x

Cerita Bachdim, Boaz, dan Hansamu Dalam Memaknai Arti Pesepakbola Profesional

Selasa, 22 November 2016 11:40 WIB
Editor: Arief Rahman Hakim

Siapa yang menyangka, latihan yang tadinya berjalan biasa saja kemudian berubah menjadi petaka bagi pemain andalan Timnas, Irfan Haarys Bachdim. Hari itu seolah menjadi pagi paling kelabu dalam hidup striker 28 tahun itu. Terlibat duel dan berebut bola, Irfan kemudian mengalami benturan dengan bek Timnas, Hansamu Yama Pranata.

“Dia (Irfan) mengalami cedera karena tadi sempat ditekel dan dia kurang beruntung terkena engkel kaki kirinya. Sejauh ini kita belum tahun keadaannya,” ujar Riedl usai memimpin latihan pagi itu.

Hasil medical check yang diperoleh ternyata di luar dugaan. Irfan dikabarkan mengalami retak tulang fibula di kaki kirinya. Ayah dua anak itu diharuskan beristirahat total selama dua bulan. Begitu pulang dari rumah sakit, ia langsung secepat kilat berlari ke dalam hotel meskipun dengan hanya menggunakan satu kaki.

Air mata sang pemain pun tak kuasa ditahan, ia kemudian menangis sebelum masuk ke dalam lift menuju kamar hotel. “Mimpi saya telah hancur” kira-kita seperti itulah perasaan Irfan Bachdim.

Pasca kejadian tersebut, keadaan pun menjadi ambigu. Berbagai tanggapan pun mengalir, baik untuk Irfan maupun Hansamu. Hal tersebut seolah bola salju yang bergerak tanpa arah dan tujuan yang jelas. Ucapan simpati hingga kata-kata yang pedas di telinga pun diterima, dalam hal ini Hansamu.

Akan tetapi sikap berbeda justru ditunjukkan kedua pemain tersebut, bersama kapten Timnas, Boaz Solossa. Mereka dengan besar hati menunjukkan sikap profesional sebagai pesepakbola, sekaligus memberikan contoh yang layak jadi panutan pecinta sepakbola maupun masyarakat pada umumnya.

Lantas apa yang ditunjukkan ketiga pemain Timnas tersebut. Berikut INDOSPORT membahasnya untuk pembaca setia:


1. Meski Kecewa, Irfan Bachdim Tetap Tegar

Irfan Bachdim tetap tegar dan legawa menyikapi cedera yang memaksanya absen di Piala AFF 2016.

Kejadian Selasa (15/11/16) pagi lalu, seolah hal yang tak bisa dipercaya. Irfan yang tampil memukau di empat laga uji coba dengan tiga golnya, terpaksa absen di Piala AFF 2016. Setelah terlibat benturan dengan Hansamu, striker Consadole Sapporo itu pun ditarik keluar dan menepi di bench penonton.

Kaki suami dari Jennifer Kurniawan tersebut sempat mendapat perawatan, dibalut dengan es. Saat itu, kondisi kaki Bachdim tampak tidak terlalu parah, karena dia masih bisa mengenakan sepatu. Namun, hasil diagnosis rumah sakit setelahnya adalah mimpi buruk bagi sang pemain sekaligus sang pelatih, Alfred Riedl.

Bagaimana tidak? Irfan diharuskan istirahat total selama dua bulan sementara laga perdana Piala AFF kala itu tinggal hitungan hari. Alfred Riedl yang selalu mengandalkan striker kelahiran Belanda itu pun dibuat pusing.

Namun, hingga saat ini tidak ada kabar pasti yang menjelaskan penyebab cederanya Irfan. Apakah karena tekel keras dari Hansamu, atau bukan? Dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi, juga sudah mengeluarkan pernyataan yang mengindikasikan keraguan cedera Irfan disebabkan oleh tekel Hansamu.

“Irfan cedera fibula, dia butuh setidaknya dua bulan untuk sembuh. Kemungkinan akibat tekel atau salah tumpuan,” ujar Alwi, seperti dikutip Superball.

Cerita salah satu staf Timnas juga seakan tidak menjurus bahwa cedera Irfan disebabkan oleh tekel Hansamu. “Irfan duel dengan Hansamu terus terlibat tabrakan dan memang ada benturan tetapi sepertinya saat mendarat sepertinya Irfan terlihat salah tumpuan”.

Pernyataan tersebut semakin dikuatkan dengan sikap Irfan Bachdim yang tak ingin mengkambinghitamkan Hansamu. “Ini adalah sepakbola dan hal seperti ini bisa terjadi. Ini bukan kesalahan pemain lain atau siapapun,” tulisnya di akun Instagram.

"Jangan marah sama dia (Hansamu), ini sepakbola. Banyak orang yang marah sama dia, tapi jangan marah. Saya sudah bicara pada Hansamu, saya bilang banyak orang yang salah sangka dan jadi marah sama dia," kata Irfan di Hotel Aryaduta, Karawaci, seperti dikutip CNN Indonesia.  

Apa yang diucapkan Irfan menunjukan ketegaran dan kebesaran hatinya setelah dua kali gagal membela Timnas akibat cedera (kali pertama saat Piala AFF 2014). Di sisi lain, ia juga ingin menegaskan bahwa pilihan menjadi seorang pesepakbola tentu akan berhadapan dengan cedera yang kapan saja bisa datang.

Berikut ucapan mengharukan Irfan setelah resmi dicoret dari skuat Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2016:

“Ini bukan hanya sekedar tim untuk saya. Mereka bukan hanya sekedar teman, tetapi mereka sudah menjadi keluarga bagi saya. Saya bangga bisa menjadi bagian dari tim ini.

Saya akan mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk semuanya dan tetap sehat. Merupakan impian bagi saya bermain untuk timnas dan saya tidak akan menyerah dan akan segera fit untuk kembali lagi. Ini adalah sepakbola dan hal seperti ini bisa terjadi. Ini bukan kesalahan pemain lain atau siapapun.

Saya mendukung kalian semua dan berdoa yang terbaik. Guys berikanlah semua dan bermain dengan hati dan berjuang untuk Indonesia tercinta. Mimpi saya hancur, tapi kalian dapat mewujudkan mimpi saya. Berjuanglah dan bawa piala itu ke Indonesia!”

Sikap yang ditunjukkan Irfan Bachdim tersebut memang layak diacungi jempol dan bisa menjadi panutan banyak orang. Ia telah mengajarkan sedikit tentang bagaimana memaafkan dan berbesar hati meski berada dalam kondisi kurang menguntungkan.

Irfan memang kecewa, namun ia sadar yang bisa dilakukannya saat ini adalah mendoakan yang terbaik bagi Timnas.


2. Hansamu Tunjukkan Sikap Profesional dan Gentleman

Laiknya seorang gentleman, Hansamu Yama Pranata langsung meminta maaf kepada Irfan Bachdim.

Cedera yang dialami Irfan Bachdim usai berbenturan dengan Hansamu Yama dan memaksanya absen di Piala AFF kali ini, langsung menjadi pokok perhatian pecinta sepakbola Tanah Air.

Berbagai ucapan simpati pun mengalir deras untuk Irfan yang pada empat laga uji coba Timnas tampil memukau. Tak hanya itu, hujatan pun datang bak banjir bandang. Hal ini tentu saja ditujukan pada sosok Hansamu Yama.

Bek Timnas itu dianggap sebagai biang keladi cederanya Irfan. Hujatan di media sosial seperti wabah atau virus yang sangat cepat menyebar dan memojokkan Hansamu Yama. Mungkin bagi sebagian orang, adalah hal yang wajar mengingat cedera yang dialami Irfan hanya dua hari jelang keberangkatan Timnas ke Piala AFF.

Akan tetapi jika mengaca dari kacamata sepakbola, apa yang dilakukan Hansamu kala berduel dengan Irfan Bachdim bukan merupakan suatu kesalahan. Sebagai seorang pemain belakang, tentu saja tugasnya adalah mengawal setiap lawan yang masuk ke pertahanan Timnas.

Tapi kenapa harus di sesi latihan bukan di pertandingan sungguhan? Ini mungkin yang dilontarkan sebagian orang. Jika saja Hansamu melakukan latihan dengan setengah hati dan tidak menjalankan instruksi pelatih, tentu saja ia akan mendapatkan teguran. Dan hal terburuknya adalah ia mungkin akan kehilangan kepercayaan dari pelatih Timnas.

Terlepas dari kejadian yang kemudian membuat Irfan cedera tanpa diketahui alasan pasti apakah ditekel atau salah mendarat, Hansamu telah menunjukkan pada setiap orang, bagaimana bersikap profesional dan dedikasi terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Di sisi lain, Hansamu juga menunjukkan tentang bersikap dewasa dan sebagai laki-laki sejati. Pemain Barito Putera tersebut juga sudah mengungkapkan penyesalannya dan mau meminta maaf. Sebuah sikap yang sangat patut dan layak ditiru.

“Ini musibah, tadinya saya mau rebut bola tapi enggak taunya sampai separah itu. Saya benar-benar tidak ada niat untuk mencederainya, saya menyesal juga. Saya sudah minta maaf dan dia (Irfan) bilang tidak apa-apa,” sesal Hansamu.

Apa yang dilakukan Hansamu sekilas membuat kita teringat akan kutipan dari salah satu legenda sepakbola dunia asal Brasil, Pelle. Kalimat terakhir pria 76 tahun itu menunjukkan bahwa sepakbola tidak hanya tentang kemenangan tetapi juga mengajarkan seseorang untuk menjadi lelaki sejati.

“Setiap anak yang bermain sepakbola di dunia ini, selalu ingin seperti Pele. Saya memiliki tanggung jawab besar untuk memperlihatkan pada mereka, tidak hanya bagaimana menjadi pemain bola tetapi juga bagaimana menjadi seorang pria”.


3. Pemimpin sejati Pada Diri Boaz Solossa

Boaz Solossa muncul sebagai sosok pemimpin yang menghibur Irfan Bachdim dan Hansamu Yama

Sebelum berangkat ke Piala AFF di Filipina, Kamis (17/11/16) lalu ada sebuah momen yang sangat berkesan. Dari video yang diunggah akun Twitter PSSI, terlihat para penggawa Timnas sedang berbicara. Dalam kesempatan tersebut juga hadir, Irfan Bachdim yang harus absen ke Piala AFF.

Suara dari video tersebut memang tidak terlalu jelas, namun caption yang disertakan sudah menunjukkan bahwa semua pemain bertekad untuk memberikan yang terbaik di kejuaraan kali ini.

“Irfan meminta maaf kepada teman-teman karena tidak bisa bersama tim. Ia kemudian memotivasi teman-teman untuk memberikan yang terbaik bagi tim,” ujar pelatih kiper Timnas, Gatot Prasetyo.

“Sebaliknya, Boaz membesarkan hati Irfan supaya tidak larut dalam kesedihan, serta mendoakan agar ia itu cepat pulih untuk kembali bergabung membela Timnas. Momen itu sangat mengharukan dan dilakukan secara spontan oleh para pemain,” sambung coach Gatot.

Yang menarik di sini adalah munculnya sosok Boaz Solossa. Sebagai kapten Timnas, tentu kehadirannya seolah menjadi perantara antar pemain. Sebagai pemain paling senior ia tentu akan menjadi panutan rekan-rekannya.

Sikap yang ditunjukan Boaz Solossa untuk Irfan seolah menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup, kita harus bangkit dan terus berusaha menggapai mimpi. Bukan tanpa alasan, striker Persipura Jayapura itu melakukan hal tersebut.

Pasalnya ia juga pernah mengalami hal serupa, tatkala pada 2007 tak bisa bermain di Piala Asia lantaran cedera parah yang dialaminya saat laga uji coba melawan Hong Kong di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Tapi, kegagalan tampil pada ajang terbesar di Asia tidak membuat Boaz patah semangat. Ia terus berjuang sembuh dan memandang positif musibah yang dialami.

“Saya menyadari cedera tersebut merupakan teguran dari Tuhan. Dia (Tuhan) ingin saya menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Boaz saat diwawancarai oleh tabloid BOLA.

Peran Boaz dalam membesarkan hati Irfan tentu tak bisa dianggap sebelah mata. Pria asal Papua tersebut itu mengajarkan Irfan Bachdim untuk tetap menjadi pesepakbola tangguh meski mimpi di depan mata sempat hancur.

Sebelumnya, saat ramai pemberitaan dan hujatan kepada Hansamu terkait cederanya Irfan Bachdim, kapten Timnas, Boaz Solossa, terlihat sangat tidak senang. Ia memutuskan untuk tidak berbicara kepada media dan sebaliknya tetap menjaga keharmonisan dalam Skuat Garuda.

Sikap Boaz ini menunjukkan bahwa ia tidak bertindak sebagai seorang pemimpin tetapi sebagi seoarang leader, di mana ia tidak ingin rekan-rekannya berjalan sendiri, namun mendorong mereka untuk melakukan suatu perubahan dan menggapai mimpi bersama.

Boaz SolossaPersipura JayapuraIrfan BachdimHansamu Yama PranataTimnas IndonesiaIn Depth SportsConsadole SapporoLiga Indonesia

Berita Terkini