x

Abduh Lestaluhu: Bermain Layaknya Pria dan Mimpi Persija

Jumat, 2 Juni 2017 17:43 WIB
Editor:

Tak dapat dipungkiri nama belakang Lestaluhu yang disandang Abduh membuatnya lebih cepat dikenal luas oleh para pencinta sepakbola Indonesia. Publik tentunya tak asing lagi dengan sosok Lestaluhu lainnya, yakni bintang Persija, Ramdani Lestaluhu, yang tak lain merupakan paman Abduh.

Lahir di tengah keluarga yang mencintai sepakbola membuat Abduh yakin dengan jalan hidupnya untuk menggeluti olahraga kulit bundar. Tak serta merta mendapatkan kemudahan berkat saudara-saudaranya, Abduh harus jatuh bangun membuktikan pada dunia jika bakatnya sebagai pesepakbola juga istimewa.

Pemain kelahiran 16 Oktober 1993 tersebut kini dapat berbangga karena di usianya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah mampu mewujudkan mimpinya bergabung bersama klub professional. Selain itu, Abduh juga mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung ke dalam skuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia di ajang Piala AFF 2017 lalu.

Meski disebut-sebut sebagai pemain dengan tempramen tinggi dan tak ragu bermain keras di atas lapangan, namun aksi Abduh akan selalu dirindukan banyak orang. Peran pentingnya turut membawa klubnya, PS TNI kini masih bertengger di klasemen sementara ajang Gojek Traveloka Liga 1.

Walau berseragam PS TNI dan berstatus sebagai tentara, namun Abduh ternyata memendam cinta yang mungkin tak akan habis untuk Persija. Namun cinta tersebut belum dapat berlanjut karena ia menyatakan tak akan dalam waktudekat kembali bersama Persija.

Kepada INDOSPORT, Abduh pun menceritakan bagaimana ia harus berjuang dari desa kecil Tulehu, di Maluku hingga sukses meraih mimpinya sebagai pesepakbola professional. Termasuk rasa cintanya untuk Persija hingga kini.


1. Penerus kejayaan klan Lestaluhu

Abduh Lestaluhu saat mengontrol bola.

Banyak pemain-pemain bernama lestaluhu, bagaimana awal mulanya?

Bukan cuma generasi sekarang, tapi dari generasi-generasi sebelumnya, ada Ibrahim Lestaluhu, mungkin awal mulanya Lestaluhu dari beliau, seorang legenda dari Tulehu, negeri Tulehu, dan mungkin dengan adanya dia membawa Lestaluhu.

Besar di Tulehu sampai kapan hingga pindah ke ibu kota?

Memang saya lahir di Tulehu, tapi pas saya umur 7 tahun sudah pindah ke Ternate, jadi saya lebih menghabiskan masa kecil saya di Ternate, sampai besar juga di Ternate, saat itu kelas 2 SMP saya sempat balik ke Ambon untuk berlatih sepakbola tapi saya berlatih di Ambon itu  tidak lama, mungkin setengah tahun 6-7 bulan berlatih bola di Ambon itu saya kembali lagi ke Ternate. Jadi sampai saya bermain di timnas sampai timnas 19, sampai sekarang saya tetap di Ternate.

Bagaimana akhirnya memutuskan ke Jakarta?

Awal mulanya waktu saya di Ternate, saya ikut turnamen Liga Medco U-15 itu, saat itu saya kirim Maluku Utara lolos ke putaran 12 besar dan bermain di Stadion Tugu Jakarta, pada saat itu saya sempat sebelum babak penyisihan dipantau Iwan Setiawan untuk ikut timnas U-16 saat itu, jadi saya lolos U-15 ke Jakarta.

Terus saya bermain di 12 besar itu tapi kita gagal dan saya langsung dipanggil masuk basecamp ke timnas U-16, lalu disuruh Ramdani ikut seleksi  diklat ragunan, Ramdani sudah mau lulus jadi saya disuruh masuk biar ada regenarasi, jadi pada saat itu saya langsung selesai timnas saya ikut seleksi, alhamdulillah saya lolos dan mulai dari situ saya mulai berkecimpung di ibu kota.


2. Pengorbanan dan masa-masa merantau ke Jakarta

Abduh Lestaluhu

Bagaimana rasa pertama merantau jauh dari Ternate ke ibu kota?

Dari awal saya pikir saya dari keluarga yang bisa dibilang sederhana, saya punya tekad dari kecil menjadi pesepakbola profesional, dari situ saya sudah bermimpi untuk mencari kerja agar bisa membantu orang tua. Saya memang dididik untuk tidak mengeluh dan memang harus karena saya tahu pekerjaan orang tua saya seperti apa. Lalu juga ekonomi seperti apa, mau gak mau biarpun masih kecil usia segitu saya memberanikan diri merantau ke Jakarta.

Dengan usia yang masih sangat muda, sudah sangat niat membantu orang tua dari sepakbola, untuk membahagiakan, saya memang harus keluar dari kampong. Sebagai laki-laki tidak mungkin minta kakak saya yang wanita untuk membantu.

Awal di Jakarta kangen rumah?

Memang awal-awal saya ke Jakarta itu sedih, di usia saya masih kecil tapi sudah harus ke Jakarta. Harusnya masih harus pulang sepakbola main lagi, menetap Jakarta memang ada rasa kangen orangtua, mau gimana lagi sudah niat dari awal, keluar dari kampung harus sukses jadi di betah-betahin saja, kangen tapi kalo kangen biasanya suka menangis terus tadi yang menjadi motivasi saya selalu ingat susahnya orang tua, jadi saya tidak harus balik, harus sukses, jadi saya terus berlatih supaya bisa bantu keluarga.

Keluarga kasih izin?

Pada dasarnya saya dari keluarga sepak bola bang, kakek saya pemain bola, kakaknya beliau itu kakak Ramdani juga pemain bola, sampai ke saya cucu-cucunya juga pemain, masalah sepak bola keluarga sangat-sangat 100 persen mendukung.


3. Cinta Persiter (Ternate) dan Persija Jakarta

Caption

Diincar PS TNI sejak 2012 kenapa baru bergabung di 2015?

Pas saya ditawari masih bermain di Persis Solo di tahun 2012 dan mungkin saat itu kalau pada saat itu bermain bola saya ga punya nama, dan kalua saya keluar dari lembaga pendidikan mau seleksi ke tim lain pasti saya tidak dikenal.

Saya fokus untuk cari aman, kalau punya nama punya prestasi pasti kalo masuk dari TNI dan keluar TNI tim-timlain juga mau nama saya, alhamdulilan saya dipantau Iwan Setiawan 2013 dan dikontrak tiga tahun di Persija, pas 2015 kontrak berakhir sama Persija, kompetisi di banned, saya manfaatkan itu masuk ke PS TNI.

Kepikiran main di Persiter Ternate?

Kecil saya bangga waktu itu sempat bangga ada rahmat Rivai, dipegang Jacksen Thiago pada 2006, oh saya bangga, pokoknya saya ga masuk kelas karena nonton Persiter latihan, nonton di kompetisi Liga Djarum, sekolah saya udah gak bener lagi hahaha gara-gara Persiter, saya bolos gara-gara Persiter, sampai saya kadang-kadang selesai Persiter latihan pagi saya tidur di stadion jam 12 baru saya pulang, ambil sepatu langsung latihan sama ssb.

Kabar Persiter?

Persiter masih ada, lagi berjuang di Liga Nusantara, sudah terbentuk lagi, Pemda juga sudah merenovasi stadion, mungkin lebih diperbesar lagi untuk liga dan syukur-syukur bisa masuk Liga 2.

Kalau peluang  balik ke Persija?

Doakan saja. Saya dari dulu suka sama Persija, senang sama Persija karena saya sejak awal di Persija. Persija yang besarin saya. Mereka buat saya tembus ke timnas U-23. Jadi saya condong ke Persija ketimbang tim lain.


4. Tempramen tinggi dan keras di lapangan

Pemain Persija Jakarta, Abduh Lestaluhu.

Hikmah setelah kejadian di atas lapangan?

(Abduh mendapat sanksi larangan bermain lima laga dan denda Rp10 juta, setelah memukul pemain Bhayangkara FC Thiago Furtuoso dan ia masih absen hingga kini dari ajang Liga 1).

Saya lebih belajar untuk bersabar karena ini permainan sepakbola. Pekerjaan saya di sini, meski saya TNI, saya cari duit di sepakbola. Saya tak mau lagi nodai sportivitas. Saya lebih bisa bersikap dewasa di atas lapangan, untuk prestasi saya juga dan timnas. Bulan Juni juga ada uji coba, saya ingin berubah supaya dipanggil ke timnas lagi.

Ada teguran setelah kejadian itu?

Tidak ada teguran dari instansi. Tapi yang penting kita menang dari Bhayangkara. Kita boleh kalah dari tim lain, tapi tidak dengan Bhayangkara. Tapi tidak boleh terulang lagi, karena ini sepakbola, permainan sportivitas yang kita adu. Jangan diulangi lagi karena itu merugikan tim.

Kenapa suka kepancing emosi di atas lapangan?

Mungkin pertandingan tensi tinggi, gengsi, antara dua instansi. Kita pernah kalah dari Bhayangkara FC di Piala Presiden 2017. Pimpinan semua ada yang nangis waktu itu. Jangan jadikan musuh. Terus kepempimpinan wasit, tapi saya tidak menyalahkan wasit. Saya akui saya salah, khilaf, saya juga sudah lelah, wasit juga kurang sportif.

Kemungkinan tak dipanggil Timnas Indonesia karena perilaku kasar?

Saya belum sempat dengan Luis Milla, tapi sudah dengan Bima Sakti. Dia juga sudah berbicara dengan saya, katanya; Abduh sekarang di Indonesia tinggal Abduh saja. Kalau bisa Abduh lebih sabar lagi, lebih ada pertimbangan uji coba internasional panggil Abduh. Kemungkinan bisa dipanggil timnas. Itu nasihat dari Bima Sakti buat saya.

Itu (sanksi karena perilaku kasar) kejadian terakhir dan pertama untuk saya. Saya lebih belajar lagi, mungkin saya harus bisa tetap tunjukkan uang terbaik di atas lapangan dan sikap yang baik. Kalau tidak, saya tetap berlatih dan belajar, saya tunjukkan kualitas saya.


5. PS TNI cemerlang di Liga 1

Abduh Lestaluhu

Terkejut dengan torehan PS TNI hingga saat ini?

Mungkin kita di sini beberapa pemain timnas U-23 dan Steven Imbiri ditambah pemain asing, bagus untuk bantu, bersaing harus ada pemain asing, kalau tidak sulit dengan adanya pemain asing itu kita berbicara dan juga pemain senior dapat membantu.

Kunci cemerlangnya PS TNI?

Ada kekeluargaan, motivasi kasih yang terbaik untuk PS TNI. Punya semangat juang tak mau kalah, karena kita bisa berbicara. Insha Allah ke depannya dapat hasil-hasil positif.

Soal PS TNI bermain keras?

Sebenarnya tercoreng dengan insiden saya dengan Manahati. Kita tunjukkan militansi karena sepakbola permainan laki-laki. Kalau kita lembek di atas lapangan, kita kalah. Kita tidak kasar, tapi agresif. Tapi pandangan masyarakat berbeda, mungkin dipengaruhi faktor karena kita tim instan. Mereka tidak salah mengkritik kita. Sama seperti tim di Jerman, Leipzig, mereka dikritik malah bagus. Kita jadi semangat lagi dengan hujatan dan kritik-kritik.

Ciri Khas PS TNI?

Militan. Kalau PSMS punya Rap-Rap.

PS TNIAbduh Lestaluhu

Berita Terkini