Hari AIDS Sedunia: Melawan Virus Mematikan Lewat Lapangan Sepakbola di Benua Hitam
Human Immunodeficiency Virus (HIV) ialah virus penyebab penyakit paling mematikan di seluruh dunia, Aquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Menurut banyak literatur sejarah, penyakit ini pertama kali ditemukan di Amerika Serikat pada 1981 lalu.
Awalnya Centers for Disease Control and Prevention melaporkan temuan adanya penyakit Pneumocystis Carinii Pneumonia (infeksi paru-paru yang mematikan) yang menyerang lima orang penyuka sesama jenis.
Sejumlah teori kemudian berkembang soal bagaimana virus tersebut mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke benua Afrika, tempat yang disebut-sebut sebagai memiliki penderita AIDS paling banyak di dunia.
Di Afrika Selatan misalnya, pada tahun ini saja seperti dilansir dari Reuters disebutkan bahwa ada 6,8 juta orang yang menderita penyakit AIDS di sana. 180 ribu diantaranya telah merenggang nyawa.
Banyak cara yang kemudian ditempuh oleh banyak orang untuk meminimalisir penyebaran virus mematikan ini di benua Afrika. Semua orang dari berbagai lapisan bergerak agar banyak nyawa yang terselematkan dari AIDS, tak ketinggalan juga banyak pesepakbola dunia yang ikut ambil peran dalam hal ini.
David Beckham misalnya, pada tahun lalu bersama mantan pelatihnya, Sir Alex Ferguson, Beckham ikut dalam organisasi Grassroot Soccer's dengan sejumlah pemain lain seperti bek Arsenal, Kieran Gibbs. Nantinya dana yang terkumpul akan disumbang untuk menekan penyebaran virus AIDS.
Salah satu penggagas Grassroot Soccer's, eks gelandang Arsenal dan Timnas Prancis, Robert Pires mengatakan bahwa salah satu solusi menekan penyebaran virus AIDS ialah lewat sepakbola.
"Kami ingin mendobrak budaya lama dan mendidik anak-anak muda untuk hidup sehat. Sepakbola adalah bagian dari solusi," kata Pires seperti dilansir Daily Mail.
Grassroot Soccer's ialah satu dari sekian banyak program yang digagas oleh banyak orang untuk melawan virus AIDS, pertanyaannya apakah semua itu memiliki efek?
Berikut ulasannya untuk pembaca setia INDOSPORT di Hari AIDS sedunia:
1. Melawan AIDS jadi agenda FIFA
Badan tertinggi sepakbola dunia, FIFA sudah sejak 2011 lalu menetapkan agenda bahwa AIDS merupakan musuh bersama. FIFA menyebut dalam situs resmi mereka bahwa AIDS telah melenyapkan 25 juta oran di seluruh dunia sejak kemunculannya pada 1981 lalu. Atas dasar itu, sangat naif jika sepakbola tidak ikut ambil bagian untuk melawan penyebaran virus mematikan ini.
Lantas apa yang dilakukan FIFA? Perhelatan Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan jadi salah satu tindakan nyata dari FIFA.
Lunga Sidzumo, manajer dari salah satu organisasi sosial yang melawan AIDS lewat sepakbola seperti dilansir dari fifa.com mengatakan tindakan nyata berupa penyelenggaraan Piala Dunia 2010 setidaknya membuat anak muda di Afrika Selatan percaya bahwa hidup mereka tidak lantas berakhir, masih ada harapan untuk bertahan lewat sepakbola.
"Kami sangat ingin mendorong anak-anak muda di Afrika Selatan jadikan sepakbola sebagai solusi konkrit untuk mereka bertahan," kata Sidzumo.
Selain Afrika Selatan, Lesotho ialah negara di Afrika yang memiliki jumlah penderita AIDS terbanyak di dunia. Daniela Gusman, direktur dari lembaga Kick4Life menyebut hanya lewat sepakbola program untuk melawan, mencegah, dan menyadarkan bahwa AIDS bisa terealisasi.
"Berkat Lesotho Football for Hope Centre, Kick4Life bisa menawarkan bimbingan konseling dan tes HIV untuk anak-anak mdua di sini," kata Gusman.
2. Membasmi AIDS berujung pada penjara
Kisah dari Ousman Manneh sepertinya jadi gambaran nyata soal teori konspirasi yang berkembang terkait penyakit AIDS. Banyak teori konspirasi yang menyebutkan bahwa merebaknya dan tak mampunya AIDS diberantas karena memang tak ada niat dari sejumlah pemangku kebijakan untuk melakukannya.
Penyerang Werder Bremen, Ousman Manneh jadi orang yang langsung merasakan bagaimana teori itu benar adanya. Pasalnya kawan akrab Manneh yang juga seorang pesepakbola, Nanama Keita pernah masuk bui di negaranya, Gambia karena berkeinginan untuk memberantas penyakit AIDS.
Sebelum bergabung dengan Werder Bremen pada 2015 lalu, Manneh berasal dari negara yang mayoritasnya anak mudanya mengidap penyakit AIDS. Ada keinginan besar dari pemain berusia 19 tahun ini untuk bisa melawan hal itu semua.
Namun situasi politik yang tidak bagus di Gambia membuat Manneh dan keluarga harus jadi pengusi dan meninggalkan kampung halamannya. Italia jadi tujuan Manneh dan keluarga.
Manneh kemudian bertemu Keita saat keduanya sama-sama berlatih di program sepakbola untuk para pengusi. Kepada Manneh, Keita menceritakan bahwa ia sempat masuk ke dalam sel karena berkampanye untuk melawan penyakit AIDS.
Tuduhan kepada Keita ialah kisah palsu soal penderita penyakit AIDS di negaranya. Dia ditangkap dan ditahan cukup lama.
"Saya menghabiskan malamn di sel yang sangat bobrok penuh dengan nyamuk dan penyakit," kata Keita.
Keita akhirnya bisa lepas dari hukuman setelah mendapat suaka politik yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
3. Tahun ini, Inggris vs Tim Dunia di Hari AIDS
Seperti dilansir dari socceraid.unicef.org, untuk perayaan hari AIDS tahun ini, pihak United Nations Children's Fund (UNICEF) akan mengadakan pertandingan persahabatan antara Timnas Inggris versus Tim Dunia.
Timnas Inggris yang bertanding bukanlah pemain-pemain seperti Wayne Rooney ataupun Joe Hart tapi dari sejumlah eks pesepakbola, musisi, serta artis asli Inggris.
Personil boyband One Direction, Louis Tomlinson salah satu penggawa yang akan membela Inggris melawan tim Dunia, sedangkan dari mantan pemain yang ikut ambil peran dari pertandingan persahabatan ini ialah eks bek Liverpool, Jamie Carragher, eks kiper Arsenal, David Seaman, selain itu ada juga nama-nama seperti Robbie Fowler, Phil Neville, dan Jermain Defoe.
Sedangkan untuk kandidat pelatih yang akan melatih tim ini ialah Jose Mourinho, Sam Allardyce, sedangkan untuk asisten pelatih ada nama Robbie Williams.
Lawan yang dihadapi Inggris ialah tim dunia yang berisi aktor asal Amerika Serikat, Matthew Morrison, aktor asal Wales, Michael Sheen, serta mantan-mantan pemain seperti Cafu, Jaap Stam, Dida, serta Samuel Eto'o. Tim ini akan dilatih oleh pelatih yang menciptakan sejarah di liga Inggris musim lalu, Claudio Ranieri.