x

Yang Tersisa dan Wajib Dijaga Usai 'Pertarungan' dari Pakansari Hingga Rajamangala

Minggu, 18 Desember 2016 18:00 WIB
Editor:

Perhelatan Piala AFF 2016 resmi dibuka pada 19 November 2016 lalu. Laga pertama dipertandingkan antara juara bertahan Thailand versus Indonesia di Stadion Philippine Sports. 

Sedari awal keikutsertaannya, Timnas Indonesia memang dipandang sebelah mata. Wajar memang, pasalnya Timnas Indonesia terbentuk dalam waktu yang sangat singkat. Ditambah ini jadi ajang internasional pertama Timnas usai mendapat sanksi dari Federation Internationale de Football Association (FIFA). 

Kemudian jadi wajar juga jika Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) hanya menargetkan Timnas bisa lolos ke babak semifinal. 

Tanda-tanda sebagai tim yang dipandang sebelah mata makin terlihat saat pertandingan Thailand versus Indonesia. Papan skor menunjukkan 4-2 untuk kemenangan tim besutan Kiatisuk Senamuang. 

Butuh mental baja dan semangat juang tinggi untuk menghapus prediksi miring terkait kiprah Merah Putih di laga-laga selanjutnya. Di laga kedua yang berlangsung 22 November 2016 di tempat yang sama melawan tuan rumah, Filipina, Timnas masih belum juga bangkit. 

Skor 2-2 jadi hasil akhir. Kemenangan jadi harga mati untuk Timnas Indonesia di laga terakhir jika ingin lolos. Titik terang mulai sedikit terlihat. 

Disaksikan hanya 467 orang di laga terakhir, Timnas sukses menang tipis atas Singapura, 2-1 di Rizal Memorial Stadium. Lolosnya Timnas ke semifinal pun sedikit banyak 'terbantu' karena Filipina pun kalah 0-1 dari Thailand. 

Rasa nasionalisme pun terbakar jelang babak semifinal. Publik mulai terbuka matanya melihat perjuangan Boaz Solossa Cs bukan perkara mudah. 

Berjuang untuk Merah Putih di kondisi keterbatasan dan menghadapi lawan-lawan yang sudah mempersiapkan diri secara matang bukan semudah membalik telapak tangan. Boaz Solossa Cs setidaknya sudah membuktikan itu dengan lolos ke final dan kembali mendapat predikat runner up

Banyak yang tersisa dari perhelatan Piala AFF 2016. Bukan kenangan indah untuk tim lain seperti top skor yang diraih oleh Teerasil Dangda dengan mengoleksi 6 gol atau bukan karena Thailand mencetak rekor sebagai negara pengoleksi gelar terbanyak Piala AFF. 

Yang tersisa dari perhelatan Piala AFF 2016 lebih kepada 'hal magis' untuk membangun Timnas Indonesia agar jadi tim yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Berikut ulasannya untuk pembaca setia INDOSPORT: 


1. Jangan ulang 'kisah Rara Jonggrang'

Timnas Indonesia Piala AFF 2016

Jika bicara negatif mungkin sedari awal PSSI memang tidak menargetkan Timnas untuk bisa meraih gelar juara. Pasalnya menjadi sangat tidak masuk akal jika memang menargetkan tim ini meraih gelar juara. 

Persiapan yang sesingkat-singkatnya dilakukan oleh Timnas Indonesia. Malu jika kita membandingkan Vietnam misalnya yang telah membangun timnya sejak tiga tahun lalu, pun dengan Thailand. 

Namun Timnas bisa mengalahkan Vietnam yang sudah mempersiapkan timnya secara matang? Ini jadi pembahasan lain, karena memang pada faktanya di Timnas saat ini masih terselip mental untuk bertindak puputan untuk Merah Putih. 

Kembali ke persiapan tim. Pelajaran dari Piala AFF 2016 soal kerangka tim memang jadi pekerjaan rumah dari PSSI, ini memang bukan masalah baru. Bisa dibilang pembentukan Timnas dengan waktu cepat jadi masalah klasik sepakbola nasional. 

Analoginya, Bandung Bondowoso pun tak mampu untuk bisa membuat seribu candi dalam waktu satu malam. Apalagi Boaz Solossa Cs yang 'dibebankan' untuk bisa memupus 'kutukan' runner up Timnas di Piala AFF dengan persiapan yang sangat singkat dan dengan segala keterbatasan. 

Berkaca dengan Thailand misalnya, butuh waktu tahunan untuk sepakbola mereka seperti saat ini. Meski berstatus raja Asia Tenggara, Thailand faktanya pernah alami keterpurukan. 

Di Piala AFF 2010 misalnya, Thailand torehkan rekor buruk. Tak pernah mengecap kemenangan di fase grup, padahal Thailand saat itu dilatih legenda hidup Man United, Bryan Robson. 

Revolusi Timnas pun dilakukan Federasi Sepakbola Thailand. Kerangka tim dari pemain muda mulai dibangun Thailand. Tim muda Thailand justru tampil lebih teringginas. Torehan prestasi medali emas SEA Games 2013 dan peringkat empat Asian Games 2014 jadi bukti bahwa sepakbola profesional akan berprestasi dari pemain-pemain muda. 

Pondasi tim yang terbangun dari jiwa-jiwa pemain muda mulai menujukkan prestasinya di level tim senior. Di perhelatan 2014, Thailand sukses meraih gelar usai kalahkan Malaysia. 

Itu baru Thailand, bagaiamana negara lain di kawasan Asia Tenggara? Mari tengok sepakbola Laos dengan Lao Premier League (LPL), revolusi sepakbola Vietnam pasca kasus pengaturan skor di liga Vietnam pada 2005 silam, atau lihat bagaiaman klub liga Kamboja, Phnom Penh Crown memiliki kerjasama apik dengan Sports and Leadership Training Academy.


2. Jangan cederai semangat Timnas

Stefano Lilipaly.

Me-review pertandingan Timnas Indonesia di semifinal Piala AFF 2016 melawan Vietnam terselip fakta yang menunjukkan bahwa masih ada jiwa patriot dan semangat penggawa Timnas untuk Merah Putih. 

Timnas yang dibentuk dalam waktu singkat di perhelatan Piala AFF 2016 mampu jungkalkan Vietnam yang sudah tiga tahun mempersiapkan timnya. Di luar urusan teknik dan taktik, soal semangat dan rasa optimisme memang jadi pembeda. 

Sejak awal skuat Timnas Piala AFF tahun ini memang memiliki pembeda. Perbedaan itu bisa dilihat dari semangat mereka jelang pertandingan. 

"Ayo, bawa pulang trofi," kata Stefano Lilipaly lewat akun Twitter miliknya sebelum laga leg kedua Piala AFF 2016. 

Jauh sebelum itu sejumlah penggawa Timnas lain juga mengumbar energi positif ke publik. Memberi keyakinan bahwa semangat di dada mereka untuk Merah Putih. 

"Biarkan ini menjadi contoh untuk seluruh dunia bahwa dari mana pun asal dan agama kita, kita adalah INDONESIA DAN KITA ADALAH SATU!" kata Irfan Bachdim usai laga leg kedua babak semifinal Piala AFF 2016 antara Timnas versus Vietnam. 

Energi ini yang wajib dijaga untuk Timnas. Apakah cukup sulit untuk kita menjaga ini? 


3. Komposisi Penggawa Merah Putih

Momen saat di ruang ganti pemain Timnas Indonesia tampak kompak berkumpul dan berdoa.

Coach Timnas Indonesia, Alfred Riedl memanggil 23 pemain untuk bertarung di Piala AFF 2016. Skuat yang dipanggil oleh pelatih asal Austria ini berasal dari hampir seluruh wilayah di negeri ini. 

Penggawa-penggawa Timnas yang dipanggil Riedl hanya satu orang yang bukan lahir di Indonesia yakni pemain naturalisasi, Stefano Lilipaly. Namun pemain kelahiran Arnhem, Belanda ini memiliki darah Indonesia. Sang ayah, Ron Lilipaly memiliki darah Maluku. 

Riedl tahu benar bahwa negeri ini berasal dari suku-suku bangsa yang berbeda-beda. Ada pemain yang kelahiran Painan, Bengkulu, Jakarta, Sumedang, Jepara, Jember, Mojokerto, Malang, Surabaya, Ternate, hingga Sorong. Kapten tim berasal dari Sorong, Papua, Boaz Salossa. 

Meski berasal dari tanah kelahiran, budaya, serta klub-klub yang berbeda-beda, Timnas Indonesia menujukkan bahwa kepentingan yang lebih besar yakni merebut gelar juara Piala AFF 2016 lebih penting dibanding di atas segalanya. 

Pada partai semifinal leg kedua di Hanoi hal itu sangat jelas terlihat. Mendapat hadiah penalti di menit-menit krusial pada perpanjangan waktu, penggawa Timnas tak mempermasalahkan saat pemain muda kelahiran Liang, Pulau Buru, Manahati Lestusen jadi algojo. 

Padahal saat itu ada nama-nama senior seperti Ferdinand Sinaga, Zulham Zamrun, Dedi Kusnandar, ataupun kapten kedua, Beny Wahyudi. Kebesaran hati dan tahu bahwa kemenangan tim lebih penting jadi salah satu faktor yang membuat Lestusen dengan apik menjebol gawang Vietnam lewat titik 12 pas

"Penalti saya ambil karena kesepakatan sebelum laga," 

"Saya sebetulnya pilihan kedua (menendang penalti) setelah Boaz. Namun karena Boaz ditarik, jadi saya yang mengeksekusinya. Saya sempat ditanya, apakah saya siap. Saya bilang, saya sudah mantap," kata pemain berusia 22 tahun ini usai pertandingan.  

Boaz SolossaPSSIAlfred RiedlPiala AFF 2016Timnas IndonesiaLiga IndonesiaTimnas ThailandKiatisuk Senamuang

Berita Terkini