(FOTO) Anggota Jakmania Meninggal, Kemenpora Ucapkan Belasungkawa
Laga berakhir kacamata di pekan 27 Torabika Soccer Championship (TSC) yang berlangsung di Stadion Manahan, Solo. Namun, dukungan tanpa henti terus dilakukan The Jakmania di dalam stadion, sambil mengenakan atribut yang sedianya dilarang PT GTS, selaku operator TSC. Pasca menyaksikan laga itu, The Jakmania pun kembali dengan menggunakan enam bus menuju Jakarta.
Di tengah perjalanan itu, menurut kabar dari pihak Polda Jawa Barat, enam bus rombongan The Jakmania melewati Pintu Tol Palimanan kilometer 188, kemudian secara mendadak tiga bus yang berjarak dua kilometer dari bus yang ada di depannya, berhenti di 100 meter flyover Lungbenda.
Mereka menduga adanya sekelompok Bobotoh atau Viking Persib yang coba menghadang, hingga melempari rumah warga Lungbenda dengan batu. Alhasil, bentrok pun tidak dapat dihindari, karena warga setempat menyerang balik. Lebih lanjut menurut Polda Jawa Barat, pemuda yang diduga Bobotoh itu, ternyata hanya anak punk yang biasa berkumpul.
Harun yang merupakan warga Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta pun menjadi korban bentrok itu. Selain Harun, tiga orang lainnya juga dirawat di Cirebon karena cedera, dan dua lainnya dalam kondisi kritis di Boyolali dan Solo.
Mendengar kabar itu, Kementerian Olahraga dan Pemuda Republik Indonesia (Kemenpora) pun ikut angkat bicara. Menurut rilis yang diterima INDOSPORT dan diberikan oleh Gatot S. Dewa Broto selaku Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga di @gsdewabroto, Kemenpora menyampaikan ucapan duka cita sangat mendalam atas jatuhnya korban di insiden tersebut.
Kemenpora pun berharap agar insiden seperti ini tidak terjadi lagi, dan pihak kepolisian segera menegakkan aturan hukum untuk menjaga perdamaian. Kemenpora pun langsung berkomunikasi dengan Dirut PT GTS, Joko Driyono, agar segera diadakan pertemuan untuk membahas tindakan anarkis suporter di sepakbola Tanah Air.
Sebagai penutup, tak lupa Kemenpora menghimbau kepada suporter sepakbola Indonesia lainnya, agar tidak terlibat konflik atau bentrok antar suporter klub lainnya. Selain itu, Kemenpora menyampaikan dua pesan yang ditujukan kepada pihak kepolisian dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia).
Kepada pihak kepolisian, Kemenpora kecewa karena konvoi The Jakmania itu tidak mendapat pengawalan langsung, apalagi kabar memberitakan bahwa konvoi bus banyak dan beresiko untuk jarak jauh.
Sedangkan untuk PSSI, meski tidak terlibat di turnamen TSC, federasi tertinggi sepakbola Tanah Air itu diharapkan dapat memikirkan masa depan pengaturan suporter, untuk menghindari adanya bentrokan dalam Kongres PSSI yang berlangsung 10 November 2016.