3 Faktor yang Bikin Persija Dibayangi Masa Kelam Musim Lalu
Persija Jakarta mengawali kompetisi Gojek Traveloka Liga 1 dengan apik. Kemenangan di kandang Persiba Balikpapan dengan skor 2-0 menjadi torehan positif Macan Kemayoran menyambut musim baru di Liga 1.
Namun, jalan Persija mengarungi kompetisi tidak semudah yang dibayangkan. Setelah menang di laga pertama, Macan Kemayoran mengukir rekor buruk pada laga-laga berikutnya.
Menjamu Barito Putera di pekan kedua, Persija hanya meraih hasil imbang 1-1. Berikutnya, mereka menelan kekalahan di rumah PSM Makassar (0-1). Selanjutnya, Persija takluk di kandang sendiri dari Madura United (0-1), dan Persela Lamongan (0-1) di markas lawan.
Sebelum laga menghadapi Mitra Kukar, nada sumbang menuntut pelatih Stefano Cugurra Teco untuk meletakkan jabatannya mulai terdengar. Puncaknya, setelah Macan Kemayoran tumbang di rumah sendiri melawan Naga Mekes (0-1). Desakan untuk menuntut Teco mundur menggema di Stadion Patriot Chandrabaga, tempat Persija menggelar laga kandang.
Kini, Macan Kemayoran nihil kemenangan dalam lima laga terakhir. Butuh sembilan pertandingan lagi untuk menyamai pencapaian buruk Persija pada musim lalu.
Total, dari enam pertandingan yang telah dilalui, Macan Kemayoran hanya meraup lima poin. Posisi 15 jadi konsekuensi rekor buruk Persija tersebut.
Start buruk Persija di awal musim ini jauh berbeda dengan capaian yang mereka alami di musim lalu. Ketika itu, Persija bertengger di peringkat kelima sampai dengan pekan keenam. Sebelum masa kelam menghampiri klub ibu kota pada sepekan berikutnya.
Menghadapi Sriwijaya FC di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang ketika itu belum direnovasi, pertandingan terpaksa dihentikan di tengah jalan akibat kerusuhan penonton. Bahkan, Persija dinyatakan kalah Walk Out (WO) oleh PSSI.
Setelah itu, Macan Kemayoran gagal meraup poin penuh pada 14 pertandingan berikutnya. Berkaca pada hal itu, bukan tidak mungkin Persija mengalami situasi yang sama seperti musim lalu. Namun bedanya, masa kelam Persija dialami pada awal musim. Bukan pada pertengahan hingga akhir kompetisi.
Kondisi internal Persija di musim ini sangat jelas berbeda ketimbang tahun lalu. Macan Kemayoran kini dapat bermain di ‘rumah’ sendiri dengan limpahan dukungan dari suporter, memiliki tempat latihan tetap, mess serta yang terbaru bus anyar. Aspek-aspek tersebut tidak dimiliki Persija dalam beberapa tahun belakangan.
INDOSPORT mencoba menganalisis secara ringan beberapa faktor yang membuat Persija gagal menjalankan masa transisi yang mereka alami sejak musim lalu. Berikut sajiannya kepada pembaca setia.
1. Komposisi Pemain
Komposisi pemain lokal Persija tidak jauh berbeda dibanding musim lalu. Mereka hanya mendapatkan tambahan empat pemain yang berusia lebih dari 23 tahun.
Empat pemain tersebut ialah Rudi Widodo, Sandi Darma Sute, Jefri Kurniawan, dan Arthur Irawan. Dari nama-nama tersebut, hanya Sandi Sute yang rutin bermain sejak awal pertandingan.
Sedangkan di sektor pemain asing, Macan Kemayoran melepas dua nama. Gelandang asal Korea Selatan, Hong Soom-hak dicoret akibat diklaim terbentur masalah regulasi pemain senior.
Sedangkan bomber berdarah Kamerun, Emmanuel Pacho Kenmogne tidak diperpanjang kontraknya lantaran kurang subur. Yang dipertahankan hanyalah Willian Pacheco, bek berpostur jangkung berkewarganegaraan Brasil.
Mengarungi musim baru, tiga legiun asing termasuk marquee player masuk. Mereka ialah Rohit Chand, Luiz Junior, dan Bruno Lopes.
Rekam jejak dua pemain asing anyar Macan Kemayora, kecuali Junior, cukup abu-abu. Rohit pernah mengalami cedera parah sebelum bergabung dengan Persija. Sedangkan Bruno, hanya membela klub kurang terkenal dari Brasil, Ferroviaria.
Khusus untuk Luis Junior, penampilannya bersama Barito Putera di musim lalu cukup tajam. Pesepakbola 27 tahun tersebut sukses mengukir 17 gol meski Barito terpuruk di papan bawah klasemen akhir.
Untuk menutupi kebutuhan regulasi lima pemain U-23, Persija mengontrak delapan pemain muda. Mereka adalah Ryuji Utomo, Rezaldi Hehanusa, Evraim Awes, Muhammad Hargianto, Irfandy Zein, Muhammad Rasul, Pandi Lestaluhu dan Ambrizal Umanailo. Dari sekian banyak nama tersebut, hanya Rezaldi dan Ambrizal yang berstatus pemain Macan Kemayoran sejak musim lalu.
Persija kekurangan pemain U-23 berbakat setelah tiga pemainnya kemungkinan akan dipanggil ke pemusatan latihan Timnas Indonesia U-22. Ryuji, Hargianto, dan terakhir Rezaldi meninggalkan posisi lowong pemain U-23. Apalagi, Pandi Lestaluhu juga asih terbaring akibat cedera. Jadi lah Persija tinggal mengandalkan empat pemain muda.
Dengan berkekuatan 28 pemain di musim ini, Macan Kemayoran sama sekali tidak mendaratkan pemain dengan label kelas 1 pada bursa transfer sebelum kompetisi dimulai. Sudah tahu sangat terpuruk pada pada kompetisi sebelumnya, telah selayaknya terjadi perombakan besar-besaran dalam tubuh skuat Persija musim ini.
2. Pramusim yang Buruk
Persiapan awal musim Macan Kemayoran dikatakan tidak mulus. Mereka terlambat menggelar latihan dibanding kontestan Liga 1 lainnya.
Persija baru menggelar latihan pada akhir Januari lalu. Kurang lebih seminggu setelahnya, mereka sudah langsung mengikuti turnamen Bhayangkara Cup.
Pertandingan uji coba yang dilakoni oleh Ismed Sofyan dan kolega juga kurang menjanjikan dari segi hasil. Dari empat laga latih tanding, Persija menang dua kali masing-masing melawan Persikad Depok (2-0) dan Cilegon United (1-0).
Kemudian dua kali mendapat hasil imbang menghadapi PS TNI (0-0) dan Persita Tangerang (0-0). Tiga dari empat lawan Persija merupakan kontestan Liga 2 atau satu kasta di bawah Macan Kemayoran.
Dua turnamen yang dilalui selama persiapan prakompetisi juga tidak menghasilkan torehan yang memadai. Persija gagal total pada gelaran Piala Presiden 2017 dan Cilacap Cup 2017.
Dalih pelatih Stefano Cugurra Teco pada awal musim ialah memainkan serta merotasi pemain sebanyak-banyaknya. Maka dari itu, juru taktik asal Brasil tersebut tidak terlalu mementingkan pencapaian pramusim.
Sering mendapat hasil negatif pada prakompetisi menjadi sebuah kebiasaan seiring berjalannya kompetisi. Kegagalan dalam mengantisipasi transisi dari dua ajang yang berbeda menjadi penyebab terpuruknya Macan Kemayoran.
3. Strategi Monoton
Dari enam laga awal Liga 1, pernah sekalipun pelatih Stefano Cugurra Teco memainkan formasi selain 4-3-3? Jawabannya, tidak pernah.
Juru racik asal Brasil itu merupakan penyuka berat formasi 4-3-3 menurut situs transfermarkt. Memang benar, dari masa awal persiapan, hingga berlangsungnya kompetisi, sangat jarang mantan arsitek Navy FC dari Liga Thailand tersebut menerapkan formasi berebda.
Jika menilik secara detail, pakem 4-3-3 milik Teco mengandalkan serangan dari sayap. Sebab, tiga gelandang tengah milik Persija kurang kreatif dalam membangun serangan serta mendistribusikan bola ke lini depan.
Sandi Sute dan Rohit Chand merupakan tipe pemain perusak permainan lawan. Sedangkan Irfandy Zein, belum diketahui kualitas yang menonjol dari pemain muda tersebut.
Melebar ke sisi sayap, Persija kerap mengandalkan Ambrizal Umanailo dan Bruno Lopes. Terkadang, bek sayap seperti Ismed Sofyan dan Rezaldi Hehanusa turut ikut menopang lewat tusukannya.
Sewaktu-waktu serangan dari sisi sayap mentok, Persija tidak memiliki pemain tengah dengan daya jelajah tinggi. Tidak ada nama Ramdani Lestaluhu sebagai satu-satunya playmaker yang dimiliki Macan Kemayoran pada enam laga awal. Walaupun sebenarnya, Ramdani merupakan pemain sayap yang bertransformasi sebagai gelandang serang sejak musim lalu.
Dengan komposisi pemain yang ada, Teco pun kelihatan bingung mengembangkan strategi yang diterapkannya. Persija masih melakukan kebiasaan jelek di musim lalu. Umpan-umpan panjang yang kurang efektif masih terus diandalkan kalau serangan yang dibangun mentok di tengah jalan.
Ketiadaan peran playmaker terlihat jelas sebagai kelemahan terkuat Persija di musim ini. Sepeninggal Robertino Pugliara, Macan Kemayoran seperti kehilangan kepingan terpenting dalam sebuah skuat.