3 Kandidat Calon Pengganti Giorgio Furlani di AC Milan, Berikut Profil Lengkapnya
INDOSPORT.COM - AC Milan kembali memasuki fase penting dalam restrukturisasi manajemen klub setelah masa depan Giorgio Furlani sebagai CEO mulai diselimuti ketidakpastian. Sejumlah laporan media Italia menyebut jajaran petinggi Rossoneri telah menyiapkan tiga nama kuat sebagai calon suksesor.
Ketiga sosok tersebut bukan nama sembarangan karena masing-masing memiliki rekam jejak panjang dalam membangun fondasi klub Serie A. Mereka adalah Adriano Galliani, Giovanni Carnevali, dan Claudio Fenucci, tiga figur yang dianggap mampu mengembalikan stabilitas serta arah proyek besar Milan.
Jika benar pergantian terjadi pada musim panas ini, keputusan tersebut akan sangat menentukan masa depan klub. AC Milan membutuhkan figur eksekutif yang bukan hanya piawai mengatur bisnis, tetapi juga memahami DNA kompetitif sepak bola Italia modern.
Berikut profil lengkap tiga kandidat yang disebut-sebut menjadi calon terkuat pengganti Giorgio Furlani di kursi CEO AC Milan.
1. Adriano Galliani
Nama Adriano Galliani tentu tidak asing bagi publik San Siro karena ia adalah salah satu arsitek terbesar kejayaan AC Milan era modern. Selama lebih dari tiga dekade mendampingi Silvio Berlusconi, Galliani menjelma simbol kesuksesan administratif Rossoneri.
Galliani mulai menjabat sebagai CEO AC Milan pada 1986 ketika Berlusconi mengambil alih klub dari masa krisis finansial. Bersama kombinasi visi bisnis dan kecerdasan negosiasi transfer, ia mengubah Milan menjadi kekuatan global sepak bola Eropa.
Di bawah kepemimpinannya, Milan meraih delapan gelar Serie A dan lima trofi Liga Champions. Prestasi itu menjadikan Galliani salah satu eksekutif tersukses sepanjang sejarah sepak bola profesional Italia.
Ia dikenal sebagai negosiator ulung dengan relasi luas di seluruh Eropa dan Amerika Selatan. Banyak transfer legendaris Milan, mulai dari Kaka hingga Zlatan Ibrahimovic, lahir dari tangan dinginnya.
Selain piawai di ruang negosiasi, Galliani juga punya insting tajam membaca momentum perubahan sepak bola modern. Ia menjadi salah satu pionir transformasi model bisnis klub Italia menuju pendekatan korporasi profesional.
Setelah era Milan berakhir pada 2017, Galliani mengikuti Berlusconi membangun Monza dari Serie C menuju Serie A. Dalam waktu relatif singkat, ia kembali membuktikan kapasitasnya sebagai administrator elite.
Kesuksesan Monza promosi ke kasta tertinggi tidak lepas dari kemampuannya membangun struktur klub efisien. Galliani menunjukkan bahwa sentuhan emasnya belum luntur meski usianya kini telah melewati delapan dekade.
Kedekatannya dengan Massimiliano Allegri juga dianggap sebagai nilai plus besar untuk Milan saat ini. Hubungan harmonis itu diyakini bisa memulihkan stabilitas internal yang beberapa musim terakhir sempat terganggu.
Bagi banyak tifosi, kembalinya Galliani akan menjadi nostalgia romantis sekaligus harapan baru. Ia bukan sekadar mantan CEO, melainkan sosok yang memahami filosofi kemenangan AC Milan hingga ke akar terdalam.
Meski usia menjadi pertimbangan realistis, pengalaman luar biasanya bisa menjadi solusi jangka pendek yang efektif. Milan membutuhkan figur berwibawa untuk menenangkan situasi, dan Galliani memiliki kualitas itu.
2. Giovanni Carnevali
Jika Galliani adalah simbol masa lalu Milan yang gemilang, Giovanni Carnevali mewakili masa depan sepak bola Italia modern. CEO Sassuolo ini dikenal luas sebagai master proyek pembangunan klub berbasis efisiensi dan inovasi.
Carnevali mulai memimpin Sassuolo secara penuh ketika klub kecil Emilia-Romagna itu baru menapak Serie A. Dalam waktu singkat, ia menjadikan Sassuolo salah satu organisasi paling sehat secara finansial di Italia.
Di bawah arahannya, Sassuolo bukan hanya bertahan di Serie A, tetapi juga konsisten menjadi penantang papan tengah kompetitif. Klub bahkan sempat menembus kompetisi Eropa dan menciptakan reputasi sebagai pengembang bakat muda terbaik.
Salah satu kekuatan terbesar Carnevali adalah kemampuan scouting dan monetisasi pemain. Sassuolo berkali-kali membeli pemain murah, memolesnya menjadi bintang, lalu menjualnya dengan keuntungan besar.
Nama-nama seperti Manuel Locatelli, Giacomo Raspadori, Domenico Berardi, hingga Davide Frattesi berkembang pesat di bawah struktur klub racikan Carnevali. Model bisnis tersebut menjadi acuan banyak klub Serie A.
Ia juga dikenal sebagai administrator disiplin dalam menjaga keseimbangan neraca keuangan klub. Di era ketika banyak tim Italia kesulitan stabil secara ekonomi, Sassuolo justru tampil sehat dan kompetitif.
Kemampuan itu sangat relevan bagi AC Milan di bawah RedBird yang menekankan sustainability finansial. Carnevali dianggap sosok ideal untuk menjembatani ambisi olahraga dan disiplin bisnis modern.
Hubungannya dengan berbagai direktur olahraga top Italia juga sangat kuat. Jejaring tersebut akan memudahkan Milan bergerak agresif namun cerdas di pasar transfer.
Carnevali memiliki reputasi sebagai eksekutif tenang, rasional, dan tidak mudah terpengaruh tekanan publik. Karakter ini penting untuk mengelola klub sebesar Milan yang selalu berada dalam sorotan media.
Keunggulan lain terletak pada pemahamannya terhadap regenerasi skuad. Ia sangat piawai membangun proyek jangka panjang berbasis pemain muda tanpa mengorbankan daya saing tim utama.
Jika Milan ingin proyek berkelanjutan ala klub modern Eropa, Carnevali adalah pilihan yang sangat logis. Ia menawarkan visi masa depan, bukan sekadar romantisme masa lalu.
3. Claudio Fenucci
Nama Claudio Fenucci mungkin tidak sepopuler Galliani di mata tifosi internasional, tetapi reputasinya di Italia sangat tinggi. CEO Bologna ini dianggap salah satu otak di balik kebangkitan spektakuler Rossoblu dalam beberapa musim terakhir.
Fenucci punya pengalaman panjang di level elite sepak bola Italia. Sebelum bergabung dengan Bologna, ia pernah bekerja di AS Roma sebagai CEO dan CFO dengan tanggung jawab besar.
Di Roma, ia terlibat dalam restrukturisasi finansial kompleks pasca-pergantian kepemilikan klub. Pengalaman itu membentuk reputasinya sebagai administrator tangguh dalam situasi penuh tekanan.
Ketika pindah ke Bologna, Fenucci membawa pendekatan modern yang menyeimbangkan ambisi olahraga dan stabilitas finansial. Hasilnya terlihat dari transformasi klub menjadi salah satu kejutan terbesar Serie A.
Bologna berkembang menjadi tim yang solid secara taktik dan progresif dalam perekrutan pemain. Mereka sukses bersaing dengan anggaran jauh lebih kecil dibanding klub-klub tradisional Italia.
Fenucci dikenal sangat teliti dalam menyusun strategi jangka panjang. Ia memastikan setiap keputusan transfer, pelatih, hingga investasi infrastruktur berjalan sinkron dengan target klub.
Di bawah arahannya, Bologna menjadi contoh klub sehat dengan identitas permainan jelas. Prestasi mereka menembus zona Eropa dipandang sebagai buah dari perencanaan matang, bukan kebetulan.
Kelebihan besar Fenucci terletak pada kepemimpinan administratif yang modern dan adaptif. Ia memahami tuntutan sepak bola kontemporer yang menuntut integrasi data, bisnis, dan pengembangan olahraga.
Ia juga sangat piawai membangun komunikasi antara pemilik klub dan tim teknis. Kemampuan ini sangat dibutuhkan Milan yang beberapa musim terakhir sering diterpa ketegangan internal.
Fenucci adalah tipe eksekutif low profile tetapi efektif bekerja di balik layar. Dalam dunia sepak bola modern, profil seperti ini justru sangat bernilai.
Jika Milan menginginkan perubahan struktural cerdas tanpa kegaduhan besar, Fenucci bisa menjadi jawaban ideal. Ia punya kombinasi pengalaman elite, visi modern, dan hasil nyata di lapangan.