Belum Move On, Sampaoli Masih 'Galau' dengan Chelsea
Saat memasuki akhir musim 2015/16 lalu, Chelsea kala itu masih ditangani oleh pelatih “spesial interim” mereka, yaitu Guus Hiddink. Di saat yang bersamaan, tim manajemen sedang berjuang untuk membujuk siapa yang akan menjadi pelatih permanen di musim berikutnya, mengingat Hiddink sudah mengatakan dirinya enggan dipermanenkan.
Sejumlah nama pun saat itu bermunculan, mulai dari Pep Guardiola, datangkan kembali Carlo Ancelotti atau Andre Villas-Boas, Massimiliano Allegri, Jorge Sampaoli, dan Antonio Conte.
Nama Sampaoli muncul karena dirinya berhasil memberikan gelar juara Copa America kepada Tim Nasional (Timnas) Chile di tahun 2015 lalu.
Namun yang terjadi adalah, Chelsea justru lebih percaya kepada Conte hingga akhirnya ia pun diresmikan dan nama Sampaoli dilupakan. Di saat itu pula, Sampaoli sempat kecewa dengan mengatakan The Blues tidak menginginkannya karena ia tak mampu berbahasa Inggris.
Antonio Conte lebih dipilih Chelsea sebagai pelatih utama daripada Jorge Sampaoli.
Kini setelah memasuki pertengahan musim 2016/17, juru taktik asal Argentina itu kembali menyampaikan keluhannya terhadap klub yang berkawasan di London Barat tersebut. Namun kali ini, Sampaoli justru seakan memberikan kalimat bernada sindiran.
“Waktu itu cukup banyak tawaran yang datang dan tentu saja saat itu menarik. Oh ya, kami juga melakukan negosiasi dengan Chelsea, tapi Sevilla merupakan kota yang luar biasa, di mana mereka banyak gairah dan atmosfer sepakbola yang hebat, terutama saat saya berada di stadion, nyanyian-nyanyian dari fans, itu hebat sekali,” jelas Sampaoli kepada El Transistor Radio.
Kini, Sampaoli mengaku ingin fokus kepada Sevilla untuk dapat terus membuntuti bahkan melampaui Real Madrid yang berada di puncak klasemen sementara La Liga Spanyol 2016/17 dengan perolehan 43 poin minus satu pertandingan.
Jorge Sampaoli, kini menjadi pelatih utama Sevilla.
Sementara Sevilla berada tepat satu posisi dibawahnya dengan menyegel 42 poin. Selisih angka yang tidak terlalu jauh inilah yang membuat pelatih berusia 56 tahun itu terobsesi untuk mengejar Madrid.
“Sekarang kami akan berjuang untuk meraih gelar juara Liga dengan kekuatan yang kami punya. Sebenarnya, target awal saya hanya ingin berakhir di posisi kelima atau keenam, tapi karena adanya semangat juang yang tinggi, maka kami memiliki impian yang lebih. Anda harus selalu punya impian yang tinggi,” tutupnya.