Demam Stefano Lilipaly dan Kerja Ekstra PSSI Pantau Bakat Anak Negeri
Gagasan soal pemain naturalisasi pertama kali menyeruak saat Cristian Gonzales membuka tabir di tahun 2009. Pemain kelahiran Uruguay ini menjadi gerbong perdana pemain asing yang diberikan paspor Indonesia.
El Loco, julukan pemain tersebut pun akhirnya dipanggil untuk memperkuat Skuat Garuda pada ajang Piala AFF 2010. Hasilnya, El Loco sukses mengantar Timnas Indonesia melaju ke final Piala AFF 2010 sebelum ditaklukkan Malaysia di partai puncak.
Usai Gonzales, PSSI seperti terpesona dengan jalur singkat naturalisasi. Setidaknya ada 7 pemain sepakbola lain yang mendapatkan paspor Indonesia dengan dalih kebutuhan Tim Nasional.
Akan tetapi, tren kebutuhan pemain naturalisasi beralih menjadi pemain yang memiliki darah Indonesia. Sebut saja Ruben Warbanaran, Tony Cussel, Johnny van Beukeuring, Stefano Lilipaly, Diego Michiels, Sergio van Dijk, dan Raphael Maitimo.
Mereka adalah para pesepakbola yang besar di Eropa dan bersedia untuk membela Skuat Garuda. Namun, tidak semua pemain ini meraih keberhasilan di Skuat Garuda.
Secara performa pemain naturalisasi ini dianggap tidak berbeda jauh secara kualitas dengan pemain lokal. Mereka pun dianggap setengah hati saat membela Timnas Indonesia karena tidak akrab dengan iklim persepakbolaan nasional.
Lalu belakangan muncul wacana baru, memantau sejumlah bakat muda yang tengah merintis jalan profesional di luar negeri. Hal ini pun diamini oleh pemerintah melalui Kemenpora dan PSSI yang sejalan dalam ide tersebut.
Lalu sejauh mana menempatkan naturalisasi sebagai sebuah kebutuhan pengembangan sepakbola nasional? Berikut hasil ulasan INDOSPORT;
1. Jangan Tengok Negara Tetangga
Indonesia dinilai bisa maju karena memiliki dua hal secara kultural yang bisa membuat sepakbola bersaing. Jaminan penuhnya stadion saat pertandingan berlangsung serta sumber daya pemain yang lebih dari cukup untuk membangun sebuah skuat sepakbola.
Namun tentu tidak sesederhana itu, karena membentuk tim juara tentu bukan persoalan mudah. Apalagi Indonesia juga punya sejarah panjang lewat sepakbola.
Kemudian setelah 79 tahun berdiri, PSSI seolah melakukan langkah berani dalam menerapkan program bernama naturalisasi di era sepakbola modern. Usai haus berprestasi dalam jangka beberapa dekade, meng-Indonesia-kan pemain asing menjadi solusi alternatif.
Sebenarnya ini bukan pertama kali dilakukan Indonesia dalam membajak pemain asing menjadi WNI. Arnold van der Vin, Van der Berg, Boelard van Tuyl, Pesch, dan Piterseen menjadi lima 'bule' asal Belanda yang menjalani naturalisasi pada medio tahun 1950an.
Uji coba pertama ini dilakukan dengan mengambil alih kewarganegaraan Cristian Gonzales yang cukup menonjol di persepakbolaan nasional. Saat itu El Loco dinilai memiliki kualitas yang bisa mengangkat prestasi Skuat Garuda.
Indonesia sedikit mengadopsi gaya Singapura yang teruji dengan skuat 'pelangi' mereka di Piala AFF 2004. Singapura memiliki sejumlah pemain naturalisasi sekelas Agu Casmir, Itimi Dickson, dan Daniel Bennet.
Tapi sepertinya Indonesia lupa bahwa negara tetangga ini tidak memiliki dua hal yang disebut di awal. Problem sesungguhnya justru abai dari pengamatan PSSI saat itu.
Setelah menuai musim semi di uji coba pertama, angin naturalisasi mulai membuai federasi. Namun kemudian kembali mati setelah konflik laten menerpa di organisasi ini.
2. Bidik Saudara Jauh
Episode selanjutnya dalam program naturalisasi pun berjalan. Kali ini PSSI mencoba untuk memulangkan sejumlah pemain yang memiliki kedekatan darah dengan Indonesia.
Sebagian besar merupakan pemain yang berlaga di Belanda. Pasalnya, Indonesia dan Belanda memiliki akar sejarah yang sejalan.
Tidak kurang nama sekelas Stefano Lilipaly, Raphael Maitimo, Ruben Warbanaran, Diego Michiels, Johnny van Beukeuring, dan Tonny Cussel diberi paspor Timnas Indonesia. Mereka pun rela menyerahkan paspor Belandanya untuk menjadi WNI.
Harapannya jelas, mereka menjadi aktor untuk memajukan sepakbola nasional. Namun demikian rencana tinggal rencana.
Hanya Raphael Maitimo dan Stefano Lilipaly yang mampu bertahan dalam kiprah sepakbola nasional. Meskipun sebagian besar dari mereka pernah mencoba atmosfer sepakbola Indonesia, namun kualitasnya dianggap tidak jauh berbeda dengan pemain lokal.
Indonesia pun justru terpuruk di penyelenggaraan Piala AFF 2012. Selain akar konflik di tubuh PSSI yang tengah meruncing, para pemain naturalisasi ini gagal memberikan perfoma prima.
3. Stefano Lilipaly dan Hati untuk Negeri
Performa Stefano Lilipaly sepanjang gelaran Piala AFF 2016 menuai pujian dari publik sepakbola nasional. Padahal sebelumnya, pemanggilan Lilipaly dipandang sebagai sesuatu yang mubazir.
Alfred Riedl yang saat itu menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia mendapat sejumlah pertanyaan soal pemanggilan ini. Pasalnya, Lilipaly merupakan satu dari sejumlah pemain naturalisasi yang dianggap gagal.
Namun Riedl tetap menjalankan rencana dan memasukkan Lilipaly dalam daftar skuatnya. Hasilnya pemain kelahiran Arnhem, Belanda, tersebut mampu menjadi inspirator permainan sepanjang turnamen.
Pemain berusia 26 tahun ini pun membuat 2 gol krusial dalam sejumlah pertandingan menentukan. Pertama gol melawan Singapura yang mengantar Indonesia ke semifinal, serta gol melawan Vietnam di leg kedua semifinal yang mengantar Indonesia ke final.
Meskipun gagal membawa Indonesia untuk menjadi juara, Lilipaly dianggap bermain dengan hatinya. Meskipun mendapat sejumlah keraguan dari publik Tanah Air, pemain yang memperkuat SC Telstar ini tetap bangga berkostum Merah Putih.
'Demam' Lilipaly pun berlanjut usai gelaran Piala AFF 2016. Pemerintah melihat sisi positif dari 'hati' yang diberikan Lilipaly untuk Skuat Garuda.
Imam Nahrawi selaku Menpora langsung menegaskan wacana untuk memantau sejumlah bakat muda Indonesia di luar negeri. Menpora menilai bahwa kebijakan naturalisasi tak perlu dilakukan jika sejak awal PSSI memiliki data yang jelas soal sejumlah pemain Indonesia yang memiliki kualitas prima di luar negeri.
4. Demam Lilipaly dan Pelajaran Penting dari Ezra Walian
Performa Indonesia di Piala AFF 2016 kemudian menjadi pemecah keraguan sejumlah kalangan. Terisolir dari persepakbolaan internasional tak membuat Indonesia kecil hati dalam turnamen antarnegara pertamanya usai mendapat sanksi FIFA.
Sekali lagi Stefano Lilipaly menjadi sorotan usai performa apiknya di ajang tersebut. Pemain yang lahir di Belanda ini menjadi virus bagi sejumlah bakat muda Indonesia yang besar di luar negeri.
Sebut saja Jordy Tutuarima yang merupakan rekan senegaranya di Telstar. Jordy sempat mengatakan kepada Lilipaly untuk bisa bermain untuk Timnas Indonesia.
Apalagi Jordy juga dikenal sebagai salah satu pemain yang memiliki darah Indonesia. Jordy merupakan pemain yang berdarah Maluku seperti Lilipaly.
Belum lagi sejumlah bakat muda yang kebetulan lahir dan besar di negeri orang. Baru-baru ini bahkan Ezra Walian kembali mengingatkan PSSI bahwa dirinya berpotensi membela Skuat Garuda.
Lahir dan besar di Belanda, Ezra memiliki ayah yang berasal dari Manado. Ezra pun masih memiliki keluarga dekat di Sulawesi Utara.
Hal ini menbuatnya dengan senang hati menyambut keinginan PSSI untuk mengembalikan kewarganegaraanya. Ezra kini berusia 20 tahun dan memiliki paspor Belanda demi kepentingan kariernya di Ajax Amsterdam.
Padahal sejak tujuh tahun lalu Ezra sudah menyatakan dirinya siap jika dipanggil Timnas Indonesia. Artinya, Ezra sebenarnya tak perlu dinaturalisasi jika PSSI memiliki data soal dirinya.
Ezra pun sempat membela Timnas Belanda U-15 dan U-17 semasa junior. Ini pun karena Indonesia tak memiliki cetak biru yang jelas soal pengelolaan sepakbola mudanya, terutama sistem Tim Nasional yang terencana.
5. Bakat Muda di Luar Negeri dan Kerja Ekstra PSSI
Kini pekerjaan rumah sudah menumpuk di depa mata. Peran naturalisasi bisa dikembalikan ke lemari kerja jika sekelumit masalah yang tumpah di meja bisa segera diselesaikan.
Richie Risnal dan Abdurrahman Iwan belum lama menyatakan kesiapannya jika ada panggilan dari tanah leluhurnya untuk berbakti. Keduanya masih berusia belia, Richie baru berusia 9 tahun dan Abdurrahman baru berusia 10 tahun.
Richie merupakan anak yang lahir dan besar dari pasangan asal Indonesia. Hal ini membuat Richie kemudian memegang paspor Belanda hingga saat ini.
Saat ini Richie tercatat sebagai siswa di Coerver Soccer Academy, sebuah akademi yang menjadi rujukan klub besar macam Ajax Amsterdam bagi para siswa juniornya. Tidak main-main, Richie juga membekali dirinya dengan berlatih taekwondo, seperti yang dilakukan Zlatan Ibrahimovic untuk memperkuat fisik terutama kekuaayan kakinya.
Artinya, Richie secara personal memiliki visi yang kuat sebagai seorang pesepakbola. Pengelolaan bakat ini yang penting dilakukan oleh para pemain lokal untuk bersaing jika ingin menapak level senior.
Sama halnya yang dilakukan Abdurrahman Iwan yang kini membela dua klub sekaligus di Qatar. Abdurrahman kini tercatat sebagai pemain Al Wakrah yang ikut berlaga di kompetisi Qatar Super League (QSL) Junior.
Abdurrahman juga menjadi bagian dari pengembangan bakat muda Qatar melalui Aspire Academy. Artinya pemain berusia 10 tahun ini menjadi salah satu pesepakbola yang dianggap potensial di Qatar.
Keduanya menjadi simbol kekuatan mental kompetitif yang dilahirkan dari sistem pembinaan pemain muda di luar negeri. Lalu bagaimana dengan sistem pembenahan yang dilakukan di Indonesia?