Syarif Alwi, Sosok Lain di Balik Kemenangan Timnas Indonesia atas Vietnam
Sosok yang satu ini memang kerap terlihat di pinggir lapangan. Akan tetapi, ia bukanlah pelatih, maupun asisten pelatih. Pria berkaca mata tersebut bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan penerapan taktik dan strategi Timnas Indonesia. Sosok itu adalah dokter Timnas Indonesia, Syarif Alwi.
Dokter Syarif Alwi mungkin tidak dikenal sebagian pendukung Timnas Indonesia. Akan tetapi perannya sangat penting di Skuat Garuda. Ketika para pemain tergeletak di tengah lapangan, ia secepat kilat berlari tanpa menghiraukan usianya yang sudah lebih dari setengah abad
Kondisi kesehatan hingga kebugaran para pemain sangat tergantung pada sosok dokter Alwi. Ketika akan menurunkan pemain, seorang Alfred Riedl, pelatih Timnas Indonesia, bahkan harus meminta rekomendasi dari dokter asal Sulawesi Selatan tersebut.
Lantas seperti apa sosok yang turut berperan pada kemenangan Timnas Indonesia atas Vietnam, Sabtu (03/12/16) malam kemarin? Bagaimana pula cerita dan kisah perjalanan karier dokter Syarif Alwi? Berikut INDOSPORT mengulasnya untuk pembaca setia.
1. Awal Karier Sebagai Dokter Timnas
INDOSPORT: Bagaimana Anda mengawali karier sebagai dokter di bidang sepakbola?
Syarif Alwi: Saya sebenarnya mulai tahun 1982 sama Ronny Pattinasarany dan Soetjipto Soentoro, tangani Persiba Balikpapan dari divisi dua sampai masuk divisi utama. Setelahnya saya pindah ke balap sepeda, pencak silat, dan tinju.
INDOSPORT: Setelahnya kapan anda kembali menjadi dokter di sepakbola?
Syarif Alwi: Saya kembali masuk jadi dokter Timnas pada 2012 lalu. Waktu itu pelatihnya Nilmaizar dan memang masih ada dualisme, dari situ terus saya sampai saat ini di Timnas.
INDOSPORT: Anda pernah menangani tim pencak silat dan balap sepeda, ceritakan sedikit pengalaman dokter di kedua cabang olahraga tersebut.
Syarif Alwi: Setelah dari Persiba Balikpapan saya kemudian latih balap sepeda untuk Kalimantan Timur dan dapat emas PON. Saya juga terpilih jadi pembina sekaligus pelatih olahraga terbaik Kalimantan Timur tahun 1985.
INDOSPORT: Setelahnya?
Syarif Alwi: Setelahnya saya dipanggil ke Jakarta sebagai pelatih Timnas Indonesia cabang olahraga balap sepeda untuk SEA Games di Kuala Lumpur 1989, jadi pelatih road race.
INDOSPORT: Bagaimana dengan di cabang olahraga pencak silat?
Syarif Alwi: Setelah dari balap sepeda, saya kemudian dipanggil oleh pengurus Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia. Saya diminta untuk bantu di sana sebagai dokter.
2. Pernah Jadi Atlet Profesional
INDOSPORT: Apa yang membuat Anda tertarik menjadi dokter di bidang olahraga?
Syarif Alwi: Sebelum jadi dokter saya sempat ikut tinju dan balap sepeda. Saat di tinju, saya kemudian dimarahi sama dosen dan guru besar, katanya nanti kepala di hajar sementara saya sudah hampir selesai kuliah jadi dokter. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti dan hanya ikut berkecimpung di balap sepeda.
INDOSPORT: Serius Anda pernah jadi atlet ikut tinju dan balap sepeda?
Syarif Alwi: (Sambil tertawa) Iya, malahan saya juga pernah jadi atlet balap sepeda profesional. Tahun 1970-an pernah ikut PON, dan saya juga ikut Porwil Iramasuka (Pekan Olahraga Wilayah Irian Maluku Sulawesi Kalimantan) yang berlangsung sampai tahun 1972 dan juara di kategori road race dan speed. Di tinju pun saya juga sempat ikut tinju kelas bulu tahun 1977.
3. Pengalaman Menarik Sebagai Dokter di Sepakbola
INDOSPORT: Ceritakan sedikit mengenai kisah atau cerita yang membekas selama menjadi dokter di sepakbola.
Syarif Alwi: Saat di Persiba Balikpapan saya pernah diminta bantu tuliskan surat cinta. Jadi ceritanya si pemain, namanya (Almarhum) Bang Jun (Junaidi), saat masih pacaran sama istrinya, dia minta dibuatkan surat cinta karena tidak tahu merangakai kata-kata romantis (sambal tertawa).
INDOSPORT: Bagaimana dengan cabang pencak silat dan balap sepeda, adakah hal menarik juga?
Syarif Alwi: Di pencak silat saya pernah tangani patah kaki pas di tulang kering, waktu itu lagi ada pertandingan. Kebetulan aliran pencak silatnya memang menggunakan seperti mengatur pernafasan (sering disebut tenaga dalam). Kemudian di balap sepeda juga memang banyak risiko, tetapi di sana kita terus kawal mereka, melalui kendaraan, sedikit berbeda saat di sepakbola dan pencak silat di mana saya bisa duduk di bench.
INDOSPORT: Selain beberapa hal di atas, apakah masih ada cerita lainnya? Bagaimana dengan hobi menyanyi seperti yang dilakukan dengan Tim Nasional Indonesia saat ini?
Syarif Alwi: Saya memang suka nyayi, dan saya selalu berusaha menampung apapun keluhan pemain. Kadang-kadang kita bernyanyi bersama, apalagi kalau lagu Ambon saya pasti hafal. Saya ada grup band namanya Romusa (rombongan musisi sabar) band yang isinya orang tua (sambil tertawa).
4. Pengalaman Sedih Saat Jadi Dokter Timnas
INDOSPORT: Pengalaman apa saja yang paling membekas sampai saat ini ketika menangani kesehatan para pemain Timnas Indonesia?
Syarif Alwi: Satu anak Papi (panggilan akrab dokter Alwi) meninggal saat saya lagi bersama Timnas di Piala AFF 2014 lalu. Saya langsung pulang pada pertandingan terakhir. Anak saya jatuh dan terbentur, dia tak sadarkan diri di ICU sampai saya pulang, bertemu dia dan kemudian meninggal. Karenanya setiap Piala AFF pas Papi pergi, istri selalu sedih karena dia ingat anaknya. Tetapi memang Tuhan sudah kasih yang terbaik.
INDOSPORT: Amin. Turut Berduka Dok. Lantas apa yang mendasari anda masih betah menjadi dokter di bidang olahraga?
Syarif Alwi: Saya dari muda suka olahraga jadi cinta dengan olahraga. Mau bagaimana lagi (sambil tertawa). Saat ini saya memang sudah pensiun sebagai dokter aktif, tapi dengan anak buka praktek di Bekasi Timur, nama kliniknya Syarif Alwi.
INDOSPORT: Selama menjadi dokter di olahraga khususnya sepakbola (Timnas) apakah ada cedera parah yang pernah ditangani?
Syarif Alwi: Selama saya tangani Timnas, Alhamdulillah tidak ada yang parah. Cuma yang waktu saya di silat itu (patah tulang kering).
5. Kesan Selama Jadi Dokter Timnas
INDOSPORT: Apakah ada kesulitan tangani cedera dan sikap para pesepakbola di Tim Nasional yang datang dengan berbagai karakter, dan bagaimana cara penanganannya?
Syarif Alwi: Cedera di olahraga itu berbeda, kalau di tinju mereka dipukul di tempat berbahaya tetapi diproteksi dengan aturan ketat. Kalau saya menjiwai semuanya, karenanya saya anggap atlet itu anak saya. Saya melihat atlet itu sebagai manusia seutuhnya, mereka sudah latihan keras jadi mereka butuh perhatian, mereka harus dibenahi psikologisnya.
INDOSPORT: Seperti apa bentuk pendekatan pada para pemain yang cedera? Contoh paling dekat yang dialami Irfan Bachdim sebelum Piala AFF 2016 ini.
Syarif Alwi: Pada umumnya atlet yang cedera kita beri mereka nasihat yang benar, apa untung ruginya. Kita selalu jelaskan bahwa jika cedera mereka harus dioperasi, karena kalau tidak atau ditangani oleh pengobatan alternatif maka mereka mungkin saja tidak bisa bermain lagi. Kalau dioperasi kan, bisa ditangani ahlinya. Yang paling penting itu pendekatan, bukan hanya sebagai dokter tetapi juga harus sebagai orang tua, dan membalikkan kondisi psikologi pemain.