jerman di Timnas U-17 dan U-20 sehingga ingin tetap menjadi Der Panzer di karier profesionalnya.

Apa yang terjadi pada kasus Ozil ini rentan pula menerpa para bakat muda Indonesia jika para stackholder sepakbola nasional tak segera melakukan pembenahan. Problem naturalisasi yang sempat digaungkan terbukti tidak memberikan hasil maksimal lantaran, bakat yang dipilih bukan lagi pemain yang berumur ideal.

Sejatinya, kita masih memiliki sejumlah nama yang masih bisa diasah lebih berkilat. Yussa Nugraha dan Richie Risnal berada di daftar bakat terpantau di Belanda.


Yussa Nugraha harus menahan mimpinya melanjutkan karier di Belanda karena problem izin tinggal.

Yussa yang masih memendam kekecewaan lantaran gagal bertahan di SC Feyenoord akibat izin tinggal, tentu saja berpotensi berpikir ulang untuk melakukan jalan pintas. Harapan Yussa untuk bisa berkompetisi di Eropa bisa saja terealisasi jika saja Yussa mendapat paspor Belanda.

Hal ini bukan isapan jempol semata, lantaran Yussa sempat menjadi pencetak gol terbanyak SC Feyenoord dengan gelontoran 18 gol. Bakat ini bukan tidak mungkin terendus oleh pemandu bakat asal Negeri Kincir Angin.

Belum lagi Richie Risnal yang kini menetap di Belanda bersama orangtuanya. Mapan secara administrasi membuat Richie bisa fokus mengembangkan bakatnya bersama Coerver Coaching Academy.

Bakat Richie kini mulai terpantau oleh sejumlah klub di Liga Belanda. Usianya yang masih 9 tahun merupakan darah segar bagi regenerasi bakat potensial.


Aksi Richie Risnal yang satu akademi dengan putra Patrick Kluivert di Belanda.

Richie yang lahir di Belanda tentu saja mendapatkan privilege untuk mendapat paspor Belanda. Hal ini menjadi gaung sendiri bagi Indonesia jika ingin mendapatkan jasa pemain yang 10 tahun lagi mungkin berkiprah di kompetisi elite Eropa.

Bergeser sedikit ke Asia, ada nama Abdurrahman Iwan yang menanti harapan di Qatar. Abdurrahman juga bernasib baik sebagaimana Richie Risnal.

Lahir di Qatar dan memiliki orangtua yang menetap di negara tersebut, membuat Abdurrahman menikmati musim semi bakatnya. Saat ini, Abdurrahman tercatat dalam tim Al Wakra U10 yang berkiprag di Qatar Super League (QSL) junior.


Aksi memikat Abdurrahman Iwan di Liga Qatar membuatnya mendapat tawaran berpindah kewarganegaraan.

Gawatnya, Abdurrahman mampu membuat gelontoran 79 gol selama dua musim pertamanya di QSL junior. Bahkan Abdurrahman mengakui sempat mendapat tawaran untuk menjadi warga negara Qatar dari pelatihnya.

Tentu saja kita ingin melihat nama-nama di atas menghuni skuat utama Timnas Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Perombakan sistematis penting dilakukan jika saja kita tidak ingin kejadian aneksasi bakat muda seperti yang dilakukan Jerman terhadap Turki tidak terjadi di Indonesia.

 
 
PSSIKementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora)Imam NahrawiTristan AlifIn Depth SportsYussa NugrahaAbdurrahman IwanRichie Risnal

Berita Terkini