Stanley Matthews: Peraih Ballon d'Or Pertama yang Cinta Sang Ibu dengan Sejuta Perjuangan
Nama Stanley Matthews terasa asing di telinga para pencinta sepakbola dunia saat ini. Akan tetapi, jika yang gemar sejarah sepakbola, nama Stanley Matthews patut dihormati sepanjang masa.
Ia adalah sosok pemain pertama yang meraih gelar Ballon d'Or. Stanley Matthews meraihnya pada tahun 1956. Ia saat itu bermain untuk klub Liga Inggris, Blackpool FC.
Banyak pencinta sepakbola dunia yang tidak mengetahui secara gamblang soal sepak terjang Stanley Matthews di lapangan hijau. Tak hanya itu, kehidupannya di luar lapangan juga belum tercatat secara detail.
Stanley Matthews (tengah) saat masih aktif bermain.
Padahal, kisah perjalanan Stanley Matthews sangat menginspirasi banyak orang. Ia memulai karier sepakbolanya dengan penuh perjuangan.
Ia memaksimalkan waktu yang ada untuk berlatih sepakbola di manapun berada. Meski berlatih sepakbola, ia turut membantu sang ibu dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah.
Lalu bagaimana perjalanan Stanley Matthews? INDOSPORT telah mempersembahkan perjalanan Stanley Matthews dalam tajuk 'Legenda Olahraga':
1. Cinta Sang Ibu dan Sosok Aktifis HAM
Stanley Matthews lahir di Kota Hanley, Stoke-on-Trent, Staffordshire, Inggris pada tanggal 1 Februari 1915. Nama ayahnya adalah Jack Matthews, dan sang ibu bernama Elizabeth.
Sang ayah merupakan tukang cukur yang merupakan atlet tinju. Sementara sang ibunda hanya menjadi sosok perempuan rumah tangga.
Tak hanya itu, kisah yang tertulis lainnya dari Stanley Matthews adalah soal dirinya pertama kali tahu dengan olahraga sepakbola. Ia pertama kali tahu soal olahraga sepakbola pada umur 5 tahun.
"Saya dulu mendapatkan bola kecil dari orang tua. Itu bola pertama saya. Saya selalu membawanya sambil menemani ibu belanja. Tapi, saya lebih sering bermain bola pada malam hari di bawah tiang lampu jalanan depan rumah. Saya sangat menikmatinya ketika itu," kata Stanley Matthews dikutip dari BBC.
Stanley Matthews (kiri) ketika masih aktif bermain.
Stanley Matthews mulai menyukai olahraga sepakbola. Namun, ia tetap berdedikasi untuk membantu ibunya dalam membereskan segala urusan rumah. Maklum, Stanley Matthews sangat mencintai sang ibu.
Beranjak dewasa, Stanley Matthews justru berkiprah sebagai aktifis Hak Asasi Manusia (HAM). Ia kerap hadir dalam misi kemanusiaan HAM di Irlandia pada zaman Perang Dunia II (1920-an akhir).
Meski begitu, Stanley Matthews akhirnya memilih untuk melanjutkan karier sepakbolanya, guna bergabung dengan akademi Stoke City pada tahun 1930. Stanley Matthews langsung menjelma naik level ke tim senior pada tahun 1932.
2. Kesuksesannya Raih Ballon d'Or, Si Pesulap, Puasa, dan Jus Wortel
Stanley Matthews bermain dengan posisi sebagai winger kanan. Ia memiliki posisi untuk menjadi pelayan striker. Namun, Stanley Matthews kerap mencetak gol di setiap pertandingan yang dilakoninya bersama Stoke City.
Pria yang saat itu berumur 15 tahun mampu menjelma menjadi pemain hebat. Ia sudah mengoleksi 51 gol dari 259 laga bersama Stoke City dari tahun 1932-1947. Sukses di Stoke City, Stanley Matthews hijrah ke Blackpool. Di sinilah masa kejayaannya lahir.
Ia membawa Blackpool meraih gelar juara Piala FA tahun 1953. Stanley Matthews juga membawa Blackpool finis di posisi kedua Liga Inggris musim 1955/56.
Performa apiknya tersebut membuat dia dianugrahi penghargaan Ballon d'Or pada tahun 1956. Ketika itu, penghargaan ini digagas oleh penulis majalah France Football, Gabriel Hanot yang meminta rekan-rekan media untuk memilih pemain terbaik Eropa 1956. Penghargaan ini diberikan berdasarkan suara wartawan dari seluruh dunia.
Sebagai informasi tambahan, Ballon d'Or merupakan penghargaan yang diberikan setiap tahun kepada pemain terbaik di musim sebelumnya. Secara perlahan penghargaan ini digabung dengan Pemain Terbaik FIFA pada tahun 2010. Lalu, pernghargaan Ballon d'Or kembali pisah di tahun ini.
Stanley Matthews (tengah) ketika berhasil membawa Blackpool meraih gelar juara Piala FA.
Stanley Matthews menerima pernghargaan tersebut dengan penuh senyuman. Ia kerap dipuji-puji sebagai pemain yang berjuluk Si Pesulap.
Ia mampu memunculkan teknik-teknik memukau seperti bola disulap menempel pada kakinya. Hal itu diungkapkan oleh legenda Tim Nasional Jerman, Franz Beckenbauer, dikutip dari BBC.
Namun, ada rahasia di balik kehebatan Stanley Matthews. Sang anak perempuannya yang bernama Jean mengungkapkan bahwa Stanley Matthews memiliki pola makan yang sangat berbeda.
"Program dietnya tetap sama, jus wortel di siang hari, steak dan salad untuk makan malam. Ia juga puasa setiap hari Senin," ungkap Jean dikutip dari CNN.
3. Karier Tak Bagus di Timnas Inggris, Gelar Sir, dan Penghargaan Patung
Sukses di Blackpool, Stanley Matthews kembali mengabdi untuk Stoke City pada tahun 1961. Ia bermain untuk Stoke City selama empat tahun, dan memutuskan pensiun pada tahun 1965.
Seusai pensiun, ia lebih menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia lebih mencintai keluarga kecilnya, yakni Betty (istri), Jean (anak perempuan), dan Stanley Junior (anak laki-laki). Ia juga memiliki istri muda bernama Mila.
Meski begitu, ia tetap bisa mencintai keluarganya tanpa pilih kasih. Sosok Stanley Matthews sangat menginspirasi sepakbola Inggris.
Prosesi penghormatan terakhir pemakaman Stanley Matthews.
Buktinya, ia diberi gelar Sir oleh Kerajaan Inggris atas dedikasinya. Walaupun, Stanley Matthews belum mampu memberikan satu pun gelar juara untuk Timnas Inggris.
Ia akhirnya wafat pada tanggal 23 Februari 2000. Saat itu, usianya mencapai 85 tahun.
Dedikasi pun diberikan kepadanya dari Blackpool. Manajemen klub membuatkannya patung di depan Britannia Stadium.
Patung Stanley Matthews.