4 Pesepakbola yang Berhasil Hidupkan Kembali Karier Sepakbolanya di Ligue 1
Beberapa karier pesepakbola profesional terbilang berakhir mengenaskan. Diakibatkan kepindahannya ke klub lain, setelah tampil gemilang bersama klub yang sebelumnya ia bela.
Kepindahan tersebut tak ayal dari iming-iming gaji tinggi, klub yang terkenal, hingga kompetisi yang menjanjikan duel panas. Namun, masa adaptasi dan taktik yang berbeda, tentu menjadi kendala pesepakbola untuk tampil maksimal.
Beberapa contohnya adalah Radamel Falcao. Pemain berjuluk El Tigre ini sempat memiliki masa kelam di Liga Primer Inggris. Dua kali diberikan kesempatan membela dua klub berbeda, Manchester United dan Chelsea, ia tak mampu menunjukkan tajinya.
Radamel Falcao ketika membela Setan Merah, Manchester United.
Permainan yang tidak maksimal, tentu membuat seorang pesepakbola tidak lepas dari kritikan dan bangku cadangan. Tuntutan dan tanggung jawab yang berat pun membuat mereka tidak mampu mengembangkan permainan.
Pindah ke klub lain adalah salah satu cara terbaik untuk merestorasi karier mereka yang telah redup.
Bagi beberapa pesepakbola ini, kepindahan ke Ligue 1 Prancis menjadi berkah yang luar biasa. Tidak hanya mereka dapat tampil lebih baik, nama mereka pun kembali melambung tinggi di dunia bal-balan.
Berikut INDOSPORT merangkum beberapa pemain profesional yang berhasil merestorasi karier mereka di Ligue 1 Prancis.
1. Mario Balotelli (OGC Nice)
Bagi pencinta sepakbola pasti sangat mengenal pesepakbola kontroversial dari Italia ini. Super Mario, begitu julukannya, membuat publik Manchester Biru riuh setelah berhasil mengantarkan timnya, Manchester City, menjadi juara Liga Inggris.
Namun setelah itu, hanya kontroversi yang hadir dari diri Balotelli. Ia kerap bertengkar dengan pelatih dan malas berlatih. Akhirnya, ia pindah ke Italia untuk bergabung ke AC Milan.
Balotelli yang masih berseragam AC Milan.
Menjalani musim yang cukup baik bersama AC Milan membuat Liverpool tertarik memboyongnya. Meskipun dikabarkan bahwa pembelian tersebut merupakan pembelian yang buru-buru dari manajemen Liverpool.
Hasilnya pun benar saja, bersama Liverpool ia hanya terlibat dalam 28 pertandingan dan mencetak 4 gol. Kedatangan Jurgen Klopp pun tidak merubah nasibnya lebih baik, ia justru dibuang dan pergi ke klub Ligue 1 Prancis, OGC Nice.
Namun, kepindahannya tersebut justru membuat kariernya sebagai pesepakbola lebih baik. Balotelli kembali mendapatkan julukan Super Mario, yang sempat hilang karena performa yang terus menurun.
Bersama OGC Nice, Balotelli telah mengemas 7 gol dari 9 laga yang ia mainkan. Berkat kegemilangannya tersebut, OGC Nice sukses memegang puncak klasemen sementara dengan 36 poin, unggul 1 poin dari raksaksa Ligue 1 Prancis, Paris Saint-Germain (PSG).
2. Angel Di Maria (Paris Saint-Germain)
Bergelimang trofi bersama Real Madrid, Di Maria harus tersingkir akibat banyaknya pemain baru di kubu Madrid. Manchester United menjadi pelabuhan selanjutnya dalam karier profesional Di Maria.
Menggunakan nomor 7 keramat Man United, Di Maria nyatanya gagal total dan tidak mampu memberikan kontribusi positif. Ia didatangkan dari Real Madrid dengan banderol harga 59 juta poundsterling atau sekitar Rp1 triliun.
Di Maria bergabung bersama Man United dan menggunakan nomor keramat.
Tampil dalam 32 laga bersama Setan Merah, Di Maria mencatatkan 4 gol dan 12 assists. Meskipun mencatatkan statistik yang tidak terlalu buruk, tetapi Di Maria tidak kerasan di Inggris.
Atas dasar hal tersebut, ia membulatkan niatnya untuk hengkang dari Old Trafford menuju Paris Saint-Germain (PSG) di Ligue 1 Prancis. Bersama PSG, Di Maria menjadi bagian skuat utama dan mencatatkan 17 gol dan 32 assists dalam 64 laga di semua ajang.
3. Hatem Ben Arfa (Paris Saint-Germain)
Digadang-gadang menjadi pemain bintang kala membela Newcastle United, Ben Arfa nyatanya harus menjadi musafir dan berpindah-pindah tempat. Sebelum akhirnya kontraknya dengan Newcastle diputus pada Januari tahun 2015.
Pada akhirnya ia kembali ke kampung halamannya, Prancis, untuk kembali mengadu nasib seraya berharap karier sepakbolanya bisa kembali bersinar. Ia memilih klub OGC Nice sebagai pelabuhan selanjutnya, dan terbukti berhasil. Ia menjadi momok mengerikan bagi para bek dan penjaga gawang di Ligue 1 Prancis.
Ben Arfa ketika masih membela OGC Nice.
Satu musim bersama OGC Nice, pemain kelahiran Clamart, Prancis, berhasil mencatatkan 18 gol dan 6 assists dari 37 pertandingan di setiap kompetisi. Dengan statistik yang mentereng, PSG pun kepincut dengannya dan langsung memboyongnya dengan kontrak berdurasi 2 tahun.
Meski masih terikat kontrak hingga 2018, Ben Arfa kembali mendapatkan batu sandungan dengan tidak menjadi pemain inti dalam skuat besutan Unai Emery.
Ia pun dikabarkan akan dipinjamkan pada bursa transfer Januari mendatang ke klub asal Turki, Fenerbahce, dengan opsi pembelian permanen.
4. Radamel Falcao (AS Monaco)
El Tigre kembali menjadi ancaman di lini depan, sekembalinya ia dalam pelukan AS Monaco. Setelah berkiprah selama dua musim di Liga Primer Inggris, Radamel Falcao kembali menemukan sentuhannya.
Pemain dengan nama lengkap Radamel Falcao Garcia Zarate tersebut sebenarnya menjadi pemain incaran banyak tim besar. Namun akibat cedera lutut yang pernah dialaminya, membuat performanya menurun drastis.
Manchester United yang saat itu membutuhkan penyerang tajam, lantas meminjam Falcao dari AS Monaco. Namun, alih-alih menjadi pencetak gol ulung, ia hanya menjadi parasit dengan gaji yang cukup besar. Bersama United, Falcao hanya mencatatkan 4 gol dan 5 assists dalam 29 laga yang dilewatinya. Dengan alasan tersebut, Man United pun enggan mempermanenkan kontraknya.
Radamel Falcao gagal dalam dua kali kesempatan di Liga Primer Inggris.
Sekembalinya ke AS Monaco, Falcao kembali dipinjamkan ke klub Liga Primer Inggris, Chelsea. Dalam kesempatan keduanya tersebut, ia kembali menjadi bulan-bulanan kritik dengan hanya mencatatkan 1 gol dari 12 pertandingan.
AS Monaco akhirnya kembali memeluk Falcao dan merestorasi karier sepakbolanya yang mulai redup. Musim 2016/17 pun menjadi titik balik Falcao dan kembali merengkuh gelar El Tigre sebagai pencetak gol ulung.
Tercatat, ia telah melesatkan 9 gol dan 2 assists dalam 14 pertandingan di setiap ajang yang telah ia mainkan bersama AS Monaco.
Penyerang asal Kolombia tersebut memiliki karier gemilang kala membela Porto dan Atletico Madrid. Jika digabungkan statistik dari dua klub tersebut, Falcao telah mencetak 142 gol dan 26 assists dari 178 laga.