x

(VIDEO) Kejar hingga Injak Kepala, Ini 5 Deretan Aksi Kasar Pemain pada Wasit di Indonesia

Senin, 5 Desember 2016 14:31 WIB
Editor:
Budi Eka Putra Pemain PS Bengkulu Tengah (Benteng) kedapatan menginjak kepala wasit.

Dunia sepakbola Indonesia tercoreng dengan beberapa aksi tak terpuji pemain yang mengasari wasit yang dianggap merugikan tim mereka. Para pengadil lapangan tersebut mendapat intimidasi luar biasa di atas lapangan, perkataan kasar, pengejaran, hingga perlakuaan kasar yang tak masuk diakal justru dilakukan banyak pemain dalam pertandingan sepakbola di Indonesia.

Parahnya lagi, perlakuan kasar pada wasit banyak dilakukan para pemain yang berlaga di kompetisi resmi, bukan pertandingan sepakbola antarkampung. Para pemain ini tampak melupakan permainan fair play dan justru meluapkan emosi mereka pada wasit yang seharusnya dihormati dalam pertandingan.

Minimnya pengetahuan mengenai kedudukan wasit di atas lapangan membuat para pemain di Indonesia tampak leluasa memberikan intimidasi kepada wasit. Sanksi yang lemah tampaknya menjadi latar belakang aksi kekerasan pada wasit tak pernah berhenti di Indonesia. 

Dalam salah satu kesempatan, mantan striker Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto pernah mengungkap alasan di balik keputusan wasit di Indonesia yang kadang berat sebelah.

“Saya pernah tanya kenapa mereka (wasit) memberikan keputusan yang berat sebelah, saya tanya dibayar berapa mereka, namun merka bilang saya gak dibayar tapi kamu mau tanggung keselamanatn saya, kalau sudah bicara gitu kita mau dibilang apa,” ujar mantan striker Timnas Indonesia tersebut kepada INDOSPORT beberapa waktu lalu.

Kejadian pengeroyokan kepada wasit kembali terulang di ajang Liga Nusantara saat pemain PS Benteng bahkan dengan tega menginjak kepala wasit. Di luar kejadian tersebut, berikut INDOSPORT merangkum lima aksi intimidasi yang dilakukan kepada wasit di Indonesia.


1. Tendangan Kungfu Presiden PBFC

Tendangan Kung Fu ala Presiden PBFC, Nabil Husein.

Kali ini bukan pemain di atas lapangan yang melakukan intimidasi atau kekerasan pada wasit yang memimpin pertandingan, namun justru presiden klub yang berlaga di ajang Torabika Soccer Championship (TSC).

Aksi tak terpuji kembali mencoreng kompetisi sepakbola nasional dalam lanjutan TSC Jumat (10/06/16), lalu. Insiden terjadi di derby antara dua tim asal Kalimatan, Mitra Kukar kontra Pusamania Borneo FC (PBFC).

Insiden terjadi usai berakhirnya laga untuk kemenangan tim tuan rumah, Mitra Kukar dengan skor tipis 3-2 atas Pusamania. Presiden Pusamnania, Nabil Husein yang tidak terima timnya menelan kekalahan tertangkap kamera menenadang wasit usai laga. 

Kemarahan Nabil dipicu oleh anggapan kubu Pusamania yang menilai bahwa kinerja wasit dan official pertandigan sangat buruk. Sejumlah kejadian offiside pemain Mitra Kukar didiamkan oleh wasit.

Aksi tak terpuji yang dilakukan Nabil ini bukan kali pertama. Saat Pusamania melawan Bali United pada Mei lalu, ia juga melakukan hal sama akibatnya Komdis TSC menjatuhkannya sanksi berupa denda Rp50juta.


2. Laga Persepam Madura vs PSBK Kota Blitar ISC B, Mei 2016

Persepam Madura

Wasit yang memimpin laga Persepam Madura vs PSBK Kota Blitar, di lanjutan laga grup 6 Indonesia Soccer Championship B (ISC B) menjadi sasaran emosi pemain di atas lapangan. Wasit Suryanto asal Semarang dianggap bertanggung jawab atas kegagalan Persepam memperoleh kemenangan di kandang mereka.

Tak hanya pemain, Suryanto pun dikejar oleh pihak ofisial klub asal Madura itu hingga pinggir lapangan. Bukannya menenangkan para pemainnya, pihak official klub Persepam justru ikut terancing emosinya dan mengejar wasit Suryanto yang memimpin laga tersebut.

Kejadian pengejaran wasit berawal dari ketidakpuasan Persepam atas keputusan yang dibuat Supriyanto. Persepam yang unggul pada menit ke-87 lewat sepakan penalti Aditya Putra Dewa, tinggal selangkah lagi meraih kemenangan, namun semua sirna saat ketika wasit membiarkan pemain PSBK Suprianto membobol gawang Persepam.


3. Pemain Semen Padang Intimidasi Wasit

Jandia Eka Putra pernah menyerang wasit

Dua Semen Padang, yakni kiper Jandia Eka Putra dan Cristovher Sibi Jandia Eka Puta dilarang bermain selama enam bulang karena terbukti melakukan pemukulan terhadap wasit. Kejadian tersebut terjadi saat Semen Padang  bertandang ke markas Perseru Serui pada Juni 2016 lalu.

Keduanya dilarang tampil selama enam bulan karena dianggap berperilaku buruk dan melanggar pasal 46 dan 72 kode disiplin TSC. Pihak GTS selaku operator pertandingan pun tak ragu untuk menganjar mereka dengan hukuman larangan bermain.

Bukannya meminta maaf atas kelakuan dua pemainnya, pihak klub Semen Padang justru melakukan banding atas vonis tersebut. Pihak klub berjuluk Kabau Sirah tersebut justru menganggap pihak GTS harus melakukan evaluasi kembali terkait kinerja wasit di lapangan.

“Kita ingin agar hukuman ini tak hanya pemain yang menanggung, tapi wasit yang membuat kesalahan, dan ada indikasi memihak tim-tim tertentu juga disanksi, dan diadili,” ujar CEO Semen Padang, Daconi, kala itu.


4. Pengeroyokan di laga PSS Sleman vs Persinga Ngawi

Pemukulan wasit oleh pemain Persinga Ngawi

Dua gol kontroversial Tri Handoko dan Rizky Novriansyah akhirnya menjadi malapetaka bagi asisten wasit yang memimpin laga PSS Sleman vs Persinga Ngawi di ajang ISC B Minggu (7/8/2016) lalu. Insiden pengeroyokanterhadap  asisten wasit, Asep Rohaendi pun tak terleakan lagi.

Para pemain Persinga terpicu emosi setelah wasit yang memimpin jalannya pertandingan, Hipni mengesahkan gol Tri Handoko pada menit ke-4 pertandingan. Para pemain Persinga yang merasa keputusan wasit itu salah tak mampu mengendalikan emosinya dan lantas melakukan tindakan anarkis dengan mengeroyok Asep.

Melalui juru bicaranya, Gatot S. Dewa Broto, Kemenpora merasa sangat prihatin atas kejadian pengeroyokan asisten wasit Asep Rohaendi yang dilakukan oleh para pemain Persinga Ngawi.

Akibat insiden memalukan tersebut, PT GTS, selaku opertaror TSC pun langsung mengambil sikap tegas untuk Persinga. Mereka memutuskan untuk mendiskualifikasi Persinga Ngawi dari ajang ISC B akibat mengeroyok wasit dalam laga kontra PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo.


5. Pemain Injak Kepala Wasit

Budi Eka Putra Pemain PS Bengkulu Tengah (Benteng) menginjak muka wasit Cholid Dalyanto pada Liga Nusantara di Stadion Wergu Wetan, Kudus.

Perilaku tidak sportif dan terkesan brutal dilakukan oleh pemain PS Bengkulu Tengah (Benteng), Budi Eka Putra. Sang pemain melancarkan protes keras yang disertai menginjak kepala sang wasit, pada Minggu (27/11/16) lalu.

Kejadian memalukan tersebut terjadi dalam babak 16 besar Liga Nusantara (Linus) melawan Persiku Kudus. Bermula saat wasit Cholid Dalyanto asal Yogyakarta mengusir salah seorang pemain PS Benteng, Gatut Bekti, saat melawan Persiku Kudus di Stadion Wergu Wetan, Jumat (25/11/16) dalam pertandingan Liga Nusantgara.

Tidak terima dengan keputusan wasit, Budi yang saat itu berstatus sebagai pemain cadangan berlari menuju lapangan. Bukannya mendinginkan suasana yang sudah panas, Budi malah menambah kisruh pertandingan. 

Budi memberi contoh yang tidak baik dengan menginjak kepala wasit yang sudah jatuh tersungkur. Tak ayal, hal tersebut malah memperkeruh suasana di lapangan.

Karena tindakan brutal itulah, lima pemain PS Benteng mendapat kartu merah. Selain Gatut, empat pemain lainnya juga mendapat kartu merah, seperti Ahmad Ramadhani, Doni Setiawan, Majid Mony dan Budi Eka. Kelimanya dikartu merah bersamaan karena protes keras dan berlebihan.

Pihak Komite Disiplin (Komdis PSSI) pun langsung menjatuhkan hukuman berat bagi empat pemain PS Benteng yang terlibat dalam kejadian tersebut. Dalam surat keputusan yang ditandatangani ketua Pandis Wahadi, keempat pemain itu dihukum larangan bertanding selama dua tahun di seluruh jenjang kompetisi PSSI.

Semen PadangJandia Eka PutraTorabika Soccer Championship (TSC)Liga Indonesia

Berita Terkini