x

3 Pertandingan Babak 16 Besar Liga 2 Wajib Tonton

Sabtu, 16 September 2017 17:04 WIB
Editor: Gregah Nurikhsani Estuning
Klub Liga 2 Indonesia.

16 klub Liga 2 Indonesia 2017 sudah pastikan langkah mereka di babak 16 besar. Mereka adalah dua tim terbaik dari tiap grup yang telah dilangsungkan sebelumnya.

16 tim tersebut adalah:

Dari 16 peserta yang lolos, telah dibagi menjadi empat grup lagi, di mana tiap grup berisi empat klub yang sudah diundi beberapa waktu lalu. Berikut pembagian grupnya:

Grup A
PSPS Riau
Cilegon United
PSS Sleman
Persis Solo

Grup B
Persita Tangerang
PSMS Medan
PSIS Semarang
Persibat Batang

Baca Juga

Grup C

Persebaya Surabaya
Kalteng Putra
Persigo Semeru FC
PSBS Biak

Grup D
PSMP Mojokerto
Martapura FC
Persiwa Wamena
Madura FC

Kick off babak 16 besar akan berlangsung pada 20 September 2017 mendatang dengan sistem kandang-tandang. Dua klub teratas dari masing-masing grup akan bertemu di babak perempatfinal.

Nantinya, akan ada tiga klub yang bakal promosi ke Liga 1 pada musim depan. Lainnya, tetap bertahan di Liga 2.

Melihat pembagian grup itu, INDOSPORT merangkum setidaknya ada empat pertemuan yang wajib ditonton karena jaminan keseruannya di atas lapangan. Beberapa bahkan terbilang merupakan laga-laga klasik yang mempertemukan dua raksasa saling bertanding.

Berikut ulasannya:


1. PSS Sleman vs Persis Solo

Rudiyana Antarkan Persis Solo Ke Babak 16 Besar.

Berada satu grup di Grup A, pertemuan antara Persis Solo dan PSS Sleman dipastikan bakal menjadi ajang pamer kekuatan. Selain itu, kedua klub juga memiliki suporter yang siap beradu kreativitas.

Persis Solo berhak melaju ke babak 16 besar Liga 2 usai menempati posisi kedua Grup 4 di bawah PSIS Semarang. Dari 14 laga yang telah mereka lakoni, delapan kemenangan berhasil diraih dan hanya satu kekalahan yang mereka derita.

Sebaliknya, PSS Sleman lebih jemawa di Grup 3 karena keluar sebagai juara grup, meninggalkan PSCS Cilacap, PSGC Ciamis, sampai Persijap Jepara. Dibandingkan dengan Persis Solo, menariknya, Super Elang Jawa, julukan PSS, justru lebih banyak mengalami kekalahan, yakni dua kali.

Pertemuan antara dua klub besar di Jawa Tengah dan DIY itu juga disambut dengan berbagai reaksi. Pelatih Persis, Widyantoro misalnya, memilih merendah.

"Penampilan PSS Sleman sejauh ini sangat superior. Mau tidak mau, suka tidak suka, PSS Sleman akan menjadi lawan Persis karena kita berada satu grup. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi lawan yang cukup berat," tegas mantan arsitek PSS Sleman edisi 2011/12 kepada Solopos.com.

Di sisi lain, aroma rivalitas tentu berhembus, namun Wakil Ketua Pasoepati, Ginda Ferachtriawan mengaku senang Persis Solo bisa satu grup dengan PSS Sleman. Pertemuan kedua tim tersebut akan menjadi sangat menarik dan menyuguhkan tontonan yang pastinya memanjakan mata para pecinta sepakbola di Indonesia.

"Rivalitas memang bumbu dalam sepakbola tapi di luar lapangan kita tetap saudara dan kita akan beradu kreativitas bersama dengan suporter PSS baik dari BCS maupun Slemania," ucapnya.

Pertemuan kedua tim tersebut menurutnya juga sebagai ajang silaturahmi antar kedua suporter. Seperti diketahui selama beberapa tahun yang lalu kedua kelompok suporter tidak akur dan saling terlibat dalam pertikaian. 

Namun akhir-akhir ini hubungan kedua kelompok suporter mulai membaik dan pertandingan babak 16 besar ini menjadi momentum untuk semakin merekatkan hubungan antar suporter.


2. Persita Tangerang vs PSMS Medan

Pemain Persita Tangerang saat menjalani latihan sprint.

Persita dan PSMS sejatinya adalah dua klub besar sarat tradisi di persepakbolaan Indonesia. Keduanya sudah sering bentrok sejak lama, entah itu di Liga Bank Mandiri maupun Liga Djarum.

Sayang, dalam beberapa tahun belakangan, performa Viola dan Ayam Kinantan mulai merosot dan mengalami penurunan. Selain itu, tidak jelasnya kompetisi Liga Indonesia pasca dualisme liga dan sanksi dari FIFA membuat PSMS, Persita, dan tim-tim sarat tradisi lainnya terombang-ambing.

Tahun 2017, Persita dan PSMS harus berjuang dari kompetisi kasta kedua, Liga 2 Indonesia. Di babak penyisihan grup, kedua kesebelasan berhasil menunjukkan kekuatan terbaiknya lagi, yang imbasnya membawa mereka ke babak 16 besar.

Tergabung di Grup B bersama PSIS Semarang dan Persibat Batang, partai klasik bakal terjadi kala Persita bersua PSMS. Pertandingan tersebut menggaet memori penikmat sepakbola Indonesia di masa lampau, ketika beberapa pesepakbola terbaik pernah membela masing-masing tim.

Gustavo Chena dan James Koko Lomel misalnya, merupakan dua pemain pernah yang dielu-elukan oleh pendukung PSMS. Keduanya sempat membela Ayam Kinantan selama beberapa musim dan meninggalkan kesan manis di Stadion Teladan Medan.

Tahun 2007 silam, bersama Freddy Muli sang pelatih kepala, PSMS Medan dibawanya menjadi finalis Liga Indonesia XIII. Saat itu, kebintangan PSMS begitu ketara dengan pemain-pemain hebat macam Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Haris Maulana, dan lain sebagainya.

Kini, PSMS mencoba asa kembali ke jajaran klub terbaik di Liga Indonesia. Bersama pemain-pemain seperti Suhandi, Dimas Sumantri dan rekan-rekannya, mereka bakal berupaya semaksimal mungkin kembali ke pentas tertinggi sepakbola Tanah Air.

Persita, di sisi lain, juga punya tekad besar untuk kembali ke habitat terbaik, yakni Liga 1. Dulu, tim asal Tangerang itu merupakan salah satu tim paling ditakuti. Ilham Jaya Kesuma, Zaenal Arif, Egi Melgiansyah, Rio Ramadika, Rizky Pora, Firman Utina, pernah membela panji Persita.

Di barisan pemain asing, pernah ada Franco Hita, Gustavo Ortoz, Esaiah Pello Benson, sampai pemain yang kini menjadi pelatih, Dejan Antonic, sempat menjadi andalan Persita. Satu nama lagi yang tak boleh dilupakan tentunya adalah Cristian 'The Spiderman' Carasco.

Oleh karena itu, laga antara PSMS melawan Persita tak boleh ditinggalkan. Sebab gengsi sebagai tim penuh tradisi dipertaruhkan di partai tersebut.


3. PSMS Medan vs PSIS Semarang

PSIS Semarang sukses benamkan Persiba Bantul dengan skor 5-0.

PSMS vs Persib Bandung boleh jadi merupakan pertandingan yang layak disematkan label El Clasico Indonesia. Sementara label partai klasik PSIS mungkin lebih tepat jika berhadapan dengan Persebaya Surabaya.

Namun demikian, sama seperti PSMS vs Persita misalnya, pertemuan antara dua klub yang masuk dalam kategori klub tertua di Indonesia itu juga tak boleh dikesampingkan begitu saja. Selain memiliki kultur serta sejarah sepakbola yang kental, baik Ayam Kinantan maupun Mahesa Jenar memiliki fanatisme yang mengakar.

Bila di Grup A ada PSS Sleman vs Persis Solo, maka satu pertandingan di Grup B yang tak boleh dilewatkan adalah PSMS Medan kontra PSIS Semarang. Kedua klub, selain kuat secara materi tim, juga memiliki basis suporter yang istimewa.

Bila PSMS Medan memiliki Smeck dan Kampak, maka PSIS Semarang punya Panser Biru dan Snex. Semuanya dikenal loyal dan militan serta kreatif dalam mendukung klub kebanggaannya.

Di sisi lain, sayap PSMS, Zulfikar, menganggap jika PSIS adalah lawan terberatnya di babak 16 besar nanti.

"Semua tim saya rasa bagus semua, karena sudah 16 besar. Kalau dari Grup B, mungkin PSIS yang berat kami hadapi. Mereka tim yang siap dan punya pemain berkualitas apalagi ada mantan pemain Timnas M Ridwan," kata Zulfikar dikutip dari Tribun Medan.

Bak gayung bersambut, pelatih PSIS, Subangkit, juga optimitis bisa membawa klub kebanggaan warga Semarang itu bisa melaju lebih jauh. Apalagi, ia mengklaim bahwa kinerja anak asuhnya di babak grup sebelumnya sudah oke.

"Saya kira evaluasi selama di penyisihan, kinerja mereka cukup bagus. Dari 14 kali main peluang gol juga sering tercipta melalui set piece, kemudian crossing," terangnya disadur dari Tribun Jateng.

"Ya tingal pintar-pintarnya menjaga kondisi saja, serta mengatur ritme latihannya," sambungnya soal persiapan dan evaluasi di babak 16 besar.

Persita TangerangPSS SlemanPSMS MedanPersis SoloPSIS SemarangLiga IndonesiaLiga 2

Berita Terkini