Terletak di Pedalaman, Markas Perseru Serui Tak akan Dipindah
Akhir November lalu, Sriwijaya FC harus bertandang ke markas Perseru dalam lanjutan TSC pekan ke-29. Perjuangan yang harus ditempuh para penggawa Laskar Wong Kito menuju markas Perseru di Stadion Marora tidaklah mudah karena mereka sempat terdampar di pulau berpenghuni usai laga.
Pihak Sriwijaya FC melalui Achmad Harris selaku sekretaris pun meminta agar PT GTS selaku operator untuk memverivikasi ulang letak markas Perseru. Letak Stadion Marora yang sangat jauh dan menelan banyak waktu serta menimbulkan risiko dianggap pihak Sriwijaya FC sangat merugikan timnya.
"Jadi main di Serui harus ditinjau ulang. Perseru bisa tetap ikut kompetisi, tapi kandangnya bisa di Biak atau Stadion Mandala. Karena sangat melelahkan (perjalanan ke Serui), belum lagi peristiwa kemarin mengancam nyawa pemain. Bukan saja SFC yang terombang-ambing di laut, Arema kemarin juga kewalahan ke sana," jelas Harris.
Menanggapi hal tersebut, Ratu Tisha selaku Direktur Kompetisi PT GTS menanggapinya dengan diplomatis.
"Usulan tersebut pasti ditolak karena sepakbola tidak boleh melegalkan hal itu, karena sepakbola tidak boleh melegalkan hal tersebut," ujar Ratu Tisha kepada INDOSPORT.
"Kita bekerja siang malam untuk sepakbola Indonesia. Kita sadar banyak kekurangan, tapi kita berusaha untuk menghidupkan kembali industri sepakbola. Coba dilihat sisi-sisi lainnya," tambahnya.