x

Pertarungan 8 Pelatih di Piala Konfederasi 2017

Sabtu, 17 Juni 2017 14:35 WIB
Editor: Galih Prasetyo
Piala Konfederasi yang dipamerkan di Rusia, tuan rumah event tahunan ini.

17 Juni 2017, kick off laga pertama Piala Konfederasi akan dihelat. Pertandingan pertama mempertemukan tuan rumah, Rusia bertemu jawara dari Osenia, Selandia Baru di Krestovsky Stadium, Saint Petersburg, Rusia. 

Bagi pelatih Rusia, Stanislav Cherchesov yang hadapi pelatih asal Amerika Serikat yang tukangi Selandia Baru, Anthony Hudson kemenangan jadi harga mati. Pasalnya posisinya sebagai pelatih Rusia belum aman betul sampai perhelatan Piala Dunia 2018. 

Baca Juga:

Jadwal Lengkap Siaran Langsung Piala Konfederasi 2017

5 Negara Pantas Dijagokan Juara Piala Konfederasi 2017

Hudson yang merupakan pelatih termuda di ajang ini, tentu tidak dengan mudah akan mau mengalah. Meski di atas kertas, tim yang ia tukangi kalah dibanding skuat Rusia, banyak hal yang bisa terjadi di 2x45 menit. 

Selain dua pelatih di atas, tentu menarik untuk melihat sepak terjang enam pelatih lainnnya. Bagaimana mereka meracik tim dan soal latar belakang, berikut profil 8 pelatih yang berlaga di ajang Piala Konfederasi 2017 untuk pembaca setia INDOSPORT:


1. Stanislav Cherchesov

Timnas Rusia

Pelatih kelahiran Alagir, Rusia, 53 tahun silam ini resmi melatih Timnas Rusia pada Agustus 2016 lalu. Ia ditunjuk setelah sebelumnya melatih banyak klub besar Rusia seperti Dynamo Moscow dan Spartak Moscow. 

Sebagai mantan pemain yang berposisi sebagai kiper, Cherschesov memiliki gaya dan taktik bermain yang tentu berbeda saat Rusia masih ditangan Fabio Capello. Cherchesov acapkali gunakan formasi yang lebih menumpuk pemain di sektor tengah yakni 4-2-3-1, formasi baku yang ia terapkan untuk Timnas Rusia. 

Cherchesov pun lebih mempercayai sejumlah pemain senior untuk jadi tulang punggun Rusia, salah satunya ialah kiper senior Rusia, Igor Akinfeev. Meski sudah berusia 31 tahun, kiper CSKA Moskow ini diprediksi bakal jadi kiper utama Rusia di perhelatan Piala Konfederasi 2017. 


2. Anthony Hudson

Timnas Selandia Baru.

Sama dengan Cherchesov, pelatih di Grup A lainnya, Anthony Hudson juga mantan pemain. Pria kelahiran Washington DC, Amerika Serikat ini dulunya ialah mantan gelandang untuk West Ham United B dan NEC Nijmegen di Liga Belanda. 

Usai memutuskan pensiun dari pemain pada 2008, Hudson langsung memutuskan untuk menjadi pelatih. Tim pertama yang ia besut ialah Real Maryland Monarchs, tim yang berlaga di kasta keempat Liga Amerika Serikat. 

Pada 2011, ia didapuk untuk melatih tim muda Bahrain. Selang empat tahun kemudian, ia mendapat tawran untuk melatih Timnas U-23 Selandai Baru dan tim seniornya. Ditangan Hudson, Selandia Baru sukses menjadi kampium di OFC Nations Cup 2016 setelah di final kalahkan Papua New Guinea lewat babak adu penalti. 


3. Fernando Santos

Fernando Santos (Pelatih Timnas Portugal).

Pada 06 Mei 2017 lalu seperti dikutip dari CNN, Fernando Santos mengkritik cara suporter Portugal mengkritik megabintang mereka, Cristiano Ronaldo. Santos menyebut suporter Portugal tak bisa menghargai pemain andalannya tersebut. 

Wajar memang jika pelatih berusia 62 tahun itu berang, pasalnya Ronaldo ialah elemen penting untuk Timnas Portugal saat jadi juara Euro 2016 lalu. Eks pelatih Sporting Lisbon, AEK Athens, Benfica, PAOK, dan Timnas Yunani ini memang bisa dibilang sebagai pelatih berkarakter, filosofi bermainnya sangat cocok untuk gaya bermain individu-individu yang ada di Timnas Portugal. 

Sebagai pelatih berkarakter, Santos mampu meredam kebintangan Ronaldo yang terlalu berkilau. Bahkan ia mampu memposisikan Ronaldo tidak hanya jadi kapten namun sebagai panutan dan pembawa motivasi untuk pemain lainnya, keahlian yang selama ini tidak dimiliki pelatih Timnas Portugal sebelumnya. 


4. Juan Carlos Osorio

Timnas Meksiko.

Eks gelandang Internacional ini ialah pelatih Timnas Meksiko di perhelatan Piala Konfederasi 2017. Ditunjuk sebagai pelatih Timnas Meksiko sejak 2015 lalu, Osorio melatih Meksiko sebenarnya hanya tinggal melanjutkan skuat emas yang diwarisi oleh pelatih sebelumnya, Ricardo Ferretti. 

Meksiko kala diasih Ferretti sukses meraih gelar Piala Emas Concacaf usai kalahkan musuh bebuyutan mereka Amerika Serikat dengan skor 3-2 pada Oktober 2015 lalu. Skuat yang dibawa Osorio di perhelatan Piala Konfederasi 2017 sendiri tak banyak alami perubahan dengan skuat yang sukses meraih gelar Concacaf. 

Sejumlah pemain andalan seperti Hector Moreno dari AS Roma, Jonathan dos Santos dari Villarreal, Javier Hernandes, serta gelandang serang impresif, Andres Guardado akan jadi andalan untuk Osorio meraih gelar pertama untuk Meksiko. 


5. Hugo Broos

Pemain Kamerun mengangkat pelatihnya asal Belgia, Hugo Broos sebagai penghormatan usai kalahkan Mesir.

Broos ialah pelatih asal Belgia yang tukangi Timnas Kamerun di ajang Piala Konfederasi 2017. Sepak terjang dari pelatih cukup mumpuni. Sebagai pemain, Broos pun terbilang sebagai pemain sukses dan bisa dibilang generasi emas Belgia pada era 80-an. 

Broos sendiri mulai menangani Timnas Kamerun Februari 2016. Tak perlu waktu lama untuk Broos mempersembahkan gelar untuk Singa Afrika itu, pada Februari 2017, ia sukses mempersembahkan gelar kelima Piala Afrika untuk Kamerun. 

Kemampuan Broos meracik para pemain muda Kamerun jadi faktor kunci ia mendulang sukses di sana. Sejumlah pemain muda Kamerun dipercaya sebagai pemain kunci, sebut saja kiper muda mereka Fabrice Ondoa, bek Ambroise Oyongo, serta penyerang andalan mereka berusia 25 tahun, Vincent Aboubakar.


6. Juan Antonio Pizzi

Juan Antonio Pizzi.

Eks striker Barcelona ini ditunjuk jadi pelatih Timnas Chile pada 29 Januari 2016 lalu. Kemampuannya meracik klub Club Leon menurut federasi sepakbola Chile jadi pengganti yang cocok setela mereka ditinggalkan oleh Jorge Sampaoli. 

Sebagai mantan pemain yang berposisi striker, karakter itu yang tercermin dari pola taktik yang diterapkannya di Chile. Benar saja, karakter Chile sangat terlihat menyerang pada ujian pertamanya sebagai pelatih yakni di ajang Copa America Centenario. 

Di babak perempatfinal, Chile sukses hancurkan Meksiko dengan skor telak 7-0. Melaju ke semifinal, Chile sukses hempaskan Kolombia dengan skor dua gol tanpa balas. Di babak final, racikan strategi dari Pizzi sukses memperdaya Argentina dan harus menyerah lewat babak adu penatli. Ini jadi gelar kedua Chile di ajang Copa America. 


7. Ange Postecoglou

Timnas Australia.

Mantan pemain Timnas Australia ini membesut Socceroos sejak 2013 lalu. sebagai pelatih Australia, Postecoglou jadi saksi saat mereka jadi bulan-bulanan di ajang Piala Dunia 2014. Bergabung dengan Chile, Belanda, dan Spanyol, Australia jadi posisi paling buncit. Kemasukan 9 gol jadi catatan buruk Australia. 

Kekalahan pahit itu kemudian dibayar lunas oleh Postecoglou pada ajang Piala Asia 2015. Bertemu Korea Selatan di final, Australia sukses menang 2-1 di laga yang harus dimainkan lewat babak tambahan waktu. 

Di Piala Konfederasi tahun ini, Australia masih bergantung pada salah satu pemain senior mereka, Tim Cahill. Peran eks pemain Everton ini memang cukup krusial di lini tengah Socceroos dan Postecoglou belum mendapat pemain yang cocok untuk menggantinya. 


8. Joachim Loew

Joachim Loew.

Loew sudah melatih Timnas Jerman sejak 2006 lalu. Sebagai penerus dari Jurgen Klinsmann, Loew bisa dibilang sangat sukses. Raihan gelar Piala Dunia 2014 jadi bukti shahih.

Di ajang Piala Konfederasi tahun ini, Loew sepertinya akan kembali menambah koleksi gelar juaranya. Jerman memang salah satu kandidat kuat setelah Portugal untuk bisa jadi juara di Piala Konfederasi 2017. 

Bermaterikan sejumlah pemain muda, Jerman termasuk tim dengan komposisi pemain yang paling komplit. Loew membawa sejumlah pemain muda potensial yang bukan tidak mungkin jadi andalan Jerman di Piala Dunia 2018 seperti kiper Kevin Trapp, gelandang Kerem Demirbay, Timo Werner serta Niklas Suele. 

KamerunChileJermanPortugalJoachim LowPiala KonfederasiFernando SantosStanislav CherchesovAnthony HudsonJuan Carlos OsorioHugo BroosJuan Antonio PizziAnge Postecoglou

Berita Terkini